Selasa, 14 Januari 2014

Semarang, Done!

Kamis, 09 Januari 2014, akhirnya terwujud juga rencana aku dengan ayukku menyentuh Kota Diponegoro ini.
Alhamdulillah walau ga kayak tahun lalu, minimal Sembilan Januari tahun ini aku tetap move on  dari Bogor (walau ga move on dari kamu, hahahaha), tetap menambah langkah kaki sebelum mati.

Rencana ke Semarang ini sudah lama ada, cuma ya ga jadi-jadi. Alesan ayukku ke Semarang: Melengkapi jalan-jalan ke semua ibukota di Pulau Jawa.
Semarang, memang bukan kota yang waw untuk tempat wisata, tapi aku tetap bersemangat ikut demi menyentuh kota ini (gratis pula) walau UAS tengah menghadang. Kamis siang harusnya aku ada Responsi Analisis Statistika terakhir kali sebelum ujian Seninnya, tapi aku memilih bolos dan berangkat ke Semarang. Nekad bukan :D

Jumat pagi, kami sampai di Stasiun Semarang Tawang, "Selamat pagi, Semarang"


Berhubung check in hotelnya masih jam 12 siang kami memutuskan untuk jalan-jalan dulu. Kemana? ga tau -_-.

Keluar stasiun berniat ke Kota Lama dulu, karena ga tau tempatnya jadi naek becak, kesepakatan sama bapaknya Rp. 20000, dan tau apa? ternyata deket banget.

Di Kota Lama ternyata biasa tempatnya, cuma bangunan tua, katanya sih bagusnya kalau malam.
Terus kami nemu shelter BRT Semarang, dan cukup waktu untuk tahu kalo kepanjangannya adalah Bus Rapid Trans Semarang. Di shelter ada rute BRT, dan kami memutuskan untuk naik bus menuju Ungaran, tempat yang katanya dingin dan bagus di Semarang.

Transit dulu di shelter Balai Kota dan perjalanan menuju Ungaran sekitar 1 jam, melewati kampus Undip loh :D. Turun di Sisemut Ungaran, bingung ngapain. Gunung Ungarannya udah keliatan sih tapi masih jauh kayaknya buat dijamah.

Jalan, ketemu warung nasi rames dan kami makan pertama di sini. Kesan pertama: Manis.
Lanjut ke Alun-alun Ungaran dengan jalan kaki, di sini nemuin yang namanya Lekker.


Unik cara masaknya, pantat telpon dicelupkan ke adonan, lalu dimasak di atas api dengan posisi pantat telpon di atas, tujuannya biar adonan tipis merata. Harganya? cukup Rp.1000 :)

Karena masih penasaran dengan view Gunung Ungaran kami memutuskan untuk naik angkot ke daerah yang lebih tinggi lagi, dan ternyata angkotnya mengantarkan kami ke Pasar Karang Jati. Di tengah perjalanan ngelewatin Pabrik Nissin dan menggingatkan kembali massa 2009 ketika fieldtrip ke Semarang, aku pernah lewat sini :D
Akhirnya kami memutuskan turun lagi dan kembali ke Kota untuk check in  ke Hotel. Belum tahu hotelnya dimana, tapi karena hotelnya ada di Jalan Pemuda jadi aku memutuskan turun di shelter SMA 5 dan abis itu naik taksi ke hotel.
Setelah turun dari BRT, nanya ke petugas yang jaga
Aku: Mas, mau nanya, Hotel Amaris dimana ya?
Petugas: Amaris ... *sambil pasang muka bingung
Aku: Iya, Mas. Amaris Jalan Pemuda katanya
Petugas: Sini mba, tak liatin *sambil jalan dan menunjuk ke atas bangunan
Petugas: Itu bukan toh?
Aku: Oh, iya mas. Hahaha, untung ga langsung naik taksi tadi
Petugas: Aturan tak kon munggah taksi sek, terus midun nek ngarep kui, hahaha
Aku: Suwun geh, Mas

Hahaha, benar ternyata, Hotelnya ada di depanku, benar-benar dekat :)
Masuk hotel, bebersih diri, lalu cari makan siang.
Jalan kaki sepanjang Jalan Pemuda, yang bagus dari kota ini, Pedestriannya gede, sangat nyaman buat pejalan kaki. Sampai Simpang yang ternyata namanya Simpang Tugu Pemuda ternyata ketemu Lawang Sewu, jalan lagi ambil ke arah Pandanaran, nah di sini merupakan pusat oleh-oleh makanan Semarang.

Jalan sampai ke Simpang Lima, dan lumayan jauh. Akhirnya makan di Depan Masjid Baiturrahman, beli Tahu Gimbal, harganya Rp. 12000/ porsi.


Tahu Gimbal
Abis makan, pengen tahu nih apa isi Simpang Lima, jalan muterin Simpang Lima, terus liat kerumunan orang di pinggir jalan, ternyata lagi antri beli pecel. Karena rame jadi kami tertarik membeli dan ikut antri.



Aku dan ayukku sama-sama suka dengan sunset  makanya kami menyempatkan diri ke Pantai Marina, pantai terdekat dari Kota Semarang.
Hahaha, yang beach lover jelas kecewa, ini ga ada mirip-miripnya dengan pantai, ditambah lagi cuaca yang mendung makin ga bagus aja matahari terbenamnya.


Dan kami langsung memutuskan pulang sekitar 10 menit setelah sampai di pantai ini :D.

Malemnya cari makan lagi, memang Semarang ini cocoknya buat wisata kuliner.
Soto Bangkong. Soto ini sama dengan soto ayam umumnya, cuma taburannya adalah bawang putih goreng.
Temen makannya dilengkapi dengan sate-satean dan pastinya manis.
Memang ya yang manis itu punya orang Jawa -_-


Sabtu, 11 Januari 2014
Seharian ini dihabiskan untuk wisata kuliner lagi
Mau ke Masjid Agung Jawa Tengah malah nyampenya ke Masjid Agung Semarang yang deket Pasar Johar, jalan kaki loh dari Hotel Amaris -_-

Lanjut beli lumpia Mbak Lien yang katanya terkenal, kalo aku yang ngenalin lumpia ini akan kubilang lumpia mahal, hahaha, satu potong lumpia ayam harganya Rp.11000, eleh-eleh beli gorengan satu biji mahal amat, tapi ya memang rasanya cukup enak dibanding lumpia dipinggir jalan yang dijual seharga Rp.6000.


Kuliner selanjutnya Nasi Ayam/ Liwet Bu Widodo, namanya nasi ayam isinya ayam semua -_-. Nasi ini dijual malam hari di Simpang Lima, Di jualnya mirip dengan nasi gudeg ala Yogya cuma ini isinya ga ada gudeg tapi diganti sayur labu santan kuning. Tempatnya enak, kita bisa duduk lesehan sambil menikmati malamnya Semarang.


Malam ini berakhir dan kami harus ke stasiun untuk melanjutkan rutinitas. Ditemani hujan aku meninggalkan Kota Semarang.

Lawang Sewu
Tahu bakso yang aku racik sendiri bumbunya jadi tahu bakso kuah
Bandeng duri lunak
Wingko Babat NN Meniko, Wingko pertama dari Semarang
 Dan apa kabar ujianku besoknya? Hahahaha ...

1 komentar:

  1. sebagai orang Jateng malah belum pernah Yung aku niat jalan-jalan gitu di semarang (selain sama kalian dulu itu)

    BalasHapus