Sabtu, 25 Januari 2014

"Mahameru. Bersamamu.", ayooo mendaki denganku, nanti ...

25 Januari 2014

Ditengah deadline review jurnal seabrek2 untuk tugas akhir semester ini aku mencuri waktu ngeblog. Ini tentang sebuah buku yang aku beli di Gramedia Jalan Pemuda waktu aku jalan-jalan ke Semarang dua minggu lalu. Ga sengaja baca ngeliat bukunya, judulnya mengusik hati "Mahameru. Bersamamu."


Mahameru, puncak yang selalu jadi impianku yang belum terwujud, gagal di tahun lalu karena waktu sampai Malang ternyata ditutup. Dan buku ini, menceritakan tentang seorang wanita yang sampai ke Mahameru, tepat 10 hari sebelum perjalananku ke Malang tahun lalu. Ga pikir panjang buat beli, satu karena ini tentang Mahameru, dua karena ini tentang kisah nyata :).

"Mahameru, dinyanyiin Janji Suci-nya Yovie & Nuno sama dia pas sunrise"
Itu harapan Ken. Hihihi, menggelitik.. Ga bisa dipungkiri semua wanita suka hal-hal yang romantis, termasuk aku. Ga boong, terkadang terbesit pikiran waktu berada di tempat terindah atau di tempat yang diimpikan tiba-tiba dilamar orang yang diinginkan. Ahhhh... drama banget ini tapi ya.. Lupakan, kita ke buku ini lagi.

Ken memutuskan melakukan perjalanan mendaki Semeru di akhir tahun 2012. Ini untuk pertama kalinya dia mendaki gunung dan memutuskan bergabung dengan tim yang memiliki tujuan sama, Semeru.
Ken wanita yang telah ditanya-tanya tentang jodoh karena dianggap telah memiliki usia matang untuk menikah tetapi masih bertahan dengan kejombloannya karena belum menemukan yang pas setelah 6 tahun lalu dikhianati pasangannya.
Satu dari anggota tim menarik perhatiannya, Mahardika. Tampan, tinggi, tegap, berkulit coklat terang, berambut hitam yang ditata rapi, matanya hitam dan kecil, bukan laki-laki metroseks yang suka berdandan necis, yang pasti dia menarik. Itu kata Ken tentang Mahardika, bayangkan sendiri.

Kalau tiba saatnya, kita pasti dipertemukan dengan orang yang memang sudah seharusnya bertemu dengan kita” 

Dan rasa itu berbalas.
Di puncak tertinggi Pulau Jawa, Mahardika mengungkapkan isi hatinya kepada wanita yang baru bertemu dengannya 3 hari lalu, bahkan tidak untuk urusan pacaran belaka. Walaupun memang tanpa Janji Suci-nya Yovie & Nuno.
Sesederhana itu ceritanya.
Sungguh sederhana, mungkin jika dijadikan sinetron ini akan menjadi cerita yang biasa saja.
Tapi aku memahami, apa yang menjadi spesial tentang cerita ini.
Aku tahu betul rasa capek tentang mendaki, rasa ingin menyerah karena tidak sanggup, setidaknya aku hampir sama amatirannya sama Ken tentang urusan mendaki.
Tentang Ken yang terus berjuang untuk sampai di Negeri di atas awan itu, dan ketika semua usaha terbalas dengan keindahan di puncak sana dan bonus telah dinanti seseorang di sana, ahhhh, rasanya saya ingin menjadi Ken untuk beberapa saat, merasakan kebahagiannya di Mahameru saat itu.

Membaca cerita ini, mengingatkanku ceritaku tentang Semeru. Tapi beda, aku dan teman-temanku ga sampai Semeru tapi malah melakukan petualangan yang panjang, Petualangan Sembilan.
Membacanya seperti flashback, hiruk pikuk Pasar Senen, suasana di Kereta Matarmaja, ketika pegalnya 18 jam dalam kereta ekonomi, ketika senyum merekah sampai di Malang. I feel it!

Jangan bilang saya bermimpi kisah cinta saya seperti mbak Ken ya. Tidak, mbak Ken punya cerita terbaiknya di Mahameru, aku walau mungkin tak seromantis dilamar di Mahameru, aku percaya ketika nanti sampai waktunya kisahku pasti juga bikin hati ini membuncah, merah merona, dan super deg-degan.
Lagian kalo nunggu dilamar di Mahameru, kapan aku nikahnya kalo belum kesampean2 juga ke Mahameru, hehehe...

Sampai detik ini, Atap Pulau Jawa itu tetap menjadi impianku.
Dan siapapun kamu, nanti temani aku menikmati sunrise di Mahameru sana, walaupun mungkin kamu belum tahu apa itu mendaki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar