Jumat, 11 Juli 2014

Juli!



Singkut - Jambi, 01 Juli 2014

Jika hujan melekat di Juni Sapadi Djoko Damono, Juli-ku datang dengan diawali pertambahan umur.
Sahur pertama di Juli ini diawali ucapan doa orang-orang terdekat, Alhamdulillah kali ini Ramadhan penuh di rumah.
Pukul tiga dini hari 25 tahun silam, 01 Juli 1989 aku  melihat dunia.
Hari ini, seperti biasa, tidak banyak yang mengucapkan karena aku memang tidak berniat memajang ulang tahunku, terutama di media sosial.
Karena begini aku tahu, siapa aku. Lagian males banget dikasih ucapan “HBD” di timeline fesbuk, kalo diucapain via sms ato whatsapp  minimal ada embel-embel doanya :D.

Kali ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, top prayer nya “semoga cepat dilamar”.
Hehehe, you know you’re old, ketika doa semoga panjang umur jadi semoga cepet dilamar.
Oke, 25! Memang umur yang cukup untuk dibilang “tua”. Semoga doa kalian teman-teman terdekat dikabulkan Alloh supaya tahun depan top prayer nya ganti, momongan mungkin :)

Happy July, semoga bulan ini awal untuk memperbaiki diri :)

Minggu, 15 Juni 2014

Kalo cintamu begitu penting, begitu juga dengan cinta orang lain

15 Juni 2014

Sebulanan ini aku sedang giatnya menonton film-film Asia, entah apa alasannya aku tak tahu persis. Mungkin karena aku memang menyukainya, mungkin untuk membunuh sepi karena aku serasa pemilik kos sekarang (read: tinggal sendirian), mungkin juga mencari pelarian atas otak yang begitu dikejar-kejar deadline kuliah.

Kata orang film-film Asia itu romantis kebangetan, kataku "hidup ini sudah cukup sulit, jadi tidak papalah menonton sesuatu yang mungkin memang tidak nyata, pangeran romantis nan kaya jatuh hati dengan si miskin biasa-biasa saja"

Hahaha..., tidak tidak, jangan pikir karena aku biasa-biasa saja jadi aku berharap one day ada lelaki cakep, tinggi, berhidung mancung, punya perusahaan gede datang bilang "will you marry me?", sungguh tidak, cukup itu di drama romantis Asia saja.

Satu yang selalu aku cari dari menonton film, aku mencari tertawaku yang lepas tanpa beban, yang kata teman-temanku selera humorku rendah (read: susah tertawa untuk sesuatu yang dibilang orang lucu).

Nah, hari ini aku nonton Drama Korea Flower Boy Next Door. Bukan, bukan mau ngebahas tampang pemainnya, dari segi pemain sih biasa wae, cakep biasa. Film ini penuh nasihat kadang aku back and pause buat mengingat kata-katanya. Satu kalimat yang menarik ketika ... hmmmm.... aku lupa siapa namanya, pokoknya cowok bilang "Kalo cintamu begitu penting, begitu juga dengan cinta orang lain"

"Kalo cintamu begitu penting, begitu juga dengan cinta orang lain"


Ya benar, terkadang sulit sekali bersikap netral kepada orang yang menaruh rasa lebih ke kita, sementara kita murni menganggap teman. Egoisnya bilang, "bisa ga sih kita temenan aja?" ato "kenapa mesti aku?" padahal kalo kita di posisi sebaliknya berharap banget perasaan kita dihargai.

Hari ini, setelah aku tahu betapa spesialnya perasaan berwarna merah jambu ini, betapa galaunya harus memendam rindu, betapa memerahnya muka ketika bertemu, betapa bahagianya melihat dia tertawa bersamaku, betapa hancur ketika perasaan tak berbalas, atau begitu marah ketika hanya jadi korban PHP. Aku mulai belajar berusaha untuk menghargai perasaan orang lain layaknya perasaanku yang ingin dihargai, tersanjung karena perempuan yang bisanya cuma ngomel-ngomel, jutek, ngambekan ini ada juga yang menyukai :). 

Menghargai bukan untuk membalas rasa tapi "Kalo cintaku begitu penting, begitu juga dengan cinta orang lain".

Jumat, 02 Mei 2014

Satu Pagi Di awal Mei

Satu pagi di awal Mei
Dan kisahmu berakhir di hari ini
Kau adalah matahari diceritaku,
Ditunggu untuk direlakan pergi
Dari dulu sudah begitu

Satu rasa yang pada akhirnya harus berhenti
Bukan karena lelah
Bukan tak hangat lagi
Terkadang tidak menjadi apa-apa mungkin pilihan terbaik

Satu pagi di awal Mei
Aku tidak pernah bermain belati,
dan harusnya aku tak akan terluka.


Jumat, 28 Maret 2014

IPB sudah layak ditutup? Saya kuliah dimana?

28 Maret 2014

Akhir-akhir ini perguruan tinggi yang menjembolkan gelar sarjana saya sedang "naik daun", lewat tulisannya yang berjudul IPB Sudah Layak Ditutup? Ibu Esther Wijayanti  menyampaikan unek-uneknya akan pertanian Indonesia dan peran IPB dalam permasalahan agrikultur. Semuanya bereaksi, termasuk saya tergelitik untuk menulis di blog ini.

Saya lulusan Institut Pertanian Bogor dan sekarang kembali menjadi mahasiswa di institusi ini untuk memperdalam dan mencintai pertanian.  Saya juga sedih dengan semua berita impor komoditas pertanian yang tiap tahunnya menunjukkan peningkatan, tapi sungguh masalah ini bukan sebatas karena lulusan IPB yang tidak berkualitas, tidak sesederhana itu kalaupun memang harus ada yang dipersalahkan.
Duduk di kursi kuliah dengan semua berita minusnya Indonesia dalam dunia pertanian di tengah sumber daya melimpah yang diceritakan dosen-dosen terbaik kami, membuat saya geram sendiri, kesal, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Banyak teknologi yang dihasilkan IPB yang dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas komoditas pertanian tapi pada kenyataanya masalah ini bukan hanya tentang penggunaan teknologi saja. Masalah sosial masyarakat, kebijakan pemerintah, dan kepemilikan lahan yang tidak terintegrasi menjadi permasalahan penting yang saya tangkap selama mengambil ilmu di IPB. Traktor yang memudahkan pengolahan lahan nyatanya terhalang oleh kepemilikan lahan masyarakat yang kecil, power thresher yang dapat menekan susut perontokkan selama pemanenan dianggap merugikan bagi pengeprik karena gabah yang didapat pengeprik akan sangat menurun, dan kehadiran teknologi lainnya yang dianggap masyarakat justru menghilangkan mata pencaharian mereka.

Indonesia memang melimpah hasil pertaniannya, namun ketika ditanya "dimana untuk mendapatkan Mangga Gedong Gincu dalam jumlah ton untuk memenuhi permintaan pasar ekspor?" Indramayu? Jawa Timur? Sumatera?. Produksi kita memang melimpah tapi tidak terintregritas, kita tidak memiliki sentra produk pertanian.
Masalah impor? Tanyakan pada importir apa yang mereka inginkan dari impor hasil pertanian ini? dan semoga jawabnya bukan hanya keuntungan semata tanpa memikirkan kepentingan bangsa.
Itu segelintir masalah diantara banyak permasalahan lain di dunia pertanian. Saya di sini belajar, mungkin saya belum menjadi apa-apa, tapi setidaknya IPB menambah pengetahuan saya tentang dunia pertanian ini.

Soal masalah aktivitas kampus dalam hal keagamaan, saya setuju kampus ini memang sangat religius. Bahkan teman saya dari universitas islam tercengang ketika berkunjung ke lingkungan kampus dan melihat sebagian besar mahasiswinya berjilbab. Di kampus ini juga saya memantapkan diri menutup aurat dan terus memperbaiki diri. Saya rasa ini justru hal positif bagi IPB.
Di sisi lain saya juga kesal ketika melihat mahasiswa yang sibuk dengan komunitas di luar kampus, mengesampingkan kewajiban belajarnya, nilai anjlok, nyaris DO, demo masalah negara Islam di luar sana, atau sibuk mengurusi sistem pemerintahan Indonesia. Silahkan lakukan kegiatan di luar kampus itu asal jangan bawa nama kampus kita dan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Tapi pernyataan "pantas saja Indonesia sebagai negara agrikultur tidak ada agrikulturnya" karena mahasiswa sibuk dengan masalah keagamaannya saya rasa itu salah. Kami mahasiswa IPB yang merasakan dunia kampus lebih tahu apa yang terjadi di dalamnya. Jikapun ada mahasiswa yang sangat sibuk dengan masalah keagamaannya di tengah kampus itu hanya sebagian kecil. Masih banyak teman-teman kami yang berusaha berjuang membanggakan Indonesia khususnya IPB yang justru lebih penting untuk disorot dibandingkan hal keagamaan tadi.

Terakhir ... IPB Sudah Layak Ditutup? Lalu kemana generasi selanjutnya akan belajar pertanian, jika sampai hari ini IPB tetap menjadi kampus pertanian terbaik di Indonesia.





Sabtu, 15 Maret 2014

Pesta Rakyat

15 Maret 2014

Ini 2014 yang katanya tahun pesta rakyat bagi Indonesia.
Pesta rakyat? Entahlah benarkah ini pesta atau hanya kebahagian oknum tertentu. Saya cinta Indonesia, tempat saya dilahirkan, tapi tidak dengan politiknya. Saya tidak pernah tertarik dengan urusan politik, tiap sudut masalah di Indonesia hampir tidak lepas dari kepentingan politik. Ah, saya sangat awam sekali tentang masalah ini, maka biarlah saya menceritakan isi hati saya saja.

Kemarin, semua heboh tentang Jokowi menjadi calon presiden dari PDIP. Aku hanya senyum sinis, sambil bilang pantes kemarin-kemarin tiap ditanya tentang pencalonan presiden jawabannya 'abu-abu'.
Pak Joko Widodo yang terhormat, saya tidak perlu meragukan bapak tentang jiwa kepemimpinan yang bapak miliki, jelas bapak hebat terlebih jika harus dibandingkan dengan saya, jelas tidak pantas dibandingkan dan saya juga tidak mau dibandingkan.
Apa kabar Jakarta Pak? Sudah pantas ditinggal? Sudah terlihatkah kemajuan Jakarta ditangan bapak? Saya sungguh tidak tahu kemajuan apa yang terlihat karena memang saya sudah bingung dengan berita di media massa yang banyak sekali memberitakan bapak, dari mulai blusukan sampai berita tentang bapak yang kebelet pipis.

Semenjak rakyat diberi kebebasan memilih langsung wakilnya, kata "pencitraan" semakin lazim digunakan. Tidak ada yang salah dengan penggunaan kata ini, karena memang semua berusaha terlihat baik untuk mengambil hati rakyat agar nanti dipilih pada pemilu. Media massa pun gencar memberitakan wakil-wakil rakyat ini, yang mirisnya media massa tidak lagi netral. Pemilik media massa inilah yang menentukan siapa yang harus diekspose. Saya pun semakin bingung, politik negara ini memang semakin abu-abu, tidak terlihat lagi mana yang benar dan mana yang salah. Dan saya memutuskan untuk menonton saja yang kata mereka saya golput.

Usia saya 24 tahun, tapi saya belum pernah menggunakan hak pilih saya. Karena di negara yang abu-abu ini bagi saya diam pilihan tepat. Bukan karena saya tidak mencintai Indonesia, tidak peduli, tapi biarlah cinta ini saya saja yang mendeskripsikan, biar saya yang merealisasikan atas apa yang saya anggap baik.
Dulu, waktu pak SBY menang saya tidak berpartisipasi, sekarang waktu beliau dihujat, saya juga tidak menghujat, karena saya tidak memiliki hak atas itu. Hak itu hilang bersama pilihan saya untuk tidak memilih waktu pemilu.

Tulisan ini tidak untuk membahas baik buruknya golput atau mengajak golput atau malah berdebat tentang hak pilih, saya sungguh tidak tertarik.

Terlepas dari kekurangan yang membuat rakyat geram dengan kepemimpinan SBY, saya ucapkan terimakasih pak atas 10 tahun memimpin Indonesia, paling tidak negara ini masih berdiri.

Dan semoga nanti, jika Pak Jokowi menjadi presiden, Indonesia jangan ditinggal-tinggal ya Pak, kayak bapak ninggalin Jakarta.

Selamat pemilu, siapapun pemimpinnya semoga rakyat Indonesia sejahtera.


Jumat, 14 Februari 2014

Rizki di dalam Al Quran

14 Februari 2014

Kemarin paman datang, pamanku dari desa ...
Oh bukan, kemarin ga ada yang datang ternyata.
Ceritanya, setelah kuliah kemarin pagi aku menyempatkan sholat dhuha di Mushola Al Fath, aku meminjam Al Quran yang ada di rak dan ketika membukanya aku menemukan uang Rp. 10000.
Beberapa bulan lalu, setelah sholat di Mushola Botani Square aku juga meminjam Al Quran di sana dan menemukan uang Rp.20000.
Uangnya selalu aku ambil dan aku kasihkan kepada orang yang lebih membutuhkannya (mungkin), daripada tetap di dalam Al Quran dan ga tersalurkan.
Awalnya aku berpikir ada ya orang yang ingin berbagi dengan menaruh uang di dalam Al Quran, mungkin niatnya supaya orang-orang yang baca Al Quran mendapatkan rizki lebih :).
Tapi setelah menemukan uang dua kali di dalam Al Quran di Mushola, kok kayaknya hal ini jadi sesuatu yang mulai lumrah dilakukan orang-orang ya.
Aku sih seneng aja jadi perantara buat bersedekah ke orang-orang yang membutuhkan, dapet pahala :D. Tapi akan lebih bagus kalau memang langsung disalurkan jelas ke yang membutuhkan, ada banyak pengemis berkeliaran di negeri ini, ada banyak kotak amal yang teronggok berdebu di sudut-sudut warung, lembaga-lembaga yang siap menyalurkan, panti asuhan yang membutuhkan agar tetap berdiri, dan lainnya.

Dan aku jadi berpikir, nanti kalau aku ga punya uang mungkin aku akan ke Mushola buat ngecek Al Quran di sana X_x #plaaak.

Rabu, 12 Februari 2014

Bukankah kemesraan itu privat and confidental?

12 Februari 2014

Dua hari ini aku lagi malas menulis, tapi karena baca status fesbuk seseorang jadi tergerak untuk buka blog.

Dear Kakak-kakakku dan semua orang yang sudah berumah tangga, tanpa mengarungi rasa hormat ijinkan aku menyampaikan unek-unek sebagai orang yang sayang kalian dan sebagai orang yang belum menikah.
Sudah lama aku terganggu dengan status-status kalian tentang hubungan pernikahan, tidak, bukan cemburu tapi ini lebih ke attitude bersosial media. Dan kali ini atas sayang ini aku memutuskan mencurahkan semua yang mengganjal. Awalnya aku takut menyampaikannya, kemudian terganggu dengan update-update itu lalu ku hide, tapi rasanya mendiamkan kalian dan pura-pura tidak tahu bukan pilihan yang tepat.

Kakak-kakakku, saya tahu hubungan kalian halal, tapi halal tidak lantas mengumbar kemesraan di fesbuk. Teman fesbuk kalian tidak semuanya sudah berumah tanggakan? Bahkan adek-adek kecil yang di bawah umurpun akan membaca update-an kalian. Jelas ini tidak layak dibaca anak kecil, saya pun malu ketika membaca seorang istri yang sedang banyak makan tauge dan akan ke salon untuk menyambut suaminya pulang. Pernah berpikir apa yang aku pikirkan? Ahhh, sudahlah saya malu, bahkan hanya sekedar jadi pembaca. Apa kalian tidak malu tentang imajinasi teman-teman yang membaca?
Bukankah kemesraan itu privat and confidental? Kenapa tidak kalian jaga untuk berdua saja? Itu baik buat kalian. Kami tidak butuh dan tidak perlu tahu apa kalian sedang program menambah anak atau ingin berhubungan seksual ketika bertemu. Sungguh itu bukan urusan kami.

Kakak-kakakku, maaf jika tulisan ini menyinggung.
Semoga kita selalu dijaga Alloh dari perbuatan yang tercela.

Salam
Adikmu yang menyayangimu.