Jumat, 28 Maret 2014

IPB sudah layak ditutup? Saya kuliah dimana?

28 Maret 2014

Akhir-akhir ini perguruan tinggi yang menjembolkan gelar sarjana saya sedang "naik daun", lewat tulisannya yang berjudul IPB Sudah Layak Ditutup? Ibu Esther Wijayanti  menyampaikan unek-uneknya akan pertanian Indonesia dan peran IPB dalam permasalahan agrikultur. Semuanya bereaksi, termasuk saya tergelitik untuk menulis di blog ini.

Saya lulusan Institut Pertanian Bogor dan sekarang kembali menjadi mahasiswa di institusi ini untuk memperdalam dan mencintai pertanian.  Saya juga sedih dengan semua berita impor komoditas pertanian yang tiap tahunnya menunjukkan peningkatan, tapi sungguh masalah ini bukan sebatas karena lulusan IPB yang tidak berkualitas, tidak sesederhana itu kalaupun memang harus ada yang dipersalahkan.
Duduk di kursi kuliah dengan semua berita minusnya Indonesia dalam dunia pertanian di tengah sumber daya melimpah yang diceritakan dosen-dosen terbaik kami, membuat saya geram sendiri, kesal, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Banyak teknologi yang dihasilkan IPB yang dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas komoditas pertanian tapi pada kenyataanya masalah ini bukan hanya tentang penggunaan teknologi saja. Masalah sosial masyarakat, kebijakan pemerintah, dan kepemilikan lahan yang tidak terintegrasi menjadi permasalahan penting yang saya tangkap selama mengambil ilmu di IPB. Traktor yang memudahkan pengolahan lahan nyatanya terhalang oleh kepemilikan lahan masyarakat yang kecil, power thresher yang dapat menekan susut perontokkan selama pemanenan dianggap merugikan bagi pengeprik karena gabah yang didapat pengeprik akan sangat menurun, dan kehadiran teknologi lainnya yang dianggap masyarakat justru menghilangkan mata pencaharian mereka.

Indonesia memang melimpah hasil pertaniannya, namun ketika ditanya "dimana untuk mendapatkan Mangga Gedong Gincu dalam jumlah ton untuk memenuhi permintaan pasar ekspor?" Indramayu? Jawa Timur? Sumatera?. Produksi kita memang melimpah tapi tidak terintregritas, kita tidak memiliki sentra produk pertanian.
Masalah impor? Tanyakan pada importir apa yang mereka inginkan dari impor hasil pertanian ini? dan semoga jawabnya bukan hanya keuntungan semata tanpa memikirkan kepentingan bangsa.
Itu segelintir masalah diantara banyak permasalahan lain di dunia pertanian. Saya di sini belajar, mungkin saya belum menjadi apa-apa, tapi setidaknya IPB menambah pengetahuan saya tentang dunia pertanian ini.

Soal masalah aktivitas kampus dalam hal keagamaan, saya setuju kampus ini memang sangat religius. Bahkan teman saya dari universitas islam tercengang ketika berkunjung ke lingkungan kampus dan melihat sebagian besar mahasiswinya berjilbab. Di kampus ini juga saya memantapkan diri menutup aurat dan terus memperbaiki diri. Saya rasa ini justru hal positif bagi IPB.
Di sisi lain saya juga kesal ketika melihat mahasiswa yang sibuk dengan komunitas di luar kampus, mengesampingkan kewajiban belajarnya, nilai anjlok, nyaris DO, demo masalah negara Islam di luar sana, atau sibuk mengurusi sistem pemerintahan Indonesia. Silahkan lakukan kegiatan di luar kampus itu asal jangan bawa nama kampus kita dan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Tapi pernyataan "pantas saja Indonesia sebagai negara agrikultur tidak ada agrikulturnya" karena mahasiswa sibuk dengan masalah keagamaannya saya rasa itu salah. Kami mahasiswa IPB yang merasakan dunia kampus lebih tahu apa yang terjadi di dalamnya. Jikapun ada mahasiswa yang sangat sibuk dengan masalah keagamaannya di tengah kampus itu hanya sebagian kecil. Masih banyak teman-teman kami yang berusaha berjuang membanggakan Indonesia khususnya IPB yang justru lebih penting untuk disorot dibandingkan hal keagamaan tadi.

Terakhir ... IPB Sudah Layak Ditutup? Lalu kemana generasi selanjutnya akan belajar pertanian, jika sampai hari ini IPB tetap menjadi kampus pertanian terbaik di Indonesia.





Sabtu, 15 Maret 2014

Pesta Rakyat

15 Maret 2014

Ini 2014 yang katanya tahun pesta rakyat bagi Indonesia.
Pesta rakyat? Entahlah benarkah ini pesta atau hanya kebahagian oknum tertentu. Saya cinta Indonesia, tempat saya dilahirkan, tapi tidak dengan politiknya. Saya tidak pernah tertarik dengan urusan politik, tiap sudut masalah di Indonesia hampir tidak lepas dari kepentingan politik. Ah, saya sangat awam sekali tentang masalah ini, maka biarlah saya menceritakan isi hati saya saja.

Kemarin, semua heboh tentang Jokowi menjadi calon presiden dari PDIP. Aku hanya senyum sinis, sambil bilang pantes kemarin-kemarin tiap ditanya tentang pencalonan presiden jawabannya 'abu-abu'.
Pak Joko Widodo yang terhormat, saya tidak perlu meragukan bapak tentang jiwa kepemimpinan yang bapak miliki, jelas bapak hebat terlebih jika harus dibandingkan dengan saya, jelas tidak pantas dibandingkan dan saya juga tidak mau dibandingkan.
Apa kabar Jakarta Pak? Sudah pantas ditinggal? Sudah terlihatkah kemajuan Jakarta ditangan bapak? Saya sungguh tidak tahu kemajuan apa yang terlihat karena memang saya sudah bingung dengan berita di media massa yang banyak sekali memberitakan bapak, dari mulai blusukan sampai berita tentang bapak yang kebelet pipis.

Semenjak rakyat diberi kebebasan memilih langsung wakilnya, kata "pencitraan" semakin lazim digunakan. Tidak ada yang salah dengan penggunaan kata ini, karena memang semua berusaha terlihat baik untuk mengambil hati rakyat agar nanti dipilih pada pemilu. Media massa pun gencar memberitakan wakil-wakil rakyat ini, yang mirisnya media massa tidak lagi netral. Pemilik media massa inilah yang menentukan siapa yang harus diekspose. Saya pun semakin bingung, politik negara ini memang semakin abu-abu, tidak terlihat lagi mana yang benar dan mana yang salah. Dan saya memutuskan untuk menonton saja yang kata mereka saya golput.

Usia saya 24 tahun, tapi saya belum pernah menggunakan hak pilih saya. Karena di negara yang abu-abu ini bagi saya diam pilihan tepat. Bukan karena saya tidak mencintai Indonesia, tidak peduli, tapi biarlah cinta ini saya saja yang mendeskripsikan, biar saya yang merealisasikan atas apa yang saya anggap baik.
Dulu, waktu pak SBY menang saya tidak berpartisipasi, sekarang waktu beliau dihujat, saya juga tidak menghujat, karena saya tidak memiliki hak atas itu. Hak itu hilang bersama pilihan saya untuk tidak memilih waktu pemilu.

Tulisan ini tidak untuk membahas baik buruknya golput atau mengajak golput atau malah berdebat tentang hak pilih, saya sungguh tidak tertarik.

Terlepas dari kekurangan yang membuat rakyat geram dengan kepemimpinan SBY, saya ucapkan terimakasih pak atas 10 tahun memimpin Indonesia, paling tidak negara ini masih berdiri.

Dan semoga nanti, jika Pak Jokowi menjadi presiden, Indonesia jangan ditinggal-tinggal ya Pak, kayak bapak ninggalin Jakarta.

Selamat pemilu, siapapun pemimpinnya semoga rakyat Indonesia sejahtera.