Rabu, 29 Januari 2014

Galau seumuran saya

Hidup ini selalu begini siklusnya. Seumuran saya ini ya dilemanya lulus kuliah, kerja, dan pasangan hidup. Coba tanyakan anak SD di luar sana sudah mau nikah belom? Haha, waktu itu sih aku bener2 takut kalo menjadi besar dan harus menikah, apalagi harus memikirkan hamil dan ngurus anak X_x. Sekarang apa ya masih takut :D

Ga jauh jauh dilemanya, yang belom lulus kuliah pusing mikirin kapan penelitian kelar, kapan draft diserahin, kapan draft di acc buat sidang, kapan wisuda, ato dilema gara2 udah deket2 DO. Seraya bergumam, enak ya yg udah pada lulus.
Yang udah lulus, mau kerja dimana? Kerja atau lanjut kuliah? Kapan telpon berbunyi untuk panggilan kerja?. Sambil bilang enak ya yang udah kerja dapet gaji tiap bulan.

Yang udah kerja, beberapa mengeluh capek, deadline, butuh liburan, huaaa.. Kangen kuliah, pengen kuliah lagi aja kalo kayak gini.

Loh loh, kenapa yg masih mahasiswa pengen lulus?, kenapa yg lulus pengen cepet dapat kerja?, kenapa yang kerja pengen kuliah lagi?.
Kenapa tidak dinikmati saja dan bersyukur, karena memang selalu rumput tetangga itu lebih hijau :Dv

Tapi ada satu dilema yang selalu ada tiap waktunya ga kenal mahasiswa, pengangguran, ato pekerja, yup: สิ่งเล็กๆที่เรียกว่ารัก = a little thing called love (kata film romantis dari Thailand :D).
Saya lupa umur berapa mengenal dilema satu ini, setiap kita pasti pernah punya orang yang kita suka (ato mungkin cinta) dengan diam2, dilema yang paling indah ya tentang rasa ini: menyebalkan tapi indah ;-).

Kalo dulu waktu masih sekolah saya cuma tahu suka ya suka doang, pengen pacaran tapi blm boleh sm orang tua :D, jadilah saya bisa menanggapi rasa suka dengan biasa saja.
Kalo umur sekarang suka sama orang udah pada serius, udah pada berharap jadi jodoh, dan ga akan terpisahkan (lupa kalo kita bakal pada mati :)) Jadi inget kata2 Bapak: "Bapak sama Mama yang tiap hari bareng aja pasti bakal berpisah nanti, apalagi kalian yang cuma suka gitu doang, masih temen"

Pasangan hidup menempati galau yang paling rentan di umur2 segini, ditambah lagi sekeliling satu persatu mulai menegakkan janur kuning di depan rumahnya :D, pertanyaan paling sering muncul "aku kapan ya?" Ato "jodohku nanti siapa ya?" Ga usah mengelak, pasti kalian juga terpikirkan kan ya :D

Hidup ini memang runutan peristiwa: bayi, kanak2, sekolah, kuliah, kerja, nikah, punya anak, punya cucu, mati. Begitulah normalnya.
Tidak akan teristimewakan jika sudah terlewati, maka orang2 yang menikmati hidupnya terlebih yang mampu menikmati kegalauannya dengan baik merekalah yang memiliki cerita indah yang pantas diceritakan nanti :).

Saya, hahaha, tidak pernah sebijak kata yang saya pahami, saya masih berusaha menjadi seperti kata2 yang saya pahami, tapi sayangnya hati ini masih terlalu muda untuk mendewasa.
Berapa banyak update status, tweet, dan PM yang sudah saya tulis karena tak sanggup memendam galau sendiri, terutama masalah perasaan. Berharap someone out there mengerti perasaan ini, padahal someone nya boro2 ngerti, orang sibuk mikirin cewek lain :D #hahaha, menyedihkan!
Kalau pun someone nya ngerti n ngerasa, iya kalo memang jodoh, kalo bukan, juga ga guna kan ya, sungguh mengenaskan menjadi saya yang galau seumuruan ini.
Dan mungkin ini tidak hanya dialami oleh saya saja.
Semoga saya dan teman2 yang lain kalo sudah tidak galau nanti mengerti bahwa urusan perasaan ini sejujurnya lebih indah kalau tetap disimpan dalam diam, mencintai dalam diam seperti cinta Fathimah Azzahra kepada Ali bin Abi Thalib.

Yulni, 12 November 2012

Sabtu, 25 Januari 2014

"Mahameru. Bersamamu.", ayooo mendaki denganku, nanti ...

25 Januari 2014

Ditengah deadline review jurnal seabrek2 untuk tugas akhir semester ini aku mencuri waktu ngeblog. Ini tentang sebuah buku yang aku beli di Gramedia Jalan Pemuda waktu aku jalan-jalan ke Semarang dua minggu lalu. Ga sengaja baca ngeliat bukunya, judulnya mengusik hati "Mahameru. Bersamamu."


Mahameru, puncak yang selalu jadi impianku yang belum terwujud, gagal di tahun lalu karena waktu sampai Malang ternyata ditutup. Dan buku ini, menceritakan tentang seorang wanita yang sampai ke Mahameru, tepat 10 hari sebelum perjalananku ke Malang tahun lalu. Ga pikir panjang buat beli, satu karena ini tentang Mahameru, dua karena ini tentang kisah nyata :).

"Mahameru, dinyanyiin Janji Suci-nya Yovie & Nuno sama dia pas sunrise"
Itu harapan Ken. Hihihi, menggelitik.. Ga bisa dipungkiri semua wanita suka hal-hal yang romantis, termasuk aku. Ga boong, terkadang terbesit pikiran waktu berada di tempat terindah atau di tempat yang diimpikan tiba-tiba dilamar orang yang diinginkan. Ahhhh... drama banget ini tapi ya.. Lupakan, kita ke buku ini lagi.

Ken memutuskan melakukan perjalanan mendaki Semeru di akhir tahun 2012. Ini untuk pertama kalinya dia mendaki gunung dan memutuskan bergabung dengan tim yang memiliki tujuan sama, Semeru.
Ken wanita yang telah ditanya-tanya tentang jodoh karena dianggap telah memiliki usia matang untuk menikah tetapi masih bertahan dengan kejombloannya karena belum menemukan yang pas setelah 6 tahun lalu dikhianati pasangannya.
Satu dari anggota tim menarik perhatiannya, Mahardika. Tampan, tinggi, tegap, berkulit coklat terang, berambut hitam yang ditata rapi, matanya hitam dan kecil, bukan laki-laki metroseks yang suka berdandan necis, yang pasti dia menarik. Itu kata Ken tentang Mahardika, bayangkan sendiri.

Kalau tiba saatnya, kita pasti dipertemukan dengan orang yang memang sudah seharusnya bertemu dengan kita” 

Dan rasa itu berbalas.
Di puncak tertinggi Pulau Jawa, Mahardika mengungkapkan isi hatinya kepada wanita yang baru bertemu dengannya 3 hari lalu, bahkan tidak untuk urusan pacaran belaka. Walaupun memang tanpa Janji Suci-nya Yovie & Nuno.
Sesederhana itu ceritanya.
Sungguh sederhana, mungkin jika dijadikan sinetron ini akan menjadi cerita yang biasa saja.
Tapi aku memahami, apa yang menjadi spesial tentang cerita ini.
Aku tahu betul rasa capek tentang mendaki, rasa ingin menyerah karena tidak sanggup, setidaknya aku hampir sama amatirannya sama Ken tentang urusan mendaki.
Tentang Ken yang terus berjuang untuk sampai di Negeri di atas awan itu, dan ketika semua usaha terbalas dengan keindahan di puncak sana dan bonus telah dinanti seseorang di sana, ahhhh, rasanya saya ingin menjadi Ken untuk beberapa saat, merasakan kebahagiannya di Mahameru saat itu.

Membaca cerita ini, mengingatkanku ceritaku tentang Semeru. Tapi beda, aku dan teman-temanku ga sampai Semeru tapi malah melakukan petualangan yang panjang, Petualangan Sembilan.
Membacanya seperti flashback, hiruk pikuk Pasar Senen, suasana di Kereta Matarmaja, ketika pegalnya 18 jam dalam kereta ekonomi, ketika senyum merekah sampai di Malang. I feel it!

Jangan bilang saya bermimpi kisah cinta saya seperti mbak Ken ya. Tidak, mbak Ken punya cerita terbaiknya di Mahameru, aku walau mungkin tak seromantis dilamar di Mahameru, aku percaya ketika nanti sampai waktunya kisahku pasti juga bikin hati ini membuncah, merah merona, dan super deg-degan.
Lagian kalo nunggu dilamar di Mahameru, kapan aku nikahnya kalo belum kesampean2 juga ke Mahameru, hehehe...

Sampai detik ini, Atap Pulau Jawa itu tetap menjadi impianku.
Dan siapapun kamu, nanti temani aku menikmati sunrise di Mahameru sana, walaupun mungkin kamu belum tahu apa itu mendaki.

Selasa, 14 Januari 2014

Ujian Nekad -_-"

Minggu pagi, 12 Januari 2014 sekitar setengah 8 kereta yang aku tumpangi sampai di Pasar Senen.
Aku melanjutkan perjalanan dengan Commuter Line menuju Bogor.
Sampai di Dramaga sekitar jam 11 aku langsung menuju kos temanku, karena kalau pulang ke kos aku pasti langsung mandi dan tidur. Ujian besok oy ujian analisis statistika.

Bukannya belajar malah cerita sana sini, dan akhirnya baru belajar abis magrib: aku, Waqif, dan Wendi.
Belajar? mana ada, aku cuma nanya-nanya catatan Wendi hasil dari responsi waktu aku bolos ke Semarang itu.

Kenapa aku nekad? ga pernah loh sebelumnya gini.
Pertama, ini ujian open all jadi bisa liat apa aja asal jangan liat jawaban temen. Kedua, aku sudah mengantongi nilai yang cukup untuk target A, kalo aku hitung perkiraannya butuh 48 poin lagi untuk dapet A.
Ketiga, ini ujian hitungan, dan aku suka untuk urusan pelajaran yang gini.

Akhirnya ga sampe sejam belajar sama Waqif dan Wendi malah dilanjut sibuk bikin mie goreng sama goreng tahu bakso, makan, lalu pulang ke kosan -_-.

Capek dan terserang flu, abis mandi langsung tidur.
Setengah 4 alarm nyala, tidur lagi.
Setengah 5 alarm nyala, sholat, tidur lagi.
Dan baru melek bener-bener jam setengah 7.
Nyiapin bahan buat dibawa tempur, eh tiba-tiba liat udah 07.02.
Lari ke kamar mandi, tapi ga jadi mandi karena dingin takut flu makin parah dan tadi malem juga baru mandi jam 10 (Nah, sekarang waktu nulis ini aku baru inget aku belom mandi lagi sejak pertama dateng ke kosan x_x)

13 Januari 2014.
UAS (Ujian ketiga) Analisis Statistika tiba.
Soal pertama, tentang rancangan acak lengkap faktorial. Ini soal sama persis dengan soal terakhir di ujian kedua, aku dapet poin 44/46 untuk soal ini. Tapi sekarang, aku diem, bingung, lupa semua nilai dari variabel yang dimaksud X_x.
Setelah lima menitan berkutat dengan kertas-kertas catatan, aku mulai ngebuang ragu untuk mulai ngerjain jawaban.

Soal kedua, tentang regresi sederhana. Aku ngerjainnya persis dengan catatan yang dikasih Wendi. Tahu sih kalo cara itu kurang tepat untuk soal ini, tahu juga cara ngerjain dengan cara lain yang mungkin bener, tapi ntah kenapa ga mau ngerjain dengan bener, males mikir -_-

Soal ketiga, analisis kontingensi. Ini soal sederhana, poinnya juga cuma 12, tapi aku bener-bener ngeraba cara ngerjainnya, karena catetan yang aku punya itu ga ada cara mengerjakannya cuma ada jawaban langsung.
Aku ngeraba-raba rumus, sambil inget-inget apa yang diomongin Waqif dan Wendi semalam. Ini dikurang ini bagi ini? Ininya itu apa -_-.
Oke satu kolom selese, dan kolom selanjutnya menyusul dengan hasil raba-meraba.
Diem lagi gegara liat chi-square table. Derajat bebasnya pake apa? dan untung ingetan tadi malem masih bisa diterawang waktu Wendi ngejelasin.
Oke, done!
Dan semoga hasilnya cukup untuk dapetin nilai A ya Alloh.
Aaamiiin ...

Semarang, Done!

Kamis, 09 Januari 2014, akhirnya terwujud juga rencana aku dengan ayukku menyentuh Kota Diponegoro ini.
Alhamdulillah walau ga kayak tahun lalu, minimal Sembilan Januari tahun ini aku tetap move on  dari Bogor (walau ga move on dari kamu, hahahaha), tetap menambah langkah kaki sebelum mati.

Rencana ke Semarang ini sudah lama ada, cuma ya ga jadi-jadi. Alesan ayukku ke Semarang: Melengkapi jalan-jalan ke semua ibukota di Pulau Jawa.
Semarang, memang bukan kota yang waw untuk tempat wisata, tapi aku tetap bersemangat ikut demi menyentuh kota ini (gratis pula) walau UAS tengah menghadang. Kamis siang harusnya aku ada Responsi Analisis Statistika terakhir kali sebelum ujian Seninnya, tapi aku memilih bolos dan berangkat ke Semarang. Nekad bukan :D

Jumat pagi, kami sampai di Stasiun Semarang Tawang, "Selamat pagi, Semarang"


Berhubung check in hotelnya masih jam 12 siang kami memutuskan untuk jalan-jalan dulu. Kemana? ga tau -_-.

Keluar stasiun berniat ke Kota Lama dulu, karena ga tau tempatnya jadi naek becak, kesepakatan sama bapaknya Rp. 20000, dan tau apa? ternyata deket banget.

Di Kota Lama ternyata biasa tempatnya, cuma bangunan tua, katanya sih bagusnya kalau malam.
Terus kami nemu shelter BRT Semarang, dan cukup waktu untuk tahu kalo kepanjangannya adalah Bus Rapid Trans Semarang. Di shelter ada rute BRT, dan kami memutuskan untuk naik bus menuju Ungaran, tempat yang katanya dingin dan bagus di Semarang.

Transit dulu di shelter Balai Kota dan perjalanan menuju Ungaran sekitar 1 jam, melewati kampus Undip loh :D. Turun di Sisemut Ungaran, bingung ngapain. Gunung Ungarannya udah keliatan sih tapi masih jauh kayaknya buat dijamah.

Jalan, ketemu warung nasi rames dan kami makan pertama di sini. Kesan pertama: Manis.
Lanjut ke Alun-alun Ungaran dengan jalan kaki, di sini nemuin yang namanya Lekker.


Unik cara masaknya, pantat telpon dicelupkan ke adonan, lalu dimasak di atas api dengan posisi pantat telpon di atas, tujuannya biar adonan tipis merata. Harganya? cukup Rp.1000 :)

Karena masih penasaran dengan view Gunung Ungaran kami memutuskan untuk naik angkot ke daerah yang lebih tinggi lagi, dan ternyata angkotnya mengantarkan kami ke Pasar Karang Jati. Di tengah perjalanan ngelewatin Pabrik Nissin dan menggingatkan kembali massa 2009 ketika fieldtrip ke Semarang, aku pernah lewat sini :D
Akhirnya kami memutuskan turun lagi dan kembali ke Kota untuk check in  ke Hotel. Belum tahu hotelnya dimana, tapi karena hotelnya ada di Jalan Pemuda jadi aku memutuskan turun di shelter SMA 5 dan abis itu naik taksi ke hotel.
Setelah turun dari BRT, nanya ke petugas yang jaga
Aku: Mas, mau nanya, Hotel Amaris dimana ya?
Petugas: Amaris ... *sambil pasang muka bingung
Aku: Iya, Mas. Amaris Jalan Pemuda katanya
Petugas: Sini mba, tak liatin *sambil jalan dan menunjuk ke atas bangunan
Petugas: Itu bukan toh?
Aku: Oh, iya mas. Hahaha, untung ga langsung naik taksi tadi
Petugas: Aturan tak kon munggah taksi sek, terus midun nek ngarep kui, hahaha
Aku: Suwun geh, Mas

Hahaha, benar ternyata, Hotelnya ada di depanku, benar-benar dekat :)
Masuk hotel, bebersih diri, lalu cari makan siang.
Jalan kaki sepanjang Jalan Pemuda, yang bagus dari kota ini, Pedestriannya gede, sangat nyaman buat pejalan kaki. Sampai Simpang yang ternyata namanya Simpang Tugu Pemuda ternyata ketemu Lawang Sewu, jalan lagi ambil ke arah Pandanaran, nah di sini merupakan pusat oleh-oleh makanan Semarang.

Jalan sampai ke Simpang Lima, dan lumayan jauh. Akhirnya makan di Depan Masjid Baiturrahman, beli Tahu Gimbal, harganya Rp. 12000/ porsi.


Tahu Gimbal
Abis makan, pengen tahu nih apa isi Simpang Lima, jalan muterin Simpang Lima, terus liat kerumunan orang di pinggir jalan, ternyata lagi antri beli pecel. Karena rame jadi kami tertarik membeli dan ikut antri.



Aku dan ayukku sama-sama suka dengan sunset  makanya kami menyempatkan diri ke Pantai Marina, pantai terdekat dari Kota Semarang.
Hahaha, yang beach lover jelas kecewa, ini ga ada mirip-miripnya dengan pantai, ditambah lagi cuaca yang mendung makin ga bagus aja matahari terbenamnya.


Dan kami langsung memutuskan pulang sekitar 10 menit setelah sampai di pantai ini :D.

Malemnya cari makan lagi, memang Semarang ini cocoknya buat wisata kuliner.
Soto Bangkong. Soto ini sama dengan soto ayam umumnya, cuma taburannya adalah bawang putih goreng.
Temen makannya dilengkapi dengan sate-satean dan pastinya manis.
Memang ya yang manis itu punya orang Jawa -_-


Sabtu, 11 Januari 2014
Seharian ini dihabiskan untuk wisata kuliner lagi
Mau ke Masjid Agung Jawa Tengah malah nyampenya ke Masjid Agung Semarang yang deket Pasar Johar, jalan kaki loh dari Hotel Amaris -_-

Lanjut beli lumpia Mbak Lien yang katanya terkenal, kalo aku yang ngenalin lumpia ini akan kubilang lumpia mahal, hahaha, satu potong lumpia ayam harganya Rp.11000, eleh-eleh beli gorengan satu biji mahal amat, tapi ya memang rasanya cukup enak dibanding lumpia dipinggir jalan yang dijual seharga Rp.6000.


Kuliner selanjutnya Nasi Ayam/ Liwet Bu Widodo, namanya nasi ayam isinya ayam semua -_-. Nasi ini dijual malam hari di Simpang Lima, Di jualnya mirip dengan nasi gudeg ala Yogya cuma ini isinya ga ada gudeg tapi diganti sayur labu santan kuning. Tempatnya enak, kita bisa duduk lesehan sambil menikmati malamnya Semarang.


Malam ini berakhir dan kami harus ke stasiun untuk melanjutkan rutinitas. Ditemani hujan aku meninggalkan Kota Semarang.

Lawang Sewu
Tahu bakso yang aku racik sendiri bumbunya jadi tahu bakso kuah
Bandeng duri lunak
Wingko Babat NN Meniko, Wingko pertama dari Semarang
 Dan apa kabar ujianku besoknya? Hahahaha ...

Kamis, 09 Januari 2014

Jangan mengganggu ya dengan Al Quran nya

09 Januari 2014

Ketika menulis ini aku sedang berada di Kereta Harina rute Bandung - Semarang. Di depanku duduk tiga orang mahasiswa. Menarik salah satunya.
Bukan tampang yang bikin menarik, tapi apa yang dia lakukan.
Pernah dengar orang baca Al Quran? Bikin adem kan ya, tenang ...
Tapi ga yang kurasakan sekarang, jauh lebih adem udara malam ini kayaknya. Aku seneng dengan orang yang rajin baca Al Quran, apalagi yang menyempatkan baca disetiap waktu senggang. Salut, karena aku sadar juga masih susah ngelakuinnya.

Tapi ya agama kita ini selalu punya aturan yang ga akan merugikan orang lain dalam berbuat apapun, apalagi berbuat kebaikan. Membaca Al Quran di tempat umum, di dalam kereta ga selayaknya mengencangkan suara yang mengganggu orang lain.

Atas rasa terdzolimi malam ini, semoga adek yang baca Al Quran malam ini disadarkan untuk mengatur volume suaranya dilain waktu, dan semoga pahalanya tetap mengalir bagi dia yang membaca dan bagi kami yang mendengarkan walau terganggu.
Aaamiiin ...

Astaghfirullohaladzim..

Hai Sembilan


09 Januari 2014

Hai Sembilan, masih inget kami?
Hari ini setahun lalu, kami memilihmu untuk jalan-jalan.

Hai teman-teman, masih inget aku?
Hari ini setahun lalu, kita punya acara yang aku namain Petualangan Sembilan.

Kemarin sore aku ke Alfamart, cuma niat pengen liat ada jual Oishi Sponge atau ga.. Baru masuk disambut dengan lagu ...
"Aku tahu ini semua tak adil 
Aku tahu ini sudah terjadi 
Mau bilang apa aku pun tak sanggup 
Air mata pun tak lagi mau menetes"

Langsung senyum-senyum aku keinget kalian, aku tungguin sampe lagunya selese walau tahu yang aku beli ga ada :D

Keluar Alfamart menuju Alfamidi, di tengah jalan lagu ini bersenandung dari toko komputer.
Hahaha, iya iya aku inget besok itu tanggal 9 :)
 
Jalan-jalan bareng kalian ini yang paling berkesan selama aku hidup, karena paling jauh, paling lama, paling tak terduga, paling capek, paling waw ...

Dan sekarang ternyata udah setahun.
Jadi, kapan kita jalan bareng lagi?
kapan kita bertualang lagi?
kapan kita punya waktu dan uang untuk keliling-keliling lagi?
Susah ya punya moment kayak dulu lagi.

Setahun berlalu, ternyata Eno, Ricky, dan Waqif yang udah ngewujudin alesan kenapa Petualangan Sembilan ada, ya mendaki Semeru.
Mereka pergi di Agustus tahun lalu.

Dan aku, tetap menyimpan mimpi menyentuh gunung tertinggi di Jawa itu.
Semoga akan ada moment yang lebih indah setelah 09 Januari 2013 berlalu.
Yakkk, buka-buka foto-foto lagi >.<
Stasiun Malang, Jawa Timur
Puncak Gunung Bromo, Malang

Puncak Gunung Batok, Malang
Gunung Bromo, Malang
Nusa Dua, Bali
Tanah Lot, Bali
Yogyakarta






Rabu, 08 Januari 2014

Bukit/ Gunung Kapur (6)

06 Desember 2014

Kapur lagi.
Lagi.
Lagi.
Ini ke enam kalinya aku menyentuh Gunung Kapur, eh, ntah gunung ntah bukit masih aja bikin aku bingung, yang jelas tempat ini cukup tinggi. Selain itu tempat ini juga cukup dekat dan murah.

Nah, kali ini juga ga direncanain jauh-jauh hari, cuma aku lagi rindu dengan angin malam, dengan capek, dengan sunrise, juga rindu tidur dengan sleeping bag menatap langit sambil berbincang banyak hal dengan teman-temanku.

Sore ini aku maen ke kos temanku, semua semua mau direncanain di kos yang terkenal dengan slogan "dimana rencana hanya sekedar wacana" dari mau nonton sampe jadinya malah naik Kapur.
Agak mendung sih sore itu, tapi ternyata masih ada semburat jingga sebelum malam.
"Kapur yoook, ga ujan ini kayaknya" Ajak aku ke mereka, dan ternyata hampir semuanya mau.

Oke, janjian jam 10 malam, aku kenal dengan teman-temanku bukan dalam hitungan hari lagi, aku juga tahu mereka ga akan ontime.
Aku milih jalan kaki dari kosan ke BNI, meeting point kami, itu lumayan jauh, aku butuh 20 menit untuk jalan ke sana, santai, berharap mereka sudah ada di BNI waktu aku sampai. Hahaha, tapi itu sih kayaknya memang mimpi :D.

Sepi, untungnya masih ada dua satpam berjaga, aku duduk sendiri di BNI,
Ada wasap masuk
Eno: "Ini jadi kan??, kok anak2 pada tidur??"
Aku: "Ini gw udah di BNI loh" mulai bete
Eno: "Oke, kita berangkat"
Aku: "Gw pulang"
Eno: "Zzz"

Hahaha, ga aku cuma menggertak supaya mereka bisa lebih cepet karena itu sudah jam setengah 11 malem, tapi ga jadi gertak setelah baca wasap lagi
Eno: "Nesting udah ada kan??"
Eno: "Yg punya Ricky"
Eno: "Yunk"
Eno: "Serius Yunk, kalo ga ada gw yg bawa"

Itu Eno wasap sampe jam 22.43, artinya mereka masih di kosan. Katanya tadi berangkat???
Ga kubales, satu karena aku udah bilang "oke" untuk bawa nesting, dua karena mereka belom berangkat. Udah belom berangkat, jalan kaki pula berangkatnya -_-

Aku putusin nunggu sampe 23.00, ga dateng aku pulang lagi.
22.50 ada yang ngasih tau kalo mereka berangkat. Hahaha, kita liat cukup ga waktu 10 menit untuk sampe BNI.

23.00, ragu sih buat pulang lagi, karena tahu mereka bakal dateng, tapi janji tetap janji, bukankah janji ke diri sendiri yang paling susah buat ditepatin?.
Aku beranjak dari BNI dan jalan kaki lagi pulang ke kosan, masih berharap ada yang manggil dan langsung berangkat, hahahaha, tapi ternyata udah jauh jalanpun ga ada yang manggil.

23.10 Eno wasap
Eno: "Kok gak ada di BNI Yunk??"

23.11 Kinan telpon
Kinan: Yunk kita udah di BNI nih, lw dimana?
Aku: Balebak
Kinan: Wih masih di Balebak?
Aku: ...
Kinan: Lw balik lagi ya?
Aku: Iya
Kinan: Oke, tunggu di kosan ya kita ke kos lw sekarang
Aku: Ga usah Nan berangkat aja, gapapa kok, gw udah capek bolak balik jalan kaki
Kinan: Oke kita ke sana...
Aku: Ga ...
Tut... tut... tut

Sms Kinan: Kami otw kosan. Lets goooo

Wasap Eno: Kami nyamperin ke kosanmu Yunk. Semuanya

Bales Eno: Ga usah, kalian sampe kosan gw jam setengah 12. Gw aja baru banget sampe kosan. Gw cm menepati janji buat balik lg kalo udah jam 11.

Hahaha, ini drama bukan sih? Beginilah aku, paling ga suka dengan yang namanya telat. Tapi aku tetap punya toleransi buat teman-temanku. Tapi juga bukan lagi toleransi kali ya kalau terlalu lama, satu jam cukuplah untuk ngasih toleransi. Alesan telatnya itu loh yang sebenernya ga oke, tidur dan dota.. Zzzzzz

Intinya itu bukan keselnya, tapi ini tentang menghargai sesama. Memberi pelajaran dan semoga setelah ini mereka lebih menghargai banget waktu, juga sentilan buat aku juga.

Aku update status: Ketemu Alloh aja ga ontime, apalagi ketemu gue!

Sebenernya sepanjang jalan itu aku mikir, gini rasanya kesel janjian ketemu orang tapi ga ontime, dan bisa-bisanya aku ketemu Alloh lewat sholat ga selalu ontime, ga nyadar diri, padahal Alloh ga butuh kita, padahal Alloh yang punya kita X_x

Jadi ato ga kami ke Kapur?

...

Jadi.
Gimana ga, setengah 12 malem disamperin enam orang.
Bete sendiri aja udah ga enak, ga mungkin ikut bikin bete mereka juga karena udah jauh-jauh ke kosan.
Sebenernya sih salut karena mereka nyamperin ke kosan, satu jempol buat usahanya.

Oke berangkat. Anggie, Arif, Eno, Kinan, Ricky, Waqif, dan Aku.
Jalan yang masih sama, capek yang masih sama, tapi tetap ga pernah bikin bosen nyatu dengan alam.
Sampe, gelar karpet, ambil posisi, bikin minum, masak mie, maen poker, dan berbincang-bincang.
Topik hangat kali ini tentang pasangan. Hahaha, sepertinya memang sudah seharusnya dan selalu jadi obrolan.

Malam ini hujan turun, tapi ga mengganggu

Dan ini salam sang mentari di pagi 07 Januari 2014:












 



Dan yang ini, aku, merekam pagi ini lewat foto:
 

Satu lagi, ini kami. Aku dan mereka, Teknik Pertanian 44 IPB 



Kamis, 02 Januari 2014

Cewek Jutek

02 Januari 2014

Siang itu, Kamis minggu kedua (atau ketiga ya) aku menjadi mahasiswa pascasarjana, aku berdiri di salah satu sudut mengamati sekitarku yang masih belum aku kenal. Mataku menangkap sesosok cewek berjilbab hijau tosca cukup gede yang berdiri di depanku, sebut saja namanya Bunga. Kesan pertama: JUTEK. Dalam hati: Edan nih cewek mukanya jutek banget, sudi banget nyapa duluan.

Dan sekarang, dia menjadi salah satu teman yang cukup bersahabat denganku. Entah kenapa, tapi mungkin aku tersadar bahwa aku dan dia, sama. Sama-sama jutek, hahaha.
Jutek, kata ini ga ada di KBBI, namun kata ini biasa digunakan sehari-hari untuk menggambarkan orang yang gak bersahabat, unfriendly, susah senyum, orang jadi segan kalo mau ngomong, keliatan muram wajahnya.
Temenku pernah bilang "Yung, dulu waktu pertama gw belom kenal lu, sumpah ya muka lu jutek banget, malesin gila", sama kayak aku ngeliat Bunga, entah kesel liat muka juteknya, entah merasa tersaingi kejutekannya, hahaha..

Tapi sejujurnya, cewek jutek itu ...
Kata Bunga "sebenarnya cewek jutek itu cenderung lebih sensitif dari yg lain, dia peka akan sekitarnya.. Liat aja kita sering baca novel, itu menunjukan kita selalu mengasah kepekaan kita lewat untaian kata2,,, pokoke sebenarnya lembut banget,, cuman anehnya org kayak kita itu malah mengekspresikannya berlawanan dg yg dilakukan org biasa, menutupi apa yg sbnrnya telah kita ketahui,, biar org lain ga berputar2 pd sesuatu hal yg itu2 aja..yha ingin mengingatkan org lain dan diri sendiri unt belajar realistis gitu lihat kenyataan yg ada #itu berdsrkan pengamatan ku lho"

Ngerti? aku aja yang jutek rada bingung, hahahaha
Intinya cewek jutek itu sensitif, lembut banget hatinya, cuma ekspresi yang diberikan berlawanan karena untuk menutupi sifat aslinya dalam rangka memprotect diri.

Menurut aku ya, cewek jutek itu terlihat: susah didekati, sombong, cuek, ga peduli dengan sekitar. Tapi sebenarnya cewek jutek itu berlawanan dengan apa yang terlihat. 
Susah didekati? cewek jutek terlalu mudah untuk bersikap baik dengan orang sekitar, jadi untuk terhindar dimanfaatin dia memilih jutek sampai akhirnya dia tahu dengan siapa sebenarnya  berinteraksi.
Sombong? Ini hanya ekspresi untuk mendukung image susah didekati, karena sejujurnya dia ga pernah tahu apa yang seharusnya disombongin.
Cuek? Ga peduli dengan sekitar? Hahaha, bohong banget ini. Cewek jutek itu malah cenderung lebih dulu tahu tentang perubahan sekitar dibanding yang lain, karena dia senang sekali mengamati sekitar, ya dan sensitifitasnya cukup tinggi. 

Cewek jutek berpura-pura? sungguh jutek itu cuma ekspresi biar ga mudah didekatin, terutama dengan orang yang belum dikenal. 
Dan demi apa, kami juga ingin bisa tersenyum lepas ketika bertemu semua orang, tapi susah, susah!