18 Mei 2013, menambah jumlah langkah kaki sebelum mati
kembali berlanjut, kali ini giliran kampung Baduy, Desa Cibeo adalah tujuannya.
Pagi-pagi setengah 5 sudah diawali dengan bete karena
janjian yang ga jelas. Heeee, pasti semua kena semprot. Sekarang bukan lagi
petualangan sembilan, kali ini aku bertujuh dengan empat adalah bagian dari
petualangan sembilan. Tujuh itu: Aku, Eno, Ricky, Waqif, Docik, Zhimi, dan
Tobing. Yaa, mereka semua adalah teman seperjuangan selama kuliah di Teknik
Pertanian IPB.
Perjalanan kali ini sedikit berbeda, kami memutuskan
bergabung dengan Java Adventure (kalo ga salah :D). Pesertanya lumayan banyak,
57 orang yang tersebar dari beberapa komunitas, kami cukup membayar uang
seratus ribu dan membawa beberapa perlengkapan dengan meeting point di Stasiun Tanah Abang. Dari Stasiun Tanah Abang kami
naik kereta menuju Stasiun Rangkas Bitung, Banten. Perjalanan ditempuh sekitar
dua jam. Dari sana, dengan menggunakan Elf
kami diantar menuju Desa Ciboleger yang merupakan pintu gerbang menuju kampung
Baduy.
Baiklah, mulai melangkahkan kaki untuk perjalanan kali ini,
denger-denger perjalanan ini akan ditempuh dalam empat sampai lima jam. Kami
mulai berangkat dari Desa Ciboleger sekitar
pukul 12.30 dengan didampingi oleh suku Baduy Dalam. Seperti biasa
awalnya semangat 45 dengan tas yang lumayan berat (kata Docik aku bawa tabung
gas 3 kg) dan memang bukan tas buat tracking jadi agak gak pewe, aku mantap
menikmati perjalanan ini.
Awalnya biasa aja, lama lama banyak bukit yang harus
dilewati dan itu benar-benar menguras tenaga, macam lagunya Ninja Hatori,
“mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera bersama teman
bertualang” #plaaaak, cukup!
Oke lanjut ke perjalanan ini, dalam perjalanan ini kita akan melewati jembatan gantung yang terbuat dari bambu.
Satu jam bisa tahan, masuk jam
kedua di tebing deket rumah Baduy dalam menyerah untuk bawa tas. Nah,
untungnya, diperjalanan ini tersedia porter
yang akan bersedia membawakan tas kita sampai tujuan tapi dengan catatan
bayaaaaar -_-. Paling ga prinsip mendakinya ga ternodai “Jangan sampai
ketidakmampuanku menghambat perjalanan orang lain”.
Perjalanan lanjut, terasa lebih ringan, tapi untuk sesaat
ternyata. Di depan udah menunggu tebing yang panjang seolah tak berujung.
Kalian tahu rasanya berada di posisi kayak gini, jangan bilang aku ga nyelipin
pikiran seperti kebanyakan orang “ngapain capek-capek naik, kalo di kos
sekarang harusnya lagi tidur-tiduran enak”. Haha, benar sekaliiiii, ditambah lagi
perjalanan ini dengan kebanyakan orang yang tak dikenal, mereka ga akan terlalu
peduli dengan aku yang mereka tahu tujuan masing-masing, akupun udah
mencar-mencar dengn teman-temanku sendiri.
Tapi, ada hal yang selalu bikin kaki tetap terus melangkah
walau perlahan: ada tujuan di depan sana dan aku harus sampai. Setiap kali
tebing itu serasa tak pernah habis selalu bilang “tebing ini pasti akan ada
ujungnya, berhenti melangkah ga akan bikin tebing ini terlewati”. Dan aku,
selalu berusaha ga liat ke atas karena selalu tingginya tebing itu bikin
semangat turun drastis. Perlahan tapi pasti, dan tebing ini berakhir, yeaaaay
.... tinggal jalan biasa aja yang harus dilewati.
Sekitar pukul empat aku sampai di Desa Cibeo, Kampung Baduy Dalam yang terdiri atas rumah-rumah panggung yang terbuat dari anyaman bambu. Di desa ini, kita tidak boleh menggunakan peralatan elektronik apapun, ga boleh mandi pake sabun, pasta gigi, dan apapun yang mengandung zat kimia yang bisa mencemari air sungai, penerangan di sini menggunakan obor dengan bahan bakar minyak kelapa.
Setelah menaroh tas aku menuju sungai untuk berendam, menghilangkan pegel di kaki, dan ini bener kesegaran aernya menolong. Aku dan tiga cewe lain (Sari, Ayu, Dewi) yang kebetulan anak IPB juga angkatan 49 (masuk tahun 2012) memilih berlama-lama berendam dan baru menyudahinya sebelum maghrib datang.
Makan malam datang, kita cukup menyediakan beras dan lauk untuk nantinya dimasakin oleh pemilik rumah. Aku ga terlalu suka nasi buatan mereka, nasinya dimasak dengan cara di aron atatu di kukus, jadi hasilnya keras, secara aku penggemar nasi pulen :D.
Aku tidur sekitar jam 10 setelah hampir sebagian temen se rumah udah tidur. Awalnya udaranya biasa aja, masuk tengah malem ternyata udara lumayan dingin, oke pasang amunisi: jaket, kaos kaki, kain.
Pagi menjelang dan waktunya melanjutkan perjalanan pulang. Kita pulang melewati jalur yag berbeda dengan bekal minum, aer mentah yang diambil dari desa Cibeo, segerrrr.
Subhanalloh perjalanan ini langsung dimulai dengan bukit yang tinggi lalu lembah, bukit. lembah, bukit, berulang-ulang.
Dan diperjalanan ini aku ngefans banget dengan cowo di bawah ini
Masih bocah tapi tenaganya super duper woow!
And finally, perjalanan ini selesai...
Kembali ke Bogor, keseluruhan perjalanan ini memang tidak terlalu indah, alamnya biasa layaknya bukit pada umumnya, tapi capek ini bikin puassss...
Sampai jumpa diperjalanan menambah jumlah langkah kaki sebelum mati berikutnya ;-)









ah jd pgn pulang kampung
BalasHapus