Minggu, 15 Juni 2014

Kalo cintamu begitu penting, begitu juga dengan cinta orang lain

15 Juni 2014

Sebulanan ini aku sedang giatnya menonton film-film Asia, entah apa alasannya aku tak tahu persis. Mungkin karena aku memang menyukainya, mungkin untuk membunuh sepi karena aku serasa pemilik kos sekarang (read: tinggal sendirian), mungkin juga mencari pelarian atas otak yang begitu dikejar-kejar deadline kuliah.

Kata orang film-film Asia itu romantis kebangetan, kataku "hidup ini sudah cukup sulit, jadi tidak papalah menonton sesuatu yang mungkin memang tidak nyata, pangeran romantis nan kaya jatuh hati dengan si miskin biasa-biasa saja"

Hahaha..., tidak tidak, jangan pikir karena aku biasa-biasa saja jadi aku berharap one day ada lelaki cakep, tinggi, berhidung mancung, punya perusahaan gede datang bilang "will you marry me?", sungguh tidak, cukup itu di drama romantis Asia saja.

Satu yang selalu aku cari dari menonton film, aku mencari tertawaku yang lepas tanpa beban, yang kata teman-temanku selera humorku rendah (read: susah tertawa untuk sesuatu yang dibilang orang lucu).

Nah, hari ini aku nonton Drama Korea Flower Boy Next Door. Bukan, bukan mau ngebahas tampang pemainnya, dari segi pemain sih biasa wae, cakep biasa. Film ini penuh nasihat kadang aku back and pause buat mengingat kata-katanya. Satu kalimat yang menarik ketika ... hmmmm.... aku lupa siapa namanya, pokoknya cowok bilang "Kalo cintamu begitu penting, begitu juga dengan cinta orang lain"

"Kalo cintamu begitu penting, begitu juga dengan cinta orang lain"


Ya benar, terkadang sulit sekali bersikap netral kepada orang yang menaruh rasa lebih ke kita, sementara kita murni menganggap teman. Egoisnya bilang, "bisa ga sih kita temenan aja?" ato "kenapa mesti aku?" padahal kalo kita di posisi sebaliknya berharap banget perasaan kita dihargai.

Hari ini, setelah aku tahu betapa spesialnya perasaan berwarna merah jambu ini, betapa galaunya harus memendam rindu, betapa memerahnya muka ketika bertemu, betapa bahagianya melihat dia tertawa bersamaku, betapa hancur ketika perasaan tak berbalas, atau begitu marah ketika hanya jadi korban PHP. Aku mulai belajar berusaha untuk menghargai perasaan orang lain layaknya perasaanku yang ingin dihargai, tersanjung karena perempuan yang bisanya cuma ngomel-ngomel, jutek, ngambekan ini ada juga yang menyukai :). 

Menghargai bukan untuk membalas rasa tapi "Kalo cintaku begitu penting, begitu juga dengan cinta orang lain".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar