15 Maret 2014
Ini 2014 yang katanya tahun pesta rakyat bagi Indonesia.
Pesta rakyat? Entahlah benarkah ini pesta atau hanya kebahagian oknum tertentu. Saya cinta Indonesia, tempat saya dilahirkan, tapi tidak dengan politiknya. Saya tidak pernah tertarik dengan urusan politik, tiap sudut masalah di Indonesia hampir tidak lepas dari kepentingan politik. Ah, saya sangat awam sekali tentang masalah ini, maka biarlah saya menceritakan isi hati saya saja.
Kemarin, semua heboh tentang Jokowi menjadi calon presiden dari PDIP. Aku hanya senyum sinis, sambil bilang pantes kemarin-kemarin tiap ditanya tentang pencalonan presiden jawabannya 'abu-abu'.
Pak Joko Widodo yang terhormat, saya tidak perlu meragukan bapak tentang jiwa kepemimpinan yang bapak miliki, jelas bapak hebat terlebih jika harus dibandingkan dengan saya, jelas tidak pantas dibandingkan dan saya juga tidak mau dibandingkan.
Apa kabar Jakarta Pak? Sudah pantas ditinggal? Sudah terlihatkah kemajuan Jakarta ditangan bapak? Saya sungguh tidak tahu kemajuan apa yang terlihat karena memang saya sudah bingung dengan berita di media massa yang banyak sekali memberitakan bapak, dari mulai blusukan sampai berita tentang bapak yang kebelet pipis.
Semenjak rakyat diberi kebebasan memilih langsung wakilnya, kata "pencitraan" semakin lazim digunakan. Tidak ada yang salah dengan penggunaan kata ini, karena memang semua berusaha terlihat baik untuk mengambil hati rakyat agar nanti dipilih pada pemilu. Media massa pun gencar memberitakan wakil-wakil rakyat ini, yang mirisnya media massa tidak lagi netral. Pemilik media massa inilah yang menentukan siapa yang harus diekspose. Saya pun semakin bingung, politik negara ini memang semakin abu-abu, tidak terlihat lagi mana yang benar dan mana yang salah. Dan saya memutuskan untuk menonton saja yang kata mereka saya golput.
Usia saya 24 tahun, tapi saya belum pernah menggunakan hak pilih saya. Karena di negara yang abu-abu ini bagi saya diam pilihan tepat. Bukan karena saya tidak mencintai Indonesia, tidak peduli, tapi biarlah cinta ini saya saja yang mendeskripsikan, biar saya yang merealisasikan atas apa yang saya anggap baik.
Dulu, waktu pak SBY menang saya tidak berpartisipasi, sekarang waktu beliau dihujat, saya juga tidak menghujat, karena saya tidak memiliki hak atas itu. Hak itu hilang bersama pilihan saya untuk tidak memilih waktu pemilu.
Tulisan ini tidak untuk membahas baik buruknya golput atau mengajak golput atau malah berdebat tentang hak pilih, saya sungguh tidak tertarik.
Terlepas dari kekurangan yang membuat rakyat geram dengan kepemimpinan SBY, saya ucapkan terimakasih pak atas 10 tahun memimpin Indonesia, paling tidak negara ini masih berdiri.
Dan semoga nanti, jika Pak Jokowi menjadi presiden, Indonesia jangan ditinggal-tinggal ya Pak, kayak bapak ninggalin Jakarta.
Selamat pemilu, siapapun pemimpinnya semoga rakyat Indonesia sejahtera.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar