Minggu, 09 Februari 2014

Gunung Kapur (7)

08 Januari 2013

Satu part paling menyenangkan waktu ngedaki selain melihat sang jingga adalah terlentang di atas tanah ngeliat ke langit tanpa batas. Ahhh rasanya menenangkan dengan ditemani pantulan cahaya bintang dan pikiran yang berlomba-lomba mengusik sembari menunggu kantuk dengan angin semilir menerpa. Oke, angin kenceng tepatnya malam ini.

Yaaa, tadi malam aku bertandang ke Gunung Kapur lagi. Melepas galau (lagi)? Hahaha, tidak, aku selalu mau kalo diajak kesana, galau atopun ga :)

Walau tadi malam cerah, musim penghujan tetap meninggalkan jejak becek di jalan setapak yang kami lalui.
Berjalan lebih pelan karena tersendat jalan yang licin, dan ini jelas menguntungkan aku, bisa curi-curi napas ketika nungguin yang di belakang jadi ga ngos-ngosan.

Kebahagian sampai puncak bertambah karena ga ada orang lain di atas. Ya iyala, orang aneh macam apa yang musim hujan gini naik ke puncak? Macam kami.
Ritual di atas?  masih tetap sama dengan malam-malam lain ketika ngedaki.
Ga ada yang spesial, tapi ga pernah bosan :)

Pagi menjelang dengan semburat jingga yang malu-malu muncul di balik awan. Kali ini sang jingga ga terlalu indah dibanding yang lalu, selain karena tertutup pekat awan juga karena posisinya yang telah bergeser.
Kami turun sekitar pukul 07:00.
Ntah kenapa sudah dua kali ini Waqif selalu buang air besar setiap hampir sampai di bawah -_-.
Nungguin dia di bawah hutan jati dengan hujan perlahan menyapa, dan jalan menjadi licin.

Buuug...., oke Roman jatuh karena licinnya jalan. Kami tertawa
Buuug...., oke kali ini aku yang jatuh. Hahahaha
Dua sama dengan Roman aku jatuh terpleset, dan membuat yang lain lebih berhati-hati.
Hahaha, pagi ini tertawa lepas, tanpa malu ketika jatuh, tanpa malu ketika diketawain. Seperti anak kecil yang abis becek-becekan, seperti itu kondisi bajuku. Karena berani kotor itu baik :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar