Aku menamai perjalanan ini dengan Petualangan
Sembilan. Awalnya lima dari sembilan ini yang memang telah kenal selama 4.5
tahun karena berasal dari program studi yang sama (Teknik Pertanian) memutuskan
mendaki Semeru 09 Januari 2013. Lima itu adalah Aku, Waqif, Ricky, Iqbal, dan
Eno.
Di tengah persiapan H-3, Ihsan (teman satu kos
Ricky) dengan SKSDnya memutuskan untuk ikut. SKSD San, SKSD :p. Besoknya,
bertambah lagi Roman, Saleh, dan Aden yang entah darimana mereka mendapatkan
makhluk-makhluk ini.
Ihsan, setidaknya aku pernah liat beberapa kali.
Roman dan Saleh selama 5 tahun aku di
IPB ga pernah tau kalo mereka ada, tapi okelah masih anak IPB, dan Aden yang
awalnya kami kira adeknya Waqif yang mau ikut adalah ternyata temannya Roman
dan bukan anak IPB (UPI), ga ada yang kenal kecuali Roman. OK perjalanan ini
lengkaplah sudah, mempersatukan kami dengan teman temannya teman. Tidak
masalah, yang penting rame.
Persiapan yang tidak bisa dibilang sempurna, tapi
tidak juga mengurungkan niat kami untuk tetap pergi. 08 Januari 2013 kabar dari
Surya Online membuat aku kecewa sangat, Pendakian Semeru ditutup. Cari info
saat itu juga, dan ternyata Semeru masih normal dibuka yang membuat kami
kembali bersemangat.
09 Januari 2013,
Petualangan dimulai dengan segala kendala kecil yang
bikin cemas tapi seru. Hujan dari pagi, Ricky si lelaki tanpa persiapan yang
selalu bikin orang nungguin dia: baru mau beli carrier pas sekalian berangkat,
waktu yang sedikit mepet, dan aku: manusia paling cemas-an yang paling ga suka
dengan hal yang terburu-buru.
10 Januari 2013,
18 Jam menuju Malang, ga terasa walau naik kereta
Ekonomi, ditemani lontong pecel dan nasi pecel kami sampai di stasiun Malang.
Selamat pagi Malang, hangat Mataharimu ternyata ga
sehangat kabar yang kami dapat pagi ini: Semeru fix ditutup kemarin malam, 09
Januari 2013.
Ini Malang, kami sudah terlalu jauh dari Bogor.
Dengan tambahan dua orang pendaki yang kami kenal di Stasiun Malang, kami
memutuskan menuju Pasar Tumpang.
Dan akhirnya beristirahat di rumah Pak Ruseno,
Agen yang menyediakan transportasi menuju Semeru. Keluarga ini benar-benar
hangat, sederhana, ramah, benar-benar keluarga idaman.
Kami menyempatkan berkeliling sekitar
pasar Tumpang, ada Candi Jago di dekat rumah pak Ruseno.
Di sini akhirnya aku
menemukan tahu tek-tek, tahu yang sudah masuk daftar belanja untuk masuk
dapurku, tapi belum sempat dibuat karena belum dapat petis udangnya. Rasanya,
ternyata not so good di lidahku, tapi
masih layaklah buat dimakan (y).
Sore hari dengan begitu banyak alternatif pilihan,
tersebut gunung Arjuna, gunung Bromo, gunung Lawu, Pulau Sempu, gunung Merapi,
gunung Argapura. Kami memutuskan memilih Bromo agar kami tetap berformasi sembilan
dan berpisah dengan dua pendaki lain yang memilih ke Lawu.
Sepanjang jalan dengan menggunakan Jeep karena sudah
kesorean, hujan, dan berkabut aku cuma bisa dzikir ngeliat jalan terbentang,
kiri jurang tanpa pembatas, kanan tebing, dan pandangan ke depan sangat-sangat
terbatas. Dan untuk pertama kalinya aku suka dengan panasnya mesin mobil, jadi
hangat di tengah dinginnya suhu menuju gunung Bromo dan delapan temanku tentu
pasti kedinginan di bak belakang :D
Cemoro Lawang, Malam hari. Langsung mencari tempat
datar untuk mendirikan tenda, sementara aku, Waqif, dan Roman membeli air untuk
masak karena tidak ada persediaan air di sekitar. Bukan hanya membeli air, kami
bertiga memesan makan juga (egois ya :D) gule kambing dan soto ayam. Di tengah
makan mereka nelpon katanya pindah karena angin terlalu kencang untuk
mendirikan tenda.
Akhirnya kami bermalam di pinggir Mushola, aseeeem
adem tenan rek.
Jam setengah dua pagi bangunin mereka ga ada yang bangun -_-,
ya udah aku tidur lagi juga. Jam dua bangunin Waqif dan ngerapihin peralatan
masak tadi malam. Jam tiga udah melek semua kecuali Ricky dan Eno, alesannya
badai dan ga mungkin berangkat untuk liat sunrise
di pananjakan. Akhirnya kami berangkat selepas subuh dengan syarat ga ada yang
boleh ngeluh. Dan kalian tahu siapa yang paling lama ngerapihin barang-barang?
Yup, Ricky.
11 Januari 2013,
Kami memutuskan menuju Bromo karena kondisi kabut ga
memungkinkan ngeliat sunrise dari
pananjakan. Orang lain ya pake Jeep
sampe kaki gunung Bromo, kami jalan kaki dengan carrier di punggung. Itu lumayan loh turun dari Cemoro Lawang ke
kaki Gunung Bromo, dari lumayan jadi
lumanyun. Tapi inget, ga boleh NGELUH!
Hujan pun ga mau ngelewati moment bersama kami. Kami melewati Pura Luhur Poten bertemu dengan umat Hindu yang akan beribadah pagi itu. Mereka tidak hanya dari Malang,
ada yang dari Lumajang, Probolinggo dan kabupaten sekitar.
Dari kaki Gunung Bromo ada dua pilihan untuk sampai
ke puncak Bromo: jalan kaki atau sewa kuda, tapi tetap aja ke puncaknya harus jalan
kaki, kuda hanya mengantar sampai batas tangga menuju puncak. Di tengah
perjalanan ada tenda kecil yang menjual makanan dan minuman, isi perut dan
ternyata boleh titip barang. Yeay, beban terasa hilang seketika :D.
Semakin tinggi, semakin indah panoramanya.
Masyaalloh ciptaanMu, ya Alloh. Sampai puncak, langsung batuk-batuk, belerang
dimana-mana. Nah, di puncak Bromo pada ketinggian 2392 mdpl ini kami dapat
melihat kawah Bromo yang masih aktif dan juga hamparan kaldera (lautan pasir)
seluas 10 km persegi. Akhirnya menyentuhkan kaki juga ke tempat syuting
Tendangan dari Langit.
Turun dari Bromo kami tergoda menyaksikan keindahan
Bromo dari sisi lain, gunung Batok dengan ketinggian 2440 mdpl yang berada di
sebelah gunung Bromo. Masih dengan carrier
yang ditinggal, kami mendaki gunung Batok saat itu juga. Maaaaaak, hampir mirip gunung Kapur (Ciampea), ga jauh pendakiannya tapi terjal, tapi di sini ga ada
pohon untuk pegangan, cuma ngandalin rumput.
Sampai tertatih coba buat sampai puncak, capek berhenti,
capek minta minum (dengan persediaan air minim dan lupa juga bawa minuman
ber-ion :(). Special thanks to Eno,
Ricky, dan Ihsan yang bergantian ngekorin aku buat sampai puncak.
Masyaalloh, indahnya kebangetan ini tempat, capek
mendaki tadi kemana? Udah lupa tuh. Bener kata bapak penjual makanan tadi, bisa
maen bola di puncak ini. Puncak gunung Batok ini datar dan berpasir, di tengah gunung Batok ini terdapat tempat menaruh sajen suku Tengger.
Kita sempatkan bikin minum, dan ga masak makanan karena persediaan air yang sangat sedikit. Lalu mengelilingi puncaknya untuk berfoto dan kembali turun.
Kita sempatkan bikin minum, dan ga masak makanan karena persediaan air yang sangat sedikit. Lalu mengelilingi puncaknya untuk berfoto dan kembali turun.
Wait...., itu beneran jalan yang harus aku lewati? curam
sekali, kalo tadi mendaki liat ke atas bisa pegangan apapun, kalo turun liat ke
bawah serasa aja bakal jatoh, tanpa ada pegangan, tergelincir langsung
guling-guling ini. Akhirnya aku memilih untuk main perosotan selama turun
gunung sampai ketemu jalan yang sedikit landai. Dan Roman dengan santainya
loncat loncatan kayak kelinci selama perjalanan, ini orang ga takut tergelincir
apa ya?.
Setengah perjalanan terlewati, dan engsel kaki ini
serasa mau copot. Kalo boleh milih berharap sisa perjalanan ini tanjakan aja,
bukan turunan. Pelan, pelan, sampai juga di bawah, yeay, Batok Mountain, Completed!
Abis kotor-kotoran waktunya mandi, di dekat parkiran
kaki Bromo ada kamar mandi (toilet) umum. Kata bapaknya airnya agak hangat tapi
tiba-tiba Ihsan teriak dengan lantang, dikira ya ada apa, ternyata
kedinginan. Sumpah aseli, airnya macam air es.
Selamat tinggal Bromo, ah rasanya ga mau ninggalin
Bromo, bukan karena keindahannya, tapi ngeliat jalan terbentang di atas yang
sangat tinggi dan jauh. Ya Alloh, apa iya sanggup sampai ke Cemoro Lawang
dengan kondisi kaki abis naik-turun dua gunung tadi. Kalo boleh egois aku mau
ngojek aja gapapa bayar Rp.30000, tapi rasanya udah bareng-bareng sejak awal,
jadi ga boleh sendiri-sendiri, lagian GA BOLEH NGELUH!. Perlahan dan capek,
ternyata sampai juga (ah, aku ga selemah itu ternyata :D).
Petualangan Sembilan berlanjut ke Probolinggo,
bermalam di rumah kakak Waqif untuk selanjutnya menuju Pantai Papuma di Jember.
Terlalu dini untuk pulang, terlalu jauh untuk sekedar menyentuh Bromo, dan
bersembilan sepakat untuk menyusuri indahnya timur Jawa.
Kota Probolinggo, Malam hari. Huwaw, perubahan suhu
yang sangat signifikan dari dinginnya Bromo ke panasnya Probolinggo, geraaaaah.
Di sini awal dari lagu perjalanan kami, lagi duduk santai di depan rumah ada
pengamen lewat dan nyanyiin lagu sandiwara cinta dari Repvblik.
12 Januari 2013,
Setengah
lima pagi setelah sholat subuh, aku langsung mandi biar ga rebutan sama mereka.
Eh ternyata, mereka ngerencanain berangkat jam 09.00, keburu gerah lagi urang
mah.
Alhamdulillah
bangetnya, udah dikasih tumpangan gratis dikasih makan juga :D, ini sepanjang
jalan kayaknya dimudahin sama Alloh.
Di
tengah persiapan melanjutkan petualangan, lewat obrolan dengan Masnya Waqif
sebagian mulai tertarik pindah haluan dari Pantai Papuma, Jember menuju Bali.
Dengan isi dompet pas-pasan aku mengiyakan asal cost bisa ditekan seminim-minimnya.
Jam
10 lewat kita berangkat menuju Terminal Probolinggo setelah membereskan semua
barang bawaan. Siapa yang paling lama beberes? Ya, kalian benar lagi: Ricky!.
Nah buat para traveller, jangan mau
dicalo-in ya, cari dulu tiket langsung tanpa perantara, bedanya jauh, sampai
dua kali lipat harga normal.
Akhirnya
kita berangkat menuju Ketapang dengan bus ekonomi tujuan Banyuwangi, perjalanan
kita tempuh sekitar empat jam dengan ditemani pemandangan gunung dan laut,
serta yang ga ketinggalan Sandiwara Cinta di Terminal Situbondo oleh musisi
jalanan, et dah, nih lagu lagi hits apa ya.
Sampai Pelabuhan Ketapang lari-larian ngejar kapal Ferry yang diem, ini salah satu bagian
yang seru, kaki yang engselnya serasa mau copot ini makin berat karena di mobil
kakinya ga digunain dan carrier di
punggung yang setia ga mau copot dengan badan ini -_-.
Yeay setelah pakai kaki, mobil, bus, kereta, dan
sekarang kapal sebagai transportasinya. Perjalanannya ga terasa, ditemani suara
Roman yang nyanyi lagu Ku Tak Bisa di stage.
Huwaw, Serasa mimpi, ini Bali, pulau Bali. Aku ga
pernah bayangin ke Bali dengan cara kayak gini. Rencana ke Bali pertama kali
sama Kakakku Maret ini, kenyataannya aku ke Bali dengan delapan temanku yang
dipersatukan dalam Petualangan Sembilan ini. Amazing...!!!
Welcome Gilimanuk, sedikit
tersendat waktu pemeriksaan KTP, gara-gara KTP Eno ga ditandatangani dan KTP
Roman yang sudah expired. Melanjutkan
perjalanan, dengan mobil colt menuju
Ubung, Denpasar. Di tengah perjalanan (Negare) Ihsan dan Saleh turun untuk
menjemput teman Saleh, Bang Andi yang selanjutnya akan menjadi orang yang mempermudah
perjalanan ini.
13 Januari 2013,
Terminal Ubung – Denpasar.
Kami baru sadar kalo waktu yang kami gunakan bukan
WIB lagi, tapi WITA :D.
Aku jalan menuju WC, ada lelaki yang duduk di depan
WC ngajak ngobrol, dan aku sambut baik tapi aku ga tau dia ngomong apa, lalu
aku berlalu masuk WC (wait, aku baru
inget berhutang ke Roman untuk bayar WC).
Aku balik lagi ke rombongan, lah ada lagi lelaki
depan WC tadi, tapi kok serem sekarang, minta-minta dan maksa, what? ternyata dia penderita ayan,
untung dia ga macem-macem di WC tadi. Aku langsung mendekat
ke yang laen, dasar Waqif sial bukannya jagain aku ya malah pergi waktu
penderita ayannya mendekat dan untuk yang satu ini thanks to Ihsan yang mendekat waktu lelaki itu datang.
Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Sanur, rencana awal
untuk ke pantai yang bisa untuk ngecamp
dibatalkan karena terlalu jauh dan sudah terlalu malam.
Di pinggir Pantai Sanur, sholat Isya jamak Taqhir
Maghrib, ada yang beda di sini. Aku merasa minoritas di tanah Bali ini (tanpa bermaksud
SARA), sedikit takut untuk sholat di pinggir pantai tanpa Mushola apalagi umat
Hindu sedang melaksanakan Saraswati di pantai ini. Ini pertama kalinya aku
berada di daerah dengan Islam minoritas, ga ngebayangin waktu kejadian Bom Bali
pasti ketegangan antaragama sangat terasa.
Bertiga dengan Ricky dan Eno menanti pagi dengan
bercengkrama di sebelah mereka yang tertidur pulas (baru nyadar ternyata kostum
kita bertiga sewarna: hitam).
Sebenernya pengen tidur juga tapi sleeping bagku sudah jadi hak milik
bersama, ya sudah akhirnya dengerin Ricky dengan
Eno ribut tentang power bank,
sekarang udah nemu fakta yang bener tentang power
bank nya kawan?
Semakin pagi semakin banyak masyarakat Bali yang
berdatangan melakukan Saraswati, mandi di pantai dan aku menikmati keramaian
ini.
Aku selalu suka pantai, ada ketenangan tersendiri saat duduk menikmati hamparan laut terbentang, nyaman apalagi kalo beruntung ngeliat sunset.
Aku selalu suka pantai, ada ketenangan tersendiri saat duduk menikmati hamparan laut terbentang, nyaman apalagi kalo beruntung ngeliat sunset.
Setelah mereka puas mandi di pantai, kami lanjut
makan, ternyata makan di pantai Sanur murah, dan serba ikan laut, nasi + pepes ikan + goreng ikan
kecil + sayur Rp. 7000.
Kita lanjut perjalanan menuju pantai Nusa Dua,
Petualang Sembilan terbagi menjadi dua
kelompok, mengingat Avanza bang Andi cuma muat diisi lima orang + carrier kami, jadi sisanya harus naik Trans
Sarbagita. Kami yang nebeng mobil Bang Andi (Aku, Ihsan, Roman, dan Saleh)
sampai duluan di pantai Nusa Dua. Subhanalloh, aurat dimana-mana ya Alloh,
saingan masuk neraka semakin ketat -_-. Aku malu, bukan karena
penampilan aku yang beda sendiri (tertutup dari kepala sampai kaki) di tengah
lautan wanita yang berbikini ria. Malu karena sebagai wanita aku merasa
direndahkan oleh wanita sendiri, mereka seolah-olah menelanjangi aku,
menunjukkan bagaimana tubuhku lewat tubuh mereka.
Pantai Nusa Dua ini indah, ya memang bagi aku
bule-bule mengurangi keindahannya, tapi panasnya ga nyangka bikin gosong pake
belang.
Ok, perjalanan dilanjutkan menuju Tanah Lot. Berkat
kebaikan bang Andi kami dapat pinjaman satu mobil + sopir yang baik, mbak Putri
dan suami, yihaaaa... kami cuma perlu membayar uang bensin :D. Sampai di Tanah Lot, disambut
hujan deras tapi untungnya cuma sebentar. Keliling-keliling, foto-foto, lalu
bergegas pindah ke Kuta untuk liat sunset.
Tapi di tengah jalan ternyata mampir dulu ke Khrisna, pusat oleh-oleh Bali. Ga punya duit mau beli oleh-oleh, tapi tetep aja aku belanja, naluri emang yaaa.
Tapi di tengah jalan ternyata mampir dulu ke Khrisna, pusat oleh-oleh Bali. Ga punya duit mau beli oleh-oleh, tapi tetep aja aku belanja, naluri emang yaaa.
Capcus Pantai Kuta ngelewati Legian yang
sering muncul di FTV-FTV itu, dan ternyata ga keburu liat sunsetnya. Bermalam di pantai Kuta, ditemani air laut yang semakin
malam semakin pasang kami menghabiskan malam dengan bermain kartu dengan
hukuman dipoles bedak di muka, kecuali Ricky dan Saleh yang tertidur beberapa
meter dari kami. Aku? sibuk dengan pasir yang ga pernah berbentuk, dan
tiba-tiba Ihsan teriak air tanpa do
something, jadilah pasang pantai menyapu tempat kami berkumpul, semua
basah, termasuk hape aku yang sampai sekarang efeknya masih berbekas: lemot,
lampunya kedap-kedip mulu, suara jadi gember -_-.
Air semakin malam semakin pasang,
kejahilan pun ikut-ikutan pasang, kami berniat ngerjain Ricky dan Saleh biar
kaget terkena air pasang. Beruntungnya mereka berdua ini ya tidur di tempat
yang agak tinggi jadi air pasangnya susah banget nyentuh mereka. Hampir aja
mereka dibangunin ibu-ibu yang lagi menikmati pantai Kuta juga. Saleh ternyata
kebangun, tinggallah Ricky yang masih pulas dininabobokan angin pantai. Ga
sabaran, jadi kaki Ricky disiram Eno dengan air, terus teriak “Ky, ombak Ky,
Ombak”. Ricky yang kaget langsung buru-buru lari, dan ya “mission, completed”
hahaha..
Lalu aku, Waqif, Aden, dan Iqbal ke toilet
untuk wudhu, aku paksain mandi sih walau udah malem karena udah dua hari ga
mandi, maaf ya nunggu lama teman-teman. Balik ke rombongan, kok ga nemu-nemu
ya, bolak balik ternyata mereka udah
tenang tidur mentok sampai ke tembok dekat jalan, entah Alloh sepertinya selalu
berbaik hati dalam perjalanan ini, semua dimudahkan, termasuk malam ini, kami
tidur di pinggir pantai beratap langit tanpa hujan. Paginya Roman
marah-marah, kesel ga dibangunin jam 12 malam sama Ricky, rencananya mereka mau
jalan ke Legian. Padahal aku belum tidur jam segitu, tapi aku ga tau kalo dia
minta bangunin. Emang ga diijinin kayaknya sama Alloh, soalnya kata temenku malamnya
Legian itu “mengerikan”.
14 Januari 2013,
Selamat pagi Kuta, aku memutuskan berjalan di
pinggir pantai menghabiskan pagi. Beberapa orang mandi, beberapa berselancar,
beberapa lari pagi, beberapa jalan pagi kayak aku, bedanya dia sama suaminya,
romantis.
Jalan berbalik arah, ga kerasa nyampe lagi
dirombongan dan ternyata bang Andi udah balik. Sebelum berpisah dengan Kuta mereka bermain
dengan air lagi, menyewa dua papan selancar (katanya hemat?). Ihsan dan Eno
pertama kali mencoba berselancar, bukan bukan, bukan berselancar tapi berenang memeluk papan
selancar (y). Kami sebagai penonton di pantai sangat menikmati mentertawakan
mereka (padahal sama tidak bisanya :D).Setelah ga berhasil untuk menaklukkan
papan selancar, gantian Roman dan Saleh yang mencoba. Ricky bilang “Roman nih
bisa, jago dia”. Akhirnya ada juga diantara kami yang bisa berselancar kayak
Bli-bli Bali di pantai sana yang keren bisa naklukin ombak dengan papan
selancarnya. Sibuk mentertawakan mereka, tiba-tiba Roman melambaikan tangan, ternyata
eh ternyata dia kecapekan dan sudah cukup jauh dari pantai. Panik, jujur
takut tapi bukan aku kalo keliatan panik tetep stay cool duduk di tempat tapi ga pake ketawa lagi. Waqif sama
Ihsan yang sibuk minta bantuan, ketakutanku sedikit mereda gara-gara liat Saleh
yang masih asik berenang, jadi mikir “oh, ini bukan sesuatu yang harus
dikhawatirkan ternyata”. Roman sampai ke tepi pantai dengan bantuan mas-mas
pemilik papan selancar. Utuh 100%, dengan dada dan perut memerah akibat
bergesekan dengan papan selancar. Dan
kami, apalagi selain mentertawakannya. Hahahaha...
Time to say
good bye to Bali,
Kami berjalan dari Kuta menuju Legian sekitar 11.30 WITA. Panas ya ternyatah
dan jauh, di tengah Legian istirahat sebentar, ngeliat tempat sholat. Mampir dulu untuk sholat, benar-benar harus
disebut tempat sholat, bukan mushola atopun masjid, hanya tempat datar bagian
dari tangga bangunan pertokoan. Dan harus memaklumi, ini Bali bukan Bogor, yang penting bisa sholat.
Lanjut naik Taxi
menuju terminal Ubung, di sini kami tinggal berdelapan, Saleh harus naik pesawat
menuju Jakarta karena sudah terlalu lama meliburkan diri dari pekerjaannya. Sampai
di terminal, beuh, akhirnya merasakan juga jadi artis, dikerubungi banyak
orang, bedanya ini kita dikerubungi calo, sumpah ini terminal termenakutkan
yang pernah aku datengin. Apalagi kami datang rame-rame dan bawa tas gede-gede,
dikira mau perjalanan jauh. Untungnya semua barang udah benar-benar dikemas
rapih dan dipegang masing-masing jadi ga berceceran dan ga bisa seenaknya
ditarik-tarik calo. Tetep aja Waqif yang terlalu protektif sampai-sampai
rebutan tas, eh ternyata rebutannya dengan Ihsan :D. Dan sebelum berangkat kami
melihat lagi lelaki penderita ayan yang kami temui beberapa hari lalu, saat itu
yang ada di otak aku “oh, orang itu ada di sini juga, ngikut bus kali ya biar
sampai di sini”, dan ternyata ini terminal yang sama waktu aku ketemu dia
pertama kali -_- (baru tahu)
Buat yang mau berpergian via Terminal Ubung ini
harus benar-benar hati-hati ya, pastikan bus apa yang mau dinaiki dan ga usah
berbicara apapun, langsung naik bus yang dituju biar terhindar dari calo ini.
Kami aja yang udah naik bus masih dipaksa untuk membayar tiket Rp.5000 lebih
mahal dari seharusnya. Untung ada tujuh ganteng ini kalo ga pasti sudah
kurelakan dengan cepat nasib di tangan calo :nyengir.
Pelabuhan Gilimanuk, malam hari menuju pulau Jawa. Bali
serasa mimpi ini berakhir hari ini. Rada
kesel dengan tas yang basah semua, kehujanan di atas bus tanpa pelindung. Baru
ganti rok terus ganti lagi, tau gitu ga usah ganti, errggggh...
15 Januari 2013
Bangun pagi-pagi beli tiket menuju Yogya, ga berniat
jalan-jalan ke Yogya sih, cuma berhubung tiket Surabaya – Jakarta habis, jadi
kita milih ke Yogya dengan harapan kalopun ga dapat tiket kereta menuju Jakarta
setidaknya kita lebih dekat dengan Jakarta daripada kalo kita di Surabaya. Dan
huwaw, ternyata perjalanannya cukup panjang 13.5 jam, tapi dengan mereka
perjalanan bisa dinikmati. Ini manusia bilangnya ga punya uang, tapi apa-apa
yang lewat dibeli: keripik pisang, kerupuk kentang, salak, nangka, nasi pecel,
nasi kuning, pisang, kacang, kedawung, untung ga punya duit buat beli yang
jualnya juga -_-
Surabaya, kami berpisah dengan Waqif di sini, dia
turun untuk melanjutkan perjalanan menuju kampung halamannya, Lamongan.
Selamat malam Yogya berhati nyaman. Alloh mempertemukan
kita kali ini tanpa rencana sedikitpun dariku. Ini tahun ketiga kita bertemu di
Januari, dan Januari kali ini benar-benar spesial dalam Petualangan Sembilan, unpredictable journey. Ada Yogya, selalu
ada sahabat, tetangga, juga teman dari SD satu ini, Umi Sholihah. Numpang mandi
juga menjarah bajunya karena aku kehabisan harta benda jiwa raga, #halah.
Malam ini kami habiskan sedikit mengelilingi Yogya
sebelum melanjutkan perjalanan besok hari. Tugu Yogya, Kopi Jos, 0 km Yogya, dan
Alun-alun Kidul (selatan) kami singgahi.
Tugu Yogya yang merupakan Tugu di tengah-tengah
jalan raya ini dikira Ihsan tempat nongkrong biasa, dan dia kaget waktu diklakson mobil, untung ga ditabrak -_-.
Jalan menuju kopi Joss untuk ngisi perut, satu yang selalu ga
ketinggalan kalo ke angkringan: susu jahe :9. Ini makan termahal selama
perjalanan kayaknya, hampir Rp.20000 abisnya, biasanya kan ga nyampe Rp.10000.
Ngelewati Malioboro yang sepi, beberapa kedai yang
buka di pinggir jalan, dan sampai ke 0 km Yogya. Ini tempat adalah tempat yang
ga pernah tidur, selalu ramai, terutama saat malam mulai menyapa, anak-anak muda selalu menjadikan tempat ini
tongkrongan, sekedar ngobrol sampai hunting
poto.
Lanjut ke Alkid, nah di sini mereka menjajal untuk
melewati beringin kembar yang konon KATANYA kalo bisa ngelewati doanya bakal
terkabul. Aku sih malas, udah pernah gagal soalnya -_-, becek pula di tengah
beringinnya.
“Ah lebar gitu kok”, celetuk Eno dan Ihsan, talk less do more ya ganteng. Waktu
nyoba, Eno dan Ihsan gagal, nyoba lagi gagal lagi, nyoba lagi gagal lagi, cuma
Aden yang lurus-lurus aja ngelewatinya. Tapi ya tapi, Ihsan Ricky nyoba berdua
yang awalnya Ihsan ke kanan, Ricky ke kiri bersatu jadi bisa ngelewati beringin
kembar itu, kok bisa ya? :bingung, so
sweet ngets.
Sudah terlalu larut dan serius itu di motor nahan
kantuk banget, untung ga jatoh. Bermalam di basecamp
Biolaska UIN Yogya.
16 Januari 2013,
Akhirnya jadi juga ke Jakarta dengan Kereta Jam 16.10 dianterin anak-anak Biolaska UIN Yogya.
calonya kebangetan, harga Rp.35000 jadi Rp.100000. Mbook ya jangan kebangetan kalo ambil untung, masak lebih dari 100% untungnya, kebangetan lagi sebenarnya yang mau beli tiketnya sih ya -_-. Duduknya mencar lagi, tapi kita tetap ngumpul dan akhirnya bisa duduk satu tempat, minta tukeran dengan penumpang lain. Kami tinggal berenam sekarang, Aden berangkat sejam setelah kami dengan kereta tujuan Bandung.
calonya kebangetan, harga Rp.35000 jadi Rp.100000. Mbook ya jangan kebangetan kalo ambil untung, masak lebih dari 100% untungnya, kebangetan lagi sebenarnya yang mau beli tiketnya sih ya -_-. Duduknya mencar lagi, tapi kita tetap ngumpul dan akhirnya bisa duduk satu tempat, minta tukeran dengan penumpang lain. Kami tinggal berenam sekarang, Aden berangkat sejam setelah kami dengan kereta tujuan Bandung.
Sudah tenang-tenang duduk, ngeliat Ihsan ngeluarin
tiket dan KTP jadi mikir KTPku tadi ditaroh dimana abis pemeriksaan. Belom
pegang dompet, ga ngerasa masukin apapun juga ke tas, panik (tapi tetep
berusaha tenang) nyari keluar kereta siapa tau ketinggalan ato jatoh, sampe
Ihsan balik ke meja pemeriksaan, ibu-ibu penjual nasi pun ikut-ikut kepo. Balik
lagi ke kursi dan ternyata KTPku di Ricky. Dasar siaaaal!!!!!
Karena malam, perjalanan ini lebih banyak diabisin
buat tidur, dan ini serius demi apapun terlalu sempit. Eno Ricky ngalah buat
tidur di bawah kursi, jadilah kaki bisa selonjoran :D. Tapi ternyata Ricky ga
betah dan digantiin Iqbal.
17 Januari 2013,
Pasar Senen , Dini hari. Sempat selisih pendapat
dengan Ricky gara-gara dia mau langsung naik minibus dan angkot untuk ke Bogor,
sedangkan kita lebih milih untuk nunggu kereta menuju Bogor jam 06 pagi ini.
Tapi tiba-tiba hujan deras, dan Ricky kembali ke rombongan. Kereta baru datang
sekitar setengah tujuh, sampe Kemayoran, balik lagi ke Pasar Senen, dan
dianterin ke Jatinegara. Ealah, bukannya makin deket malah makin jauh ini. Hari
ini, ternyata banjir besar-besaran terjadi di Jakarta, jadilah kami harus terjebak
di stasiun berjam-jam. Baru mau jajan, ternyata di jalur sebrang ada kereta
menuju Manggarai. Okeh, jajan batal, kita lanjut perjalanan. Manggarai lanjut
Depok, Depok lanjut Bogor, dan kita sampai Bogor jam satu siang, perjalanan
yang lama ternyata -_-. Sewa angkot menuju kosan, terpaksa harus mampir ke
Bandhitos dulu gara-gara kunci kosan ada di sana. Sambutan dari mereka: kami
“putihan”.
Ini adalah akhir dari petualangan yang unpredictable ini, tapi aku harap bukan
perjalanan terakhir kami bersembilan, apalagi perjalanan terakhir untuk
melihat indahnya kehidupan dari sisi lain. Dua hari aku habiskan untuk istirahat
total, pegal sekali.
Ada yang berubah dari aku setelah pulang dari
perjalanan ini,
Ok, list
negatifnya:
1.
Males
mandi, sehari satu hari.
2.
Makan
jadi un-controlled, apa aja diembat,
biasanya ga pernah ngemil lagi sekarang masak pernah sehari ngabisin 200g
keripik pisang (aaaaaahhhhh, parah ini), asupan nasi bertambah 2 kali lipat
setiap makan, biasanya sehari makan pake nasi sekali cukup sekarang harus 3
kali, tiap hari tiada hari tanpa gorengan -_-. Rasanya itu kayak orang nguli
semingguan dan sekarang balas dendam makannya, padahal selama perjalanan
makanan berkecukupan dan terkontrol.
3.
Ibadah
keganggu: sholat yang biasa tepat waktu jadi agak males-malesan gara2
keseringan dijamak. Baca Al Quran juga gitu: sudah bisa tiap sholat lagi tapi
porsinya jadi berkurang, target kali ini ga akan tercapai ini :’(. Shaum senin
kamis pun sudah terlewatkan tiga kali. Harus berjuang kembali ini!!!
4.
Siklus
menstruasi pun ikut-ikutan bermasalah, baru tanggal delapan sebelum berangkat
selese, ini udah dapet lagi. Ini pertama kalinya selama hidup sebulan dua kali
menstruasi, benar-benar kecapekan kayaknya. Sebelum otw Tangerang sih ngerasa
perut rada mules-mules halangan, tapi dengan pede bilang ga mungkin, ternyata
memang benar kalimat klasik ini ”Ga ada yang ga mungkin kalau Alloh bilang iya”.
Positif dan yang bisa kudapat:
1.
Jadi
hemat baju, biasa sehari dua kali ganti
baju, sekarang jadi lebih menghargai baju bersih, asal ga bau tetep aja
dipakai. Ini bibi cuci pasti cinta sama aku, kata Eno “baju kering itu, layak
pakai”
2.
New spirit for my life, berasa masalah yang ada
sebelum berangkat itu jadi bukan apa-apa. Ada perasaan baru dihidup yang buat
hidup jadi lebih santai.
3.
Hal
yang direncanakan, sesempurna apapun tetap Alloh yang kuasa memutuskannya.
Jangan ngeluh, terima aja pasti akan ada gantinya. Lihat betapa kecewa waktu ga
jadi liat Ranu Kumbolo yang indahnya kebangetan dan puncak tertinggi Mahameru
yang rasa-rasa ada kebanggaan tersendiri sampai di sana. Semua ternyata toh
digantikan dengan perjalanan menyenangkan yang unpredictable ini. Mungkin akan ada hal yang mengerikan didepan
sana kalau kami jadi mendaki Semeru, sampai-sampai harus Semeru ditutup kurang
dari 24 jam sebelum kami mendaki. Kata Ihsan ‘jangan menantang alam, nikmati
perjalanan dengan tadabbur”.
4.
Jangan
nilai orang kalo kamu ga kenal sama sekali. Bener kata temenku, perjalanan
bareng itu membuat kamu tahu siapa teman kamu. Bertahun-tahun kenal, kalo
bertemu sehari cuma beberapa jam ga bikin kamu tahu siapa dia, tapi kalo
bareng-bareng 24 jam, kamu akan tahu personality
dari teman kamu dari hal sepele sampai detil.
5.
Takdir
Alloh, sedetik dari sekarang ga akan ada yang tahu, aku mana tahu kalo 12
Januari 2013 hari pertamaku menginjakkan Bali, aku mana tahu ke Bali bersama
delapan temanku ini dalam moment ini,
aku mana tahu kalo Januari ini melihat Yogya lagi. Tapi Alloh pasti tahu, dan
rencananya pasti yang terbaik dan terindah.
6.
Kalo
bersama itu semua jadi menyenangkan: perjalanan serasa sebentar, tidur dimana
aja ok, makan apa aja juga ok, dan hemat ;-)
7.
Jadilah
backpacker, dan temukan sisi lain
dari dunia yang menyenangkan ini.
8.
Jiwa
ngebolang aku bangkit lagi, pernah naik bus sendirian dari Bogor sampai Jambi
biar ngerasain mandiri tanpa orang dikenal, pernah juga ngelilingi Bandung waktu
benar-benar buta Bandung karena belum pernah sama sekali ke sana: cuma
ngandelin angkot, sudah sampai di terminal akhir – turun naik lagi angkot
jurusan sama, hal hasil nyasar di Cibaduyut, angkotnya ga balik lagi, untung
selamat sampai tujuan :D. Sekarang jadi tertarik ngebolang ke seluruh Indonesia.
9.
Nah
berhubung sudah banyak positif dari negatifnya, berarti perjalanan ini berdampak
positif (+)
Kurangnya dari perjalanan ini, ga ngerasain tidur di
tenda, ga ngerasain minimnya ada makanan: lapar langsung beli, padahal udah
bawa beras dari Pasar Tumpang, gas udah bawa lima tabung yang kepake cuma dua
dan itupun ga abis (kurang prihatin memang) jadi ketahanmalangannya ga terlalu
dapet :D
Petualangan ini selesai. Sedih? Bukan semacam sedih sih, tapi ada sesuatu yang hilang, kebayang kan mau makan ngeliat muka mereka, mau BAB ngeliat muka mereka, mau tidur ngeliat muka mereka, mau sholat ngeliat muka mereka, sehari 24 jam bareng mereka semingguan ini, dan sekarang apa, kalian menghilang, 0 x 24 jam bersama kalian. Ketemu satu-satupun ga bakal kerasa lengkap. Kangen kata-kata yang menemani perjalanan kita: “sumpah ya, mulut lu bau banget!”, “Enak ya? Mau nambah?”, "Selepet", "Egois, ya". Satu lagi don’t call me Missrem!! Aku ga rempong kok, serius -_-.
Sekarang aku terduduk di sini, menyelesaikan tulisan
ini, tidak bagus mungkin cara penulisannya, aku cuma mau flashback kenangan bersama delapan teman hebatku ini. Ya, actually aku kangen kalian, merindukan
kebersamaan yang lalu, sampe kebawa mimpi malah. Kalo boleh memilih aku ingin
tetap berada dalam perjalanan petualangan sembilan ini, tapi hidup ini
kenyataan yang penuh tanggung jawab. Mari kembali ke dunia nyata, kanjutkan
hidup kawan.
Buat Ihsan, Eno, Waqif selamat mencari kerja, semoga
dipertemukan dengan yang terbaik!. Oh ya, Waqif kan mau S2 ya.
Buat Ricky, Iqbal semangat buat penelitiannya, cepet
selese! Aku bantuin kalo butuh bantuan.
Buat Saleh selamat bekerja!
Buat Roman selamat revisi, cepat kelar, jangan sampe
ngulang sidang!
Buat
Aden (eh, aku ga tau dia sekarang ngapain) sukses dah!
Maaf
ya Waqif, Ihsan, Ricky, Saleh, Iqbal yang selalu aku titip-titipin kepala sapi,
peralatan mandi, dompet, kacamata, sepatu, sandal. Lain kali bakal dikompres
deh bawaannya biar muat satu carrier.
Terimakasih
atas perjalanan yang unpredictable
ini, petualangan sembilan: sembilan hati, sembilan hari, start ditanggal
sembilan. You will be in my heart
({}). Dari dinginnya gunung yang bikin bibir perih ke panasnya pantai yang
bikin muka gosong, dari tempat 2440 mdpl ke 0 mdpl.
Bromo, Backpacker, Bali, Malang, Yogya, Gunung, Pantai, seperti keywords dalam skripsi yang akan selalu memunculkan nama kalian diingatan.
Bromo, Backpacker, Bali, Malang, Yogya, Gunung, Pantai, seperti keywords dalam skripsi yang akan selalu memunculkan nama kalian diingatan.



















love it!!!!
BalasHapusLove the moment with you all <3
Hapuspuanjang bo...ceritanyee
BalasHapushehe, inipun masih banyak yg kelewat Rul :D
HapusKereeenn.... (y)
BalasHapusAyooo ajak aku lebih mengenal timurnya Jawa
Hapusmaaaakk, patut diacungi jempol backpackeran kau tri. Gimana kagak ujung-ujung ke bali euy. mantap.
BalasHapuspaling keren nya lagi bisa ngebuat saya jadi ngiri. -_-. haha.
(y) (y)
Yoi dong, hayo hayo kita jalan-jalan :D
HapusAjak aku ke Lombok donk :3
BalasHapus