Rabu, 05 Februari 2014

Kalo gw ga suka digituin, berarti gw ga boleh nolak kalo dikasih sesuatu sama orang

05 Februari 2014

Teringat kejadian seorang teman, sebut saja Waqif yang kecewa gara-gara menawarkan makanan ke temannya tapi selalu ditolak. 

Dia bilang "Kalo gw ga suka digituin, berarti gw ga boleh nolak kalo dikasih sesuatu sama orang"
Dan aku adalah orang yang paling kesel sama orang tipe beginian. Waqif sih masih mending, langsung ditolak, paling ga makanannya ga sia-sia terbuang. Lah aku?

Aku suka pisang, kemarin aku bawa lima buah pisang ke kos, dengan niat berbagi aku menyisakan dua buat temen sekosan.
Eh, sampe malem ini juga ga dimakan-makan, boro-boro dimakan pindah tempat pun ga. Bete -_-

Bingung sama orang kayak gitu, kalo ga mau kenapa diterima.., pake acara "makasih" pula, aku kan ngasih bukan karena ga doyan, tau ga mau mending aku makan sendiri -..-

Dilema!
Dibiarin aja ntar busuk, dimakan padahal udah kukasihin ke mereka. Zzz ...

Aku putusin!
...
...

Mending kumakan. 
Ya Alloh demi apapun maafin hamba, tidak bermaksud memakan hak orang, tapi daripada busuk mending dimakan, nanti kalo mereka nanya aku beliin lagi deh. Sayang soalnya. 
Laper juga.. Heee..

Ga lagi lagi, lalalala



Minggu, 02 Februari 2014

Karena yang menakutkan dari perpisahan bukanlah kehilangan, tapi dilupakan

02 Februari 2014

"Jangan lupakan aku ya mba"
Itu isi sms Ary kemaren, sama persis dengan kata-kata ibu pemilik kosan waktu aku praktik lapangan di Ciater 3.5 tahun lalu, ketika beliau mengucapkan salam perpisahan denganku.
Pake nangis juga ga? Tentu.
Iya aku cengeng, cengeng banget. Tapi ibu itu tidak pernah tahu kalau aku nangis di perjalananku menuju Bogor.

Karena yang menakutkan dari perpisahan bukanlah kehilangan, tapi dilupakan.
Dan tenang saja, yang berkenan di hati tidak akan pernah terlupa.

Dan ohhh Tuhan lihat kosan ini pagi ini, hujan, tak berpenghuni (kecuali aku), sepi, sendiri. Tidak ada yang bisa diajak bicara kecuali dengan tulisan ini.
Di tengah haru biru ini terimakasih listrik tetap nyala dan mematikannya ketika aku bersama teman-temanku kemarin, terimakasih atas tetangga kosan yang punya alarm pengingat sholat yang kenceng. Terimakasih atas ayat yang tepat pagi ini:

"Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis" (An Najm: 43).

Dia yang memiliki hikmah dalam hal tersebut :)

Rabu, 29 Januari 2014

Galau seumuran saya

Hidup ini selalu begini siklusnya. Seumuran saya ini ya dilemanya lulus kuliah, kerja, dan pasangan hidup. Coba tanyakan anak SD di luar sana sudah mau nikah belom? Haha, waktu itu sih aku bener2 takut kalo menjadi besar dan harus menikah, apalagi harus memikirkan hamil dan ngurus anak X_x. Sekarang apa ya masih takut :D

Ga jauh jauh dilemanya, yang belom lulus kuliah pusing mikirin kapan penelitian kelar, kapan draft diserahin, kapan draft di acc buat sidang, kapan wisuda, ato dilema gara2 udah deket2 DO. Seraya bergumam, enak ya yg udah pada lulus.
Yang udah lulus, mau kerja dimana? Kerja atau lanjut kuliah? Kapan telpon berbunyi untuk panggilan kerja?. Sambil bilang enak ya yang udah kerja dapet gaji tiap bulan.

Yang udah kerja, beberapa mengeluh capek, deadline, butuh liburan, huaaa.. Kangen kuliah, pengen kuliah lagi aja kalo kayak gini.

Loh loh, kenapa yg masih mahasiswa pengen lulus?, kenapa yg lulus pengen cepet dapat kerja?, kenapa yang kerja pengen kuliah lagi?.
Kenapa tidak dinikmati saja dan bersyukur, karena memang selalu rumput tetangga itu lebih hijau :Dv

Tapi ada satu dilema yang selalu ada tiap waktunya ga kenal mahasiswa, pengangguran, ato pekerja, yup: สิ่งเล็กๆที่เรียกว่ารัก = a little thing called love (kata film romantis dari Thailand :D).
Saya lupa umur berapa mengenal dilema satu ini, setiap kita pasti pernah punya orang yang kita suka (ato mungkin cinta) dengan diam2, dilema yang paling indah ya tentang rasa ini: menyebalkan tapi indah ;-).

Kalo dulu waktu masih sekolah saya cuma tahu suka ya suka doang, pengen pacaran tapi blm boleh sm orang tua :D, jadilah saya bisa menanggapi rasa suka dengan biasa saja.
Kalo umur sekarang suka sama orang udah pada serius, udah pada berharap jadi jodoh, dan ga akan terpisahkan (lupa kalo kita bakal pada mati :)) Jadi inget kata2 Bapak: "Bapak sama Mama yang tiap hari bareng aja pasti bakal berpisah nanti, apalagi kalian yang cuma suka gitu doang, masih temen"

Pasangan hidup menempati galau yang paling rentan di umur2 segini, ditambah lagi sekeliling satu persatu mulai menegakkan janur kuning di depan rumahnya :D, pertanyaan paling sering muncul "aku kapan ya?" Ato "jodohku nanti siapa ya?" Ga usah mengelak, pasti kalian juga terpikirkan kan ya :D

Hidup ini memang runutan peristiwa: bayi, kanak2, sekolah, kuliah, kerja, nikah, punya anak, punya cucu, mati. Begitulah normalnya.
Tidak akan teristimewakan jika sudah terlewati, maka orang2 yang menikmati hidupnya terlebih yang mampu menikmati kegalauannya dengan baik merekalah yang memiliki cerita indah yang pantas diceritakan nanti :).

Saya, hahaha, tidak pernah sebijak kata yang saya pahami, saya masih berusaha menjadi seperti kata2 yang saya pahami, tapi sayangnya hati ini masih terlalu muda untuk mendewasa.
Berapa banyak update status, tweet, dan PM yang sudah saya tulis karena tak sanggup memendam galau sendiri, terutama masalah perasaan. Berharap someone out there mengerti perasaan ini, padahal someone nya boro2 ngerti, orang sibuk mikirin cewek lain :D #hahaha, menyedihkan!
Kalau pun someone nya ngerti n ngerasa, iya kalo memang jodoh, kalo bukan, juga ga guna kan ya, sungguh mengenaskan menjadi saya yang galau seumuruan ini.
Dan mungkin ini tidak hanya dialami oleh saya saja.
Semoga saya dan teman2 yang lain kalo sudah tidak galau nanti mengerti bahwa urusan perasaan ini sejujurnya lebih indah kalau tetap disimpan dalam diam, mencintai dalam diam seperti cinta Fathimah Azzahra kepada Ali bin Abi Thalib.

Yulni, 12 November 2012

Sabtu, 25 Januari 2014

"Mahameru. Bersamamu.", ayooo mendaki denganku, nanti ...

25 Januari 2014

Ditengah deadline review jurnal seabrek2 untuk tugas akhir semester ini aku mencuri waktu ngeblog. Ini tentang sebuah buku yang aku beli di Gramedia Jalan Pemuda waktu aku jalan-jalan ke Semarang dua minggu lalu. Ga sengaja baca ngeliat bukunya, judulnya mengusik hati "Mahameru. Bersamamu."


Mahameru, puncak yang selalu jadi impianku yang belum terwujud, gagal di tahun lalu karena waktu sampai Malang ternyata ditutup. Dan buku ini, menceritakan tentang seorang wanita yang sampai ke Mahameru, tepat 10 hari sebelum perjalananku ke Malang tahun lalu. Ga pikir panjang buat beli, satu karena ini tentang Mahameru, dua karena ini tentang kisah nyata :).

"Mahameru, dinyanyiin Janji Suci-nya Yovie & Nuno sama dia pas sunrise"
Itu harapan Ken. Hihihi, menggelitik.. Ga bisa dipungkiri semua wanita suka hal-hal yang romantis, termasuk aku. Ga boong, terkadang terbesit pikiran waktu berada di tempat terindah atau di tempat yang diimpikan tiba-tiba dilamar orang yang diinginkan. Ahhhh... drama banget ini tapi ya.. Lupakan, kita ke buku ini lagi.

Ken memutuskan melakukan perjalanan mendaki Semeru di akhir tahun 2012. Ini untuk pertama kalinya dia mendaki gunung dan memutuskan bergabung dengan tim yang memiliki tujuan sama, Semeru.
Ken wanita yang telah ditanya-tanya tentang jodoh karena dianggap telah memiliki usia matang untuk menikah tetapi masih bertahan dengan kejombloannya karena belum menemukan yang pas setelah 6 tahun lalu dikhianati pasangannya.
Satu dari anggota tim menarik perhatiannya, Mahardika. Tampan, tinggi, tegap, berkulit coklat terang, berambut hitam yang ditata rapi, matanya hitam dan kecil, bukan laki-laki metroseks yang suka berdandan necis, yang pasti dia menarik. Itu kata Ken tentang Mahardika, bayangkan sendiri.

Kalau tiba saatnya, kita pasti dipertemukan dengan orang yang memang sudah seharusnya bertemu dengan kita” 

Dan rasa itu berbalas.
Di puncak tertinggi Pulau Jawa, Mahardika mengungkapkan isi hatinya kepada wanita yang baru bertemu dengannya 3 hari lalu, bahkan tidak untuk urusan pacaran belaka. Walaupun memang tanpa Janji Suci-nya Yovie & Nuno.
Sesederhana itu ceritanya.
Sungguh sederhana, mungkin jika dijadikan sinetron ini akan menjadi cerita yang biasa saja.
Tapi aku memahami, apa yang menjadi spesial tentang cerita ini.
Aku tahu betul rasa capek tentang mendaki, rasa ingin menyerah karena tidak sanggup, setidaknya aku hampir sama amatirannya sama Ken tentang urusan mendaki.
Tentang Ken yang terus berjuang untuk sampai di Negeri di atas awan itu, dan ketika semua usaha terbalas dengan keindahan di puncak sana dan bonus telah dinanti seseorang di sana, ahhhh, rasanya saya ingin menjadi Ken untuk beberapa saat, merasakan kebahagiannya di Mahameru saat itu.

Membaca cerita ini, mengingatkanku ceritaku tentang Semeru. Tapi beda, aku dan teman-temanku ga sampai Semeru tapi malah melakukan petualangan yang panjang, Petualangan Sembilan.
Membacanya seperti flashback, hiruk pikuk Pasar Senen, suasana di Kereta Matarmaja, ketika pegalnya 18 jam dalam kereta ekonomi, ketika senyum merekah sampai di Malang. I feel it!

Jangan bilang saya bermimpi kisah cinta saya seperti mbak Ken ya. Tidak, mbak Ken punya cerita terbaiknya di Mahameru, aku walau mungkin tak seromantis dilamar di Mahameru, aku percaya ketika nanti sampai waktunya kisahku pasti juga bikin hati ini membuncah, merah merona, dan super deg-degan.
Lagian kalo nunggu dilamar di Mahameru, kapan aku nikahnya kalo belum kesampean2 juga ke Mahameru, hehehe...

Sampai detik ini, Atap Pulau Jawa itu tetap menjadi impianku.
Dan siapapun kamu, nanti temani aku menikmati sunrise di Mahameru sana, walaupun mungkin kamu belum tahu apa itu mendaki.

Selasa, 14 Januari 2014

Ujian Nekad -_-"

Minggu pagi, 12 Januari 2014 sekitar setengah 8 kereta yang aku tumpangi sampai di Pasar Senen.
Aku melanjutkan perjalanan dengan Commuter Line menuju Bogor.
Sampai di Dramaga sekitar jam 11 aku langsung menuju kos temanku, karena kalau pulang ke kos aku pasti langsung mandi dan tidur. Ujian besok oy ujian analisis statistika.

Bukannya belajar malah cerita sana sini, dan akhirnya baru belajar abis magrib: aku, Waqif, dan Wendi.
Belajar? mana ada, aku cuma nanya-nanya catatan Wendi hasil dari responsi waktu aku bolos ke Semarang itu.

Kenapa aku nekad? ga pernah loh sebelumnya gini.
Pertama, ini ujian open all jadi bisa liat apa aja asal jangan liat jawaban temen. Kedua, aku sudah mengantongi nilai yang cukup untuk target A, kalo aku hitung perkiraannya butuh 48 poin lagi untuk dapet A.
Ketiga, ini ujian hitungan, dan aku suka untuk urusan pelajaran yang gini.

Akhirnya ga sampe sejam belajar sama Waqif dan Wendi malah dilanjut sibuk bikin mie goreng sama goreng tahu bakso, makan, lalu pulang ke kosan -_-.

Capek dan terserang flu, abis mandi langsung tidur.
Setengah 4 alarm nyala, tidur lagi.
Setengah 5 alarm nyala, sholat, tidur lagi.
Dan baru melek bener-bener jam setengah 7.
Nyiapin bahan buat dibawa tempur, eh tiba-tiba liat udah 07.02.
Lari ke kamar mandi, tapi ga jadi mandi karena dingin takut flu makin parah dan tadi malem juga baru mandi jam 10 (Nah, sekarang waktu nulis ini aku baru inget aku belom mandi lagi sejak pertama dateng ke kosan x_x)

13 Januari 2014.
UAS (Ujian ketiga) Analisis Statistika tiba.
Soal pertama, tentang rancangan acak lengkap faktorial. Ini soal sama persis dengan soal terakhir di ujian kedua, aku dapet poin 44/46 untuk soal ini. Tapi sekarang, aku diem, bingung, lupa semua nilai dari variabel yang dimaksud X_x.
Setelah lima menitan berkutat dengan kertas-kertas catatan, aku mulai ngebuang ragu untuk mulai ngerjain jawaban.

Soal kedua, tentang regresi sederhana. Aku ngerjainnya persis dengan catatan yang dikasih Wendi. Tahu sih kalo cara itu kurang tepat untuk soal ini, tahu juga cara ngerjain dengan cara lain yang mungkin bener, tapi ntah kenapa ga mau ngerjain dengan bener, males mikir -_-

Soal ketiga, analisis kontingensi. Ini soal sederhana, poinnya juga cuma 12, tapi aku bener-bener ngeraba cara ngerjainnya, karena catetan yang aku punya itu ga ada cara mengerjakannya cuma ada jawaban langsung.
Aku ngeraba-raba rumus, sambil inget-inget apa yang diomongin Waqif dan Wendi semalam. Ini dikurang ini bagi ini? Ininya itu apa -_-.
Oke satu kolom selese, dan kolom selanjutnya menyusul dengan hasil raba-meraba.
Diem lagi gegara liat chi-square table. Derajat bebasnya pake apa? dan untung ingetan tadi malem masih bisa diterawang waktu Wendi ngejelasin.
Oke, done!
Dan semoga hasilnya cukup untuk dapetin nilai A ya Alloh.
Aaamiiin ...

Semarang, Done!

Kamis, 09 Januari 2014, akhirnya terwujud juga rencana aku dengan ayukku menyentuh Kota Diponegoro ini.
Alhamdulillah walau ga kayak tahun lalu, minimal Sembilan Januari tahun ini aku tetap move on  dari Bogor (walau ga move on dari kamu, hahahaha), tetap menambah langkah kaki sebelum mati.

Rencana ke Semarang ini sudah lama ada, cuma ya ga jadi-jadi. Alesan ayukku ke Semarang: Melengkapi jalan-jalan ke semua ibukota di Pulau Jawa.
Semarang, memang bukan kota yang waw untuk tempat wisata, tapi aku tetap bersemangat ikut demi menyentuh kota ini (gratis pula) walau UAS tengah menghadang. Kamis siang harusnya aku ada Responsi Analisis Statistika terakhir kali sebelum ujian Seninnya, tapi aku memilih bolos dan berangkat ke Semarang. Nekad bukan :D

Jumat pagi, kami sampai di Stasiun Semarang Tawang, "Selamat pagi, Semarang"


Berhubung check in hotelnya masih jam 12 siang kami memutuskan untuk jalan-jalan dulu. Kemana? ga tau -_-.

Keluar stasiun berniat ke Kota Lama dulu, karena ga tau tempatnya jadi naek becak, kesepakatan sama bapaknya Rp. 20000, dan tau apa? ternyata deket banget.

Di Kota Lama ternyata biasa tempatnya, cuma bangunan tua, katanya sih bagusnya kalau malam.
Terus kami nemu shelter BRT Semarang, dan cukup waktu untuk tahu kalo kepanjangannya adalah Bus Rapid Trans Semarang. Di shelter ada rute BRT, dan kami memutuskan untuk naik bus menuju Ungaran, tempat yang katanya dingin dan bagus di Semarang.

Transit dulu di shelter Balai Kota dan perjalanan menuju Ungaran sekitar 1 jam, melewati kampus Undip loh :D. Turun di Sisemut Ungaran, bingung ngapain. Gunung Ungarannya udah keliatan sih tapi masih jauh kayaknya buat dijamah.

Jalan, ketemu warung nasi rames dan kami makan pertama di sini. Kesan pertama: Manis.
Lanjut ke Alun-alun Ungaran dengan jalan kaki, di sini nemuin yang namanya Lekker.


Unik cara masaknya, pantat telpon dicelupkan ke adonan, lalu dimasak di atas api dengan posisi pantat telpon di atas, tujuannya biar adonan tipis merata. Harganya? cukup Rp.1000 :)

Karena masih penasaran dengan view Gunung Ungaran kami memutuskan untuk naik angkot ke daerah yang lebih tinggi lagi, dan ternyata angkotnya mengantarkan kami ke Pasar Karang Jati. Di tengah perjalanan ngelewatin Pabrik Nissin dan menggingatkan kembali massa 2009 ketika fieldtrip ke Semarang, aku pernah lewat sini :D
Akhirnya kami memutuskan turun lagi dan kembali ke Kota untuk check in  ke Hotel. Belum tahu hotelnya dimana, tapi karena hotelnya ada di Jalan Pemuda jadi aku memutuskan turun di shelter SMA 5 dan abis itu naik taksi ke hotel.
Setelah turun dari BRT, nanya ke petugas yang jaga
Aku: Mas, mau nanya, Hotel Amaris dimana ya?
Petugas: Amaris ... *sambil pasang muka bingung
Aku: Iya, Mas. Amaris Jalan Pemuda katanya
Petugas: Sini mba, tak liatin *sambil jalan dan menunjuk ke atas bangunan
Petugas: Itu bukan toh?
Aku: Oh, iya mas. Hahaha, untung ga langsung naik taksi tadi
Petugas: Aturan tak kon munggah taksi sek, terus midun nek ngarep kui, hahaha
Aku: Suwun geh, Mas

Hahaha, benar ternyata, Hotelnya ada di depanku, benar-benar dekat :)
Masuk hotel, bebersih diri, lalu cari makan siang.
Jalan kaki sepanjang Jalan Pemuda, yang bagus dari kota ini, Pedestriannya gede, sangat nyaman buat pejalan kaki. Sampai Simpang yang ternyata namanya Simpang Tugu Pemuda ternyata ketemu Lawang Sewu, jalan lagi ambil ke arah Pandanaran, nah di sini merupakan pusat oleh-oleh makanan Semarang.

Jalan sampai ke Simpang Lima, dan lumayan jauh. Akhirnya makan di Depan Masjid Baiturrahman, beli Tahu Gimbal, harganya Rp. 12000/ porsi.


Tahu Gimbal
Abis makan, pengen tahu nih apa isi Simpang Lima, jalan muterin Simpang Lima, terus liat kerumunan orang di pinggir jalan, ternyata lagi antri beli pecel. Karena rame jadi kami tertarik membeli dan ikut antri.



Aku dan ayukku sama-sama suka dengan sunset  makanya kami menyempatkan diri ke Pantai Marina, pantai terdekat dari Kota Semarang.
Hahaha, yang beach lover jelas kecewa, ini ga ada mirip-miripnya dengan pantai, ditambah lagi cuaca yang mendung makin ga bagus aja matahari terbenamnya.


Dan kami langsung memutuskan pulang sekitar 10 menit setelah sampai di pantai ini :D.

Malemnya cari makan lagi, memang Semarang ini cocoknya buat wisata kuliner.
Soto Bangkong. Soto ini sama dengan soto ayam umumnya, cuma taburannya adalah bawang putih goreng.
Temen makannya dilengkapi dengan sate-satean dan pastinya manis.
Memang ya yang manis itu punya orang Jawa -_-


Sabtu, 11 Januari 2014
Seharian ini dihabiskan untuk wisata kuliner lagi
Mau ke Masjid Agung Jawa Tengah malah nyampenya ke Masjid Agung Semarang yang deket Pasar Johar, jalan kaki loh dari Hotel Amaris -_-

Lanjut beli lumpia Mbak Lien yang katanya terkenal, kalo aku yang ngenalin lumpia ini akan kubilang lumpia mahal, hahaha, satu potong lumpia ayam harganya Rp.11000, eleh-eleh beli gorengan satu biji mahal amat, tapi ya memang rasanya cukup enak dibanding lumpia dipinggir jalan yang dijual seharga Rp.6000.


Kuliner selanjutnya Nasi Ayam/ Liwet Bu Widodo, namanya nasi ayam isinya ayam semua -_-. Nasi ini dijual malam hari di Simpang Lima, Di jualnya mirip dengan nasi gudeg ala Yogya cuma ini isinya ga ada gudeg tapi diganti sayur labu santan kuning. Tempatnya enak, kita bisa duduk lesehan sambil menikmati malamnya Semarang.


Malam ini berakhir dan kami harus ke stasiun untuk melanjutkan rutinitas. Ditemani hujan aku meninggalkan Kota Semarang.

Lawang Sewu
Tahu bakso yang aku racik sendiri bumbunya jadi tahu bakso kuah
Bandeng duri lunak
Wingko Babat NN Meniko, Wingko pertama dari Semarang
 Dan apa kabar ujianku besoknya? Hahahaha ...

Kamis, 09 Januari 2014

Jangan mengganggu ya dengan Al Quran nya

09 Januari 2014

Ketika menulis ini aku sedang berada di Kereta Harina rute Bandung - Semarang. Di depanku duduk tiga orang mahasiswa. Menarik salah satunya.
Bukan tampang yang bikin menarik, tapi apa yang dia lakukan.
Pernah dengar orang baca Al Quran? Bikin adem kan ya, tenang ...
Tapi ga yang kurasakan sekarang, jauh lebih adem udara malam ini kayaknya. Aku seneng dengan orang yang rajin baca Al Quran, apalagi yang menyempatkan baca disetiap waktu senggang. Salut, karena aku sadar juga masih susah ngelakuinnya.

Tapi ya agama kita ini selalu punya aturan yang ga akan merugikan orang lain dalam berbuat apapun, apalagi berbuat kebaikan. Membaca Al Quran di tempat umum, di dalam kereta ga selayaknya mengencangkan suara yang mengganggu orang lain.

Atas rasa terdzolimi malam ini, semoga adek yang baca Al Quran malam ini disadarkan untuk mengatur volume suaranya dilain waktu, dan semoga pahalanya tetap mengalir bagi dia yang membaca dan bagi kami yang mendengarkan walau terganggu.
Aaamiiin ...

Astaghfirullohaladzim..