Yaaaaa, semua-semua orang membicarakan tentang harga bawang putih yang naik, terutama media massa yang ga akan ketinggalan tentang liputan hal satu ini.
Entahlah, aku seolah tidak atau sangat jarang sekali tertarik dengan berita di media massa. Bagiku semua isu yang ada di negaraku ini akan berakhir ditelan bumi. Awalnya sangat-sangat heboh, kemudian berujung saling mencari kesalahan, lalu berlalu begitu saja. Semuanya abu-abu, ga tau mana yang benar dan salah.
Aku ga akan sibuk mantengin tivi untuk menyaksikan masalah bawang putih ini. Aku tahunya bawang putih di dekat kosanku minggu lalu mencapai harga Rp. 40000/ kg, aku ga boleh lagi beli eceran, harus ditimbang minimal 1/4 kg.
Aku ga peduli dengan berita yang mengatakan bawang putih menembus angka Rp.100000/ kg, benar atau ga aku hanya percaya dengan apa yang aku alami sendiri. Melihat pemerintah, rakyat, lembaga yang saling mempersalahkan dan melimpahkan pertanggungjawaban atas masalah yang ada membuat aku menjadi orang yang ga mau tahu. Mungkin juga membuat aku kelihatan bodoh karena ga up to date.
Dari kecil, ketika Mama ngomel-ngomel harga sembako naik, aku selalu mendengar Bapak bilang "Nak diapokan lagi, naek yo naek, yang penting kito masih pacak makan" ("Mau diapakan lagi, naik ya naik, yang penting kita masih bisa makan"). Itulah juga yang bikin aku ga terlalu memusingkan harga bawang yang cukup mengganggu ini. Yaaa, walaupun harus aku akui, ini bikin aku males masak karena harga bumbunya jauh lebih mahal dari bahan utamanya.
Bukan ga mau tahu tentang negara ini, tapi keabu-abuan ini lebih baik tidak aku tambahin dengan membuat isu baru ketika membahasnya dengan teman-temanku :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar