Oke, sedikit produktif pagi ini, di tengah mendungnya Bogor yang mengundang kantuk. Mendung? Oke aku cuma menduga doang, tirai kamar aja belom dibuka, gimana cerita tahu kalo di luar mendung.
Beberapa bulan lalu aku dapat link bagus tulisan tentang cinta gitu, judulnya In between.
Aku jatuh cinta dengan tulisannya, dan satu part yang buat aku terinspirasi nyampah diblog pagi ini adalah:
"Laki-laki yang layak dipilih adalah yang selalu khawatir tidak layak jadi pilihan"
Kalimat ini menggugah pemikiranku, mungkin juga menjadi jawaban kenapa aku masih bertahan menjaga hati untuknya.
Pernah, ada seseorang. Dia baik, bagiku dia tidak cakep, walau kenyataannya banyak orang yang ingin mengenalnya, mungkin kalaupun aku harus memujinya dia itu OKE.
Kalau dilihat dari penampilan mungkin dia paket komplit, ceile di kira bakso. Tinggi, putih, pintar, suka olahraga, bisa main musik, bisa nyanyi, dan blablabla, cukup modal untuk membuat wanita melirik. Termasuk aku. Wuuuuussshhh...
Aku ga perlu usaha buat dia mengenal aku, he is my friend, poin plus buat guweh cuy.
Maaf ya anda-anda harus berusaha lebih keras lagi.
Apa kami jadian? apa kami berkomitmen sesuatu?
Ga
Oke, aku PEDE mengatakan kalo aku ga cantik. Tapi lebih PEDE lagi mengatakan aku ga mau sama dia (biar berasa aku nolak dia gitu). Dia bisa dapetin yang lebih dari aku, tapi aku pastiin dia ga bisa dapetin aku.Bukan karena kurang ganteng, kurang baik, kurang pintar, apalagi kurang kaya. Masalahnya adalah lebih. Dia lebih pede lagi kalo dia itu high quality, ganteng, dan cewe-cewe suka sama dia. That's all.
Padahal ...
"Laki-laki yang layak dipilih adalah yang selalu khawatir tidak layak jadi pilihan"
Bagi kami, khawatir tidak layak jadi pilihan bukan berarti lelaki minder ato hopeless. Itu menunjukkan penghargaan untuk kami, karena kalian menganggap kami spesial.
Tulisan bercetak biru bukanlah kisah nyata penulis ya, cuma ilustrasi dari cerita teman temannya penulis.
Selamat pagi, Jumat barokah ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar