Sabtu, 15 November 2014

Iya, aku capek!

Mau tidak mau aku sampai di usia 25 (lewat) dengan status masih sendiri.
Teman-temanku sebagian telah menikah, beberapa telah memiliki anak, sebagian lagi masih seperti aku, jomblo kata orang sekarang.

Aku harus apa?, kita sedang menjalankan takdir kita masing-masing, takdirku begini, jadi stop jangan tanya
kapan nikah? 
udah ada calon kan?

Kalau kalian sebegitu penasarannya, bagaimana dengan aku?
Aku lebih ingin tahu, lebih menggebu-gebu nama dengan awalan apa yang dengan bahunya aku merasa berada di tempat paling nyaman, dengan pegangan tangannya aku merasa aman.

Kalian siapa? Akulah yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya, yang akan menangis dalam peluknya, yang akan menjadi paling tegar dalam rapuhnya. Dengan begitu siapakah yang harusnya lebih penasaran? bahkan ukuran sepatunyapun aku juga ingin tahu.

Kata orang, anggap saja yang bertanya sebagai doa, aku harap aku masih punya stock senyum atau bahkan tawa ketika pertanyaan berulang-ulang itu muncul lagi besok.

Kata mereka jangan terlalu pilih-pilih.
Bagaimana tidak pilih-pilih, membeli tas yang bisa diganti kapanpun  aku dan temanku harus sampai ke empat pusat perbelanjaan dan itu pun pilihan belum jatuh ke satu pun tas, ragu.
Apalagi urusan jodoh, yang sekali kuterima maka harus setia sepanjang hayat.

Seperti mencari tas, semakin mencari semakin capek.
Iyaaaa, aku capek. Milyaran manusia dan cuma satu yang cocok, bayangin kan gimana sangat amat kecil sekali kebangetan peluangnya. Salah wajar,tapi makin ke sini aku semakin paham karena peluang yang terlalu kecil itu bisa terkabul cuma dengan pertolonganNya.
Capek salah, capek patah, capek meregang.
Semua sama, semua mencari, wajar jika menebar umpan, jadi berhenti kegeeran ya dek, cuek saja sampai dia berani ketemu bapak, baru silahkan geer.

lanjutkan wujudkan mimpi dan biarkan tuhan mengatur jalan cerita jodohmu.
Mungkin besok dia ada di sudut Bank BNI berhenti tersenyum ketika mata kalian beradu, mungkin nanti di sebuah perjalanan dimana kamu sangat menyukainya, mungkin setelah menutup laptop ini bertemu di dalam mimpi.

Selamat malam,
aku capek.


Bogor, 01:19 - 15 November 2014

Selasa, 28 Oktober 2014

Pantai Ujung Genteng, Langkah kakiku berhenti selanjutnya


Sabtu pagi dini hari, baru satu jam sampai kosan dari Jakarta ketemu ayuk, harus sudah rapi untuk pergi lagi. Walau capek, tapi tetap dengan semangat karena aku akan travelling lagi, menjemput bahagia. Kali ini, langkah kakiku berhenti di Sukabumi, Pantai Ujung Genteng yang letaknya ujuuuuuuung banget.

Kami berangkat ber 16 menyewa dua mobil, satu mobil denganku ada Nurul, Lista, Damar, Arif, Eno, Asa, dan Fauzi. Berangkat menuju Ujung Genteng via Jampang - Surade, dan ya tengah malam dikira lancar ternyata macet, lawannya truk truk gede. Awalnya diperkirakan sampai pagi ternyata siang baru masuk Surade dan kami mampir dulu ke Curug Cikaso yang letaknya sekitar satu jam dari Pantai Ujung Genteng.

Awalnya sempat ragu ke curug ini, karena beberapa hari lalu  kondisinya masih kering, sudah lama tidak hujan. Tapi dengan sedikit harapan karena kemarin hujan kita nekad ke sana, dan apa? Deres banget! Cantik! Curug ter-oke yang pernah aku liat: deres, ada tiga aliran, dan bersih.









Bersyukur banget jadi ke sini.
Setelah puas, sampe hape mati karena basah kita melanjutkan perjalanan menuju Ujung Genteng.

Harumnya laut mulai kecium ini, pantaaaaaaiiiii....!
Sebenernya dibanding perjuangan buat sampai ke sini, pantai ini bagus, tapi biasa. Murni subjektif dari aku, beda lagi cerita mungkin kalo aku bisa liat sunset. Sayangnya kami kurang beruntung, sore ini mendung.

Pantai di sini bersih, pasirnya putih, ombak yang di Pantai Ujung Genteng tenang, beda dengan di Pantai Pangumbahan yang tempat penangkaran penyu ombak lumayan gede. Meski ga istimewa, aku selalu suka berbaring di pantai yang sepi, rasanya tenang, hampir ketiduran.





Dan ini kami!



Senin, 22 September 2014

Gunung Gede, langkah kakiku berhenti selanjutnya

Hai, sudah lama tidak menyapa. Kaki ini pun rasanya sudah gatal melangkah. 
Dan kali ini Gunung Gede akan menjadikan langkah kakiku berhenti selanjutnya. 
Yaaaaakkk…. Akhirnya Gede di pelupuk mata akan tersentuh. Walau dari awal sudah mencari-cari alasan untuk ga ikut (-ikutan) mendaki lagi, tapi malam ini dengan carrier 40L yang bikin ga pede jalan di tengah ramai Bara aku menuju meeting point, BNI Dramaga.

Pendakian kali ini bersama 11 orang lainnya, sebagian besar teman-temanku. Sudah lama ga ketemu bikin aku nyerocos aja sepanjang jalan di dalam angkot yang kami sewa menuju titik awal pendakian, Gunung Putri. Sampe lupa kalo di depan mata ‘ngos-ngosan’ itu akan datang.

Jalan… 

Jalan… 

Tiga puluh menit berlalu. Errrggghhh… perasaan gini nih yang bikin males. Terasa berat perjalanan padahal baru sebentar banget jalan, dan di hati bilang ‘yakin sampe puncak?, baru jalan gini aja rasa pengen balik lagi sembunyi dibalik selimut yang nyaman’. Karena udah bosen dengan perasaan macam gini yang selalu terulang, jalan terus wae siapa tahu puncak sudah deket (naon nu deket? Sejam juga belom -_-).

Sekitar dua jam perjalanan setelah menyerahkan SIMAKSI, jam tiga dini hari kami memutuskan nge-camp demi kebaikan. Aku sih seneng-seneng aja, bisa berhenti lamaaa (kapan nyampenya, Yung? -_-)

Paginya kita mulai jalan lagi, Gede emang ga pernah sepi, sampe yang jual nasi uduk lewatpun ada. Dan aku sempet percaya kalo ada Alfamart yang akan kami lewati. Oke lupakan! Maklum saya newbie ke Gede. 

Ini kami, minus Eno yang lagi motion.

Gunung Gede (Captured by Eno)

Sedikit-sedikit yang penting jalan terus dan tiba-tiba aku berasa mendaki sendiri, yang depan udah duluan yang belakang masih jauh. Trek di sini sudah jelas, jadi kemungkinan besar ga akan nyasar, nanjak (iyalah, kalo datar itu jalan tol) tapi ga sampe muka ketemu dengkul. 
Lalu bahagia itu muncul waktu liat pohon-pohon terasa dekat, tandanya mau nyampe. 

Setelah lima jam perjalanan, akhirnya sampe di Alun-alun Surya Kencana (Surken). 

Alun-alun Surya Kencana (Captured by Damar)

Edelweis mekaaaar, ini kali pertama liat bunganya. Di sini kita nge-camp  untuk paginya summit attack, yeay… sunrise. Semoga besok cerah.

Edelweis mekar (Captured by Eno)

Sempet saling tunggu di Surken, dan bikin bete. Kepisah Dari Eno, Ricky, dan Damar yang pada merekalah barang-barang yang dibutuhkan ada. Masak ga bisa, tidur ga bisa. Akhirnya kami tertolong tetangga sebelah yang ngasih banyak banget bahan makanan jadi dan mentah ke kita. Semoga dibalas kebaikannya mas-mas (jangan suruh Nurul melet lagi ya).

Tenda-tenda bertebaran di Surken (Captured by Damar)

Anginnya kenceng pisaaan, tiris amit-amit. Ini SB rasa-rasa cuma berperan dikit, malam-malam aku dan Nurul nyalain kompor dalam tenda sampe gasnya abis demi ngusir dingin. Ahhh… kalo gini, emang harus bersyukur dengan panasnya Dramaga yang rasanya lebih baik dibanding dingin ini.

Mereka ini udah janjian ya mau liat sunrise di puncak, wacana bangun jam dua pagi (realitanya jam setengah 4 pagi). Hehehe, udah biasa. 
Jam setengah tiga liat keluar tenda, astaga semua bekas makan masih di sana, ternyata abis sholat isya bener-bener ga ada yang keluar lagi. Okeh, ngalah! walau sebenernya ini ga tahan juga, dinginnya luarrrrr biasa. Bukan apa-apa, aku ga rela ga liat sunrise kalo cuacanya mendukung.
Setengah 4 pada bangun dan karena belum siap semua akhirnya diputusin yang sudah siap untuk berangkat duluan, terus nunggu di puncak.

Dan pagi ini serasa ga punya tenaga, ntah efek bangun tidur ato kekurangan kalori. Aku cuma berharap, kalo cerah semoga sempet liat sunrise ya Alloh. Sejam jalan akhirnya, Puncak Gunung Gede, I am here, 2958 mdpl. Alhamdulillah...

Sombong kalo udah sampe puncak
 
Puncak Gede (Captured by Eno)
Masyaalloh liat sunrisenya…!!!!

Sunrise Puncak Gede (Captured by Yulni)







Siluet (Captured by Eno)

Liat awan yang terasa deket banget ini aku selalu punya pikiran untuk lompat dan guling-guling di atasnya, serasa lembut kayak kapas. Lalu kemudian tewas, terhempas (oke, mengurungkan diri buat gegulingan di atasnya).

Negeri di atas Awan (Captured by Tam2)
 
Gunung Pangrango (Captured by Tam2)




Kawah Gunung Gede(Captured by Eno)

Dinginnya bener gila-gilaan ini, tangan bener-bener kaku.


Jam Sembilan pagi, kami yang menunggu di puncak, berlima: aku, Nurul, Andino, Kak Hari, Unang memutuskan melanjutkan perjalanan dan menunggu mereka di Kandang Badak. Kalau turun, biasanya lebih cepet, tenaga ga banyak terkuras tapi kaki habis-habisan kerjanya, berenti dikit langsung gemeteran.



Ini tanjakan cinta, eh salah.. tanjakan setan ceunah.

Tanjakan Setan (Captured by Eno)

Karena aku pake rok, lagi dan selalu mereka (yang entah siapa) mencemaskanku “hati-hati ya mba”. Hehehe, terimakasih, tenang. Rok ini pilihan, walau mobilitas ga seleluasa pake celana tapi aku pastiin ini bukan kendala. 
Masih aneh sih memang ngedaki pake rok, tapi udah mulai banyak kok cewe yang suka berpetualang dan terikat prinsip yang dia pegang tentang pakaian tetep nyaman dengan roknya. Kata temenku, jangan berubah hanya karena kamu berada di lingkungan yang beda.

Sampe Kandang Badak sekitar jam 11an, ada WC nya, akhirnya bisa nandain tempat di sini. Legaaa.. :D. 
Nunggu mereka, jam 2 baru sampe. Makan besar kali ini. Walau sudah diusahain banyak masaknya tetep aja sisanya masih banyak lagi, beras aja sisa 5 kg (tambahan dari tetangga waktu di Surken). Sampe tas Ricky putus bawanya, dan itupun ga mau berbagi.

Aku turun dengan carrier yang masih sama volumenya tapi ga dengan beratnya. 
Awalnya kecepatan maksimal, lama-lama melambat, kaki lecet karena terlalu banyak nahan batu. Sejam terakhir, jalan selangkah-selangkah. 

Capek, sakit, luka, kucel, tapi bahagia...

Dan akhirnya, tujuan mendaki tercapai: pulang dengan selamat :D. 

Tiga hari terlihat kayak pesakitan, jalan susah, sholat susah, buang air susah.
Dua hari berikutnya, flu menyerang.
Terakhir, batuk-batuk dan badan panas.

Nyesel?
Ahhh, aku makin cinta mendaki.
Benerlah sudah, Puncak Gede mempesona <3 br="">
Kali ini travel teaches me how to see..

Dan besok, kemana lagi langkah kakiku akan berhenti selanjutnya?...

05-07 September 2014, Gunung Gede 2958 mdpl Jawa Barat

Senin, 11 Agustus 2014

Air dan Kehidupan Kita

Jernihnya menyehatkan!

Diminum juga boleh

Ikan dan air

Sumber air sudah dekat

Sumber kehidupan, sumber kebahagiaan

Pertanian butuh air

Jumat, 11 Juli 2014

Juli!



Singkut - Jambi, 01 Juli 2014

Jika hujan melekat di Juni Sapadi Djoko Damono, Juli-ku datang dengan diawali pertambahan umur.
Sahur pertama di Juli ini diawali ucapan doa orang-orang terdekat, Alhamdulillah kali ini Ramadhan penuh di rumah.
Pukul tiga dini hari 25 tahun silam, 01 Juli 1989 aku  melihat dunia.
Hari ini, seperti biasa, tidak banyak yang mengucapkan karena aku memang tidak berniat memajang ulang tahunku, terutama di media sosial.
Karena begini aku tahu, siapa aku. Lagian males banget dikasih ucapan “HBD” di timeline fesbuk, kalo diucapain via sms ato whatsapp  minimal ada embel-embel doanya :D.

Kali ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, top prayer nya “semoga cepat dilamar”.
Hehehe, you know you’re old, ketika doa semoga panjang umur jadi semoga cepet dilamar.
Oke, 25! Memang umur yang cukup untuk dibilang “tua”. Semoga doa kalian teman-teman terdekat dikabulkan Alloh supaya tahun depan top prayer nya ganti, momongan mungkin :)

Happy July, semoga bulan ini awal untuk memperbaiki diri :)

Minggu, 15 Juni 2014

Kalo cintamu begitu penting, begitu juga dengan cinta orang lain

15 Juni 2014

Sebulanan ini aku sedang giatnya menonton film-film Asia, entah apa alasannya aku tak tahu persis. Mungkin karena aku memang menyukainya, mungkin untuk membunuh sepi karena aku serasa pemilik kos sekarang (read: tinggal sendirian), mungkin juga mencari pelarian atas otak yang begitu dikejar-kejar deadline kuliah.

Kata orang film-film Asia itu romantis kebangetan, kataku "hidup ini sudah cukup sulit, jadi tidak papalah menonton sesuatu yang mungkin memang tidak nyata, pangeran romantis nan kaya jatuh hati dengan si miskin biasa-biasa saja"

Hahaha..., tidak tidak, jangan pikir karena aku biasa-biasa saja jadi aku berharap one day ada lelaki cakep, tinggi, berhidung mancung, punya perusahaan gede datang bilang "will you marry me?", sungguh tidak, cukup itu di drama romantis Asia saja.

Satu yang selalu aku cari dari menonton film, aku mencari tertawaku yang lepas tanpa beban, yang kata teman-temanku selera humorku rendah (read: susah tertawa untuk sesuatu yang dibilang orang lucu).

Nah, hari ini aku nonton Drama Korea Flower Boy Next Door. Bukan, bukan mau ngebahas tampang pemainnya, dari segi pemain sih biasa wae, cakep biasa. Film ini penuh nasihat kadang aku back and pause buat mengingat kata-katanya. Satu kalimat yang menarik ketika ... hmmmm.... aku lupa siapa namanya, pokoknya cowok bilang "Kalo cintamu begitu penting, begitu juga dengan cinta orang lain"

"Kalo cintamu begitu penting, begitu juga dengan cinta orang lain"


Ya benar, terkadang sulit sekali bersikap netral kepada orang yang menaruh rasa lebih ke kita, sementara kita murni menganggap teman. Egoisnya bilang, "bisa ga sih kita temenan aja?" ato "kenapa mesti aku?" padahal kalo kita di posisi sebaliknya berharap banget perasaan kita dihargai.

Hari ini, setelah aku tahu betapa spesialnya perasaan berwarna merah jambu ini, betapa galaunya harus memendam rindu, betapa memerahnya muka ketika bertemu, betapa bahagianya melihat dia tertawa bersamaku, betapa hancur ketika perasaan tak berbalas, atau begitu marah ketika hanya jadi korban PHP. Aku mulai belajar berusaha untuk menghargai perasaan orang lain layaknya perasaanku yang ingin dihargai, tersanjung karena perempuan yang bisanya cuma ngomel-ngomel, jutek, ngambekan ini ada juga yang menyukai :). 

Menghargai bukan untuk membalas rasa tapi "Kalo cintaku begitu penting, begitu juga dengan cinta orang lain".

Jumat, 02 Mei 2014

Satu Pagi Di awal Mei

Satu pagi di awal Mei
Dan kisahmu berakhir di hari ini
Kau adalah matahari diceritaku,
Ditunggu untuk direlakan pergi
Dari dulu sudah begitu

Satu rasa yang pada akhirnya harus berhenti
Bukan karena lelah
Bukan tak hangat lagi
Terkadang tidak menjadi apa-apa mungkin pilihan terbaik

Satu pagi di awal Mei
Aku tidak pernah bermain belati,
dan harusnya aku tak akan terluka.


Jumat, 28 Maret 2014

IPB sudah layak ditutup? Saya kuliah dimana?

28 Maret 2014

Akhir-akhir ini perguruan tinggi yang menjembolkan gelar sarjana saya sedang "naik daun", lewat tulisannya yang berjudul IPB Sudah Layak Ditutup? Ibu Esther Wijayanti  menyampaikan unek-uneknya akan pertanian Indonesia dan peran IPB dalam permasalahan agrikultur. Semuanya bereaksi, termasuk saya tergelitik untuk menulis di blog ini.

Saya lulusan Institut Pertanian Bogor dan sekarang kembali menjadi mahasiswa di institusi ini untuk memperdalam dan mencintai pertanian.  Saya juga sedih dengan semua berita impor komoditas pertanian yang tiap tahunnya menunjukkan peningkatan, tapi sungguh masalah ini bukan sebatas karena lulusan IPB yang tidak berkualitas, tidak sesederhana itu kalaupun memang harus ada yang dipersalahkan.
Duduk di kursi kuliah dengan semua berita minusnya Indonesia dalam dunia pertanian di tengah sumber daya melimpah yang diceritakan dosen-dosen terbaik kami, membuat saya geram sendiri, kesal, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Banyak teknologi yang dihasilkan IPB yang dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas komoditas pertanian tapi pada kenyataanya masalah ini bukan hanya tentang penggunaan teknologi saja. Masalah sosial masyarakat, kebijakan pemerintah, dan kepemilikan lahan yang tidak terintegrasi menjadi permasalahan penting yang saya tangkap selama mengambil ilmu di IPB. Traktor yang memudahkan pengolahan lahan nyatanya terhalang oleh kepemilikan lahan masyarakat yang kecil, power thresher yang dapat menekan susut perontokkan selama pemanenan dianggap merugikan bagi pengeprik karena gabah yang didapat pengeprik akan sangat menurun, dan kehadiran teknologi lainnya yang dianggap masyarakat justru menghilangkan mata pencaharian mereka.

Indonesia memang melimpah hasil pertaniannya, namun ketika ditanya "dimana untuk mendapatkan Mangga Gedong Gincu dalam jumlah ton untuk memenuhi permintaan pasar ekspor?" Indramayu? Jawa Timur? Sumatera?. Produksi kita memang melimpah tapi tidak terintregritas, kita tidak memiliki sentra produk pertanian.
Masalah impor? Tanyakan pada importir apa yang mereka inginkan dari impor hasil pertanian ini? dan semoga jawabnya bukan hanya keuntungan semata tanpa memikirkan kepentingan bangsa.
Itu segelintir masalah diantara banyak permasalahan lain di dunia pertanian. Saya di sini belajar, mungkin saya belum menjadi apa-apa, tapi setidaknya IPB menambah pengetahuan saya tentang dunia pertanian ini.

Soal masalah aktivitas kampus dalam hal keagamaan, saya setuju kampus ini memang sangat religius. Bahkan teman saya dari universitas islam tercengang ketika berkunjung ke lingkungan kampus dan melihat sebagian besar mahasiswinya berjilbab. Di kampus ini juga saya memantapkan diri menutup aurat dan terus memperbaiki diri. Saya rasa ini justru hal positif bagi IPB.
Di sisi lain saya juga kesal ketika melihat mahasiswa yang sibuk dengan komunitas di luar kampus, mengesampingkan kewajiban belajarnya, nilai anjlok, nyaris DO, demo masalah negara Islam di luar sana, atau sibuk mengurusi sistem pemerintahan Indonesia. Silahkan lakukan kegiatan di luar kampus itu asal jangan bawa nama kampus kita dan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Tapi pernyataan "pantas saja Indonesia sebagai negara agrikultur tidak ada agrikulturnya" karena mahasiswa sibuk dengan masalah keagamaannya saya rasa itu salah. Kami mahasiswa IPB yang merasakan dunia kampus lebih tahu apa yang terjadi di dalamnya. Jikapun ada mahasiswa yang sangat sibuk dengan masalah keagamaannya di tengah kampus itu hanya sebagian kecil. Masih banyak teman-teman kami yang berusaha berjuang membanggakan Indonesia khususnya IPB yang justru lebih penting untuk disorot dibandingkan hal keagamaan tadi.

Terakhir ... IPB Sudah Layak Ditutup? Lalu kemana generasi selanjutnya akan belajar pertanian, jika sampai hari ini IPB tetap menjadi kampus pertanian terbaik di Indonesia.