Tahukah kamu? Bumi ini sebagian besar terdiri atas air, yaitu 70.80% ( 344 000 000 km3), dan sisanya adalah daratan. Namun ternyata, air tawar yang dalam hal ini merupakan air yang dapat dikonsumsi manusia hanya sekitar 2.8% dari total air yang ada di bumi ini, yaitu 9 632 000 km3. Air tawar tediri atas salju (es) 2.15%, air tanah 0.62%, air sungai 0.01%, dan air yang berada di atmosfer 0.001%.
Dari 2.8% air tawar yang ada, hanya 0.63% yang dapat digunakan langsung untuk kehidupan manusia, yaitu air tanah dan sungai. Bayangkan hanya 0.63% dari total air di bumi ini untuk memenuhi kebutuhan hampir tujuh miliar jiwa penduduk bumi. Kebutuhan itu meliputi minum, makan, mandi, mencuci, dan semua kegiatan yang menggunakan air dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak akan pernah bisa terlepas dari peranan air dalam kehidupan ini.
Permasalahannya adalah kita sering sekali tidak menyadari atau mengabaikan bahwa air itu sangat kita butuhkan di tengah-tengah ketersediaannya yang terbatas. Berapa banyak air yang kita buang-buang saat mandi hari ini? Berapa banyak air minum di gelas yang tidak kita habiskan langsung kita buang?
Ya memang air di bumi ini akan tetap sama jumlahnya, ia mengalami siklus setiap harinya. Namun sekali lagi kesadaran kita akan air ini jarang diimbangi dengan rasa syukur untuk menjaganya. Lihat di penghujung tahun ini banjir merata di Indonesia, terutama di ibu kota kita tercinta, malah banjir menjadi semacam “perayaan” tahunan, selalu terjadi. Hutan-hutan serapan air digundulkan diganti dengan bangunan-bangunan tinggi menjulang. Tempat sampah merata di setiap sudut ada termasuk selokan dan sungai menjadi tempat sampah favorit yang menyebabkan selokan tergenang, drainase tidak berfungsi dan ketika hujan air meluap dan banjir.
Akibatnya, krisis air bersih terjadi, jangankan untuk mandi, minum pun sulit. Di sini masyarakat baru menyadari betapa pentingnya peranan air bersih di tengah-tengah keterbatasannya.
Kesadaran itu dari diri sendiri, sebelum terjadi pada kita sendiri mari berhemat air bersih karena jumlah air yang bisa kita gunakan hanya 0.63% dari total air di bumi serta bersyukur dengan menjaga kebersihan dan keseimbangan alam!
Mari lebih mencintai alam ini!
Sumber: http://id.m.wikipedia.org/wiki/Bumi
Minggu, 30 Desember 2012
Selasa, 11 Desember 2012
Penyakit Hati
Kalau baca tulisan temen di socmed apapun tentang kebaikannya,
misalnya:
"terimakasih ya Alloh telah membangunkanku di sepertiga akhir malam"
"Alhamdulillah sudah baca Al Quran pagi ini setelah dhuha, semoga rejeki jadi berlimpah"
"Baca Al Kahfi pagi ini kayaknya oke nih"
"Buka puasa pake apa ya ntar sore"
rasanya itu pengen bilang "apa-apaan sih lw, pengen dibilang alim sama orang"
apalagi kalo yang posting itu yang baru banget belajar ngerjain kebaikan2 itu, makin sewooooot. Masih mending postingnya buat ngingetin bukan cuma pamer.
Itu tandanya kita punya penyakit hati: berprasangka buruk dengan orang lain, merasa lebih baik dari orang lain, merasa lebih tinggi agamanya dari orang lain, maka segeralah beristighfar, Astaghfirullohaladzim.
Demi Alloh aku pun kadang begitu, dan aku lebih memilih sign out daripada penyakit hati ini kian memuncak.
Memang seharusnya ambil sisi positifnya, kalo seseorang posting tentang kejelekannya kita bilang "kok malah bangga sih" , lantas kenapa ada yang posting kebaikan kita malah sewot bilang dia pamer kebaikan yang dia lakuin.
Terlepas dari dia mau pamer kebaikan atau tidak itu sama sekali bukan urusan kita, sama sekali bukan. Itu urusan dia sama Alloh tentang sholat dhuha nya, tentang sholat tahajudnya, tentang baca Al Qurannya.
Aku pun kadang takut melakukan kebaikan gara-gara takut dibilang pamer atau pencitraan. Pernah, dulu waktu aku sedang pergi bersama teman-temanku, selepas sholat aku biasa membaca Al Quran, tapi hari itu aku sedikit ragu karena takut dibilang pencitraan. Tapi aku berpikir lagi, niatku bukan ingin terlihat baik, aku cuma melakukan apa yang biasa aku lakukan dan peduli apa tentang mereka, ini urusanku sama Tuhanku.
Nah, jadi, coba berpikir positif saja, kalaupun tidak bisa, tinggalkan dulu socmed itu. Jangan sampai orang lain berbuat kebaikan kita malah mendapat dosa karena prasangka buruk kita.
Buat pelajaran juga bagi kita, kalau merasa sholat dhuha, sholat tahajud, baca Al Quran, dan puasa sunnah, atau kebaikan-kebaikan lainnya bukan sesuatu yang perlu dipamerkan ato diposting maka kita ga perlu ngepost kayak gitu juga ya.
misalnya:
"terimakasih ya Alloh telah membangunkanku di sepertiga akhir malam"
"Alhamdulillah sudah baca Al Quran pagi ini setelah dhuha, semoga rejeki jadi berlimpah"
"Baca Al Kahfi pagi ini kayaknya oke nih"
"Buka puasa pake apa ya ntar sore"
rasanya itu pengen bilang "apa-apaan sih lw, pengen dibilang alim sama orang"
apalagi kalo yang posting itu yang baru banget belajar ngerjain kebaikan2 itu, makin sewooooot. Masih mending postingnya buat ngingetin bukan cuma pamer.
Itu tandanya kita punya penyakit hati: berprasangka buruk dengan orang lain, merasa lebih baik dari orang lain, merasa lebih tinggi agamanya dari orang lain, maka segeralah beristighfar, Astaghfirullohaladzim.
Demi Alloh aku pun kadang begitu, dan aku lebih memilih sign out daripada penyakit hati ini kian memuncak.
Memang seharusnya ambil sisi positifnya, kalo seseorang posting tentang kejelekannya kita bilang "kok malah bangga sih" , lantas kenapa ada yang posting kebaikan kita malah sewot bilang dia pamer kebaikan yang dia lakuin.
Terlepas dari dia mau pamer kebaikan atau tidak itu sama sekali bukan urusan kita, sama sekali bukan. Itu urusan dia sama Alloh tentang sholat dhuha nya, tentang sholat tahajudnya, tentang baca Al Qurannya.
Aku pun kadang takut melakukan kebaikan gara-gara takut dibilang pamer atau pencitraan. Pernah, dulu waktu aku sedang pergi bersama teman-temanku, selepas sholat aku biasa membaca Al Quran, tapi hari itu aku sedikit ragu karena takut dibilang pencitraan. Tapi aku berpikir lagi, niatku bukan ingin terlihat baik, aku cuma melakukan apa yang biasa aku lakukan dan peduli apa tentang mereka, ini urusanku sama Tuhanku.
Nah, jadi, coba berpikir positif saja, kalaupun tidak bisa, tinggalkan dulu socmed itu. Jangan sampai orang lain berbuat kebaikan kita malah mendapat dosa karena prasangka buruk kita.
Buat pelajaran juga bagi kita, kalau merasa sholat dhuha, sholat tahajud, baca Al Quran, dan puasa sunnah, atau kebaikan-kebaikan lainnya bukan sesuatu yang perlu dipamerkan ato diposting maka kita ga perlu ngepost kayak gitu juga ya.
Minggu, 09 Desember 2012
Untukmu yang Tidak Pernah Tahu
Untukmu yang tidak pernah tahu,
Jika hidup ini adalah keheranan, maka semua tentang hidupku adalah kamu
Aku heran, ketika semua kata lancar kuucapkan kepada lelaki lain, tapi kenapa mulutku membeku ketika di hadapanku adalah kamu
Aku heran, ketika senyum manis yang telah kepersiapkan sebelum kau membuka pintu, tiba-tiba menjadi merah padam tertunduk ketika wajahmu manis membuka pintu
Aku heran, kenapa begitu ingin bertemumu, tapi begitu takut ketika sudah akan bertemu
Aku sungguh tidak ingin itu, tapi semua diluar kendaliku
Aku terdiam, wajahku pucat padam, dan hatiku ...
Ah, andai bisa dilihat aku yakin dia tengah bersemu merah bertemumu
Sekarang aku terduduk di sudut kota ini, di senja sore di bulan Desember penghujung tahun ini
Gelap tak seperti biasanya, dan aku masih dengan keheranan ini
Yang artinya aku masih memikirkanmu, merindukanmu
Dan mungkinkah di sudut jalan sana kau juga merindu?
(Merindu dia yang bukan aku)
Aku tidak pernah tahu perasaanmu, yang aku tahu perasaanku.
Tulisan-tulisan yang kutulis itu kamu
Berharap kau membacanya, tapi menyamarkan tulisan agar kau tak merasa
Sama seperti aku menyamarkan kecanggunganku setiap kali kau di sekitarku
Aku terlalu takut untuk dunia tahu kalau kau penghuni hati kecil ini
Jangankan dunia, kepadamu pun aku tak pernah berniat untuk memberi tahu
Heran? Aku pun heran dengan perasaan ini
Ketika kau bertanya kenapa belum tidur
Harusnya kujawab karena memikirkanmu
Tapi aku tak pernah bisa jujur kepadamu
Aku memang selalu berpura-pura, tapi bukan untuk berdusta
Aku hanya tidak ingin merusak jalan cerita kita
Aku selalu bingung harus bicara apa agar kau tertawa, agar chat kita terus mengalir
Dan nyatanya aku lebih memilih diam, kaku
Bukan tidak senang tapi aku tak pernah biasa denganmu
Kamu terlalu spesial
Untukmu yang tidak pernah tahu
Yang telah mendiami hati ini sejak empat tahun lalu
Yang tertata rapi di sudut bagian hati
Tidak pernah kupupuk tapi kau tetap hidup hingga hari ini
Tanpa aku sadar, mungkin juga kau tak sadar
kau selalu di sekitarku walau tak pernah jadi pemeran utama,
Kau selalu ada
Untukmu yang tidak pernah tahu,
tidak usah cemas akan rasaku
aku tidak pernah berniat merusak yang telah ada
aku sungguh tak pernah ingin perasaan ini
aku hanya tahu kau spesial,
itu saja
Untukmu yang tidak pernah tahu,
Esok lusa, aku hanya ingin membuktikan
keheranan ini akan menjadi nyata atau tergilas oleh waktu
Esok lusa, ketika misteri hidup kita terjawab
Kita akan tetap seperti ini
Tetap tertawa tanpa harus ada yang berubah
Jika hidup ini adalah keheranan, maka semua tentang hidupku adalah kamu
Aku heran, ketika semua kata lancar kuucapkan kepada lelaki lain, tapi kenapa mulutku membeku ketika di hadapanku adalah kamu
Aku heran, ketika senyum manis yang telah kepersiapkan sebelum kau membuka pintu, tiba-tiba menjadi merah padam tertunduk ketika wajahmu manis membuka pintu
Aku heran, kenapa begitu ingin bertemumu, tapi begitu takut ketika sudah akan bertemu
Aku sungguh tidak ingin itu, tapi semua diluar kendaliku
Aku terdiam, wajahku pucat padam, dan hatiku ...
Ah, andai bisa dilihat aku yakin dia tengah bersemu merah bertemumu
Sekarang aku terduduk di sudut kota ini, di senja sore di bulan Desember penghujung tahun ini
Gelap tak seperti biasanya, dan aku masih dengan keheranan ini
Yang artinya aku masih memikirkanmu, merindukanmu
Dan mungkinkah di sudut jalan sana kau juga merindu?
(Merindu dia yang bukan aku)
Aku tidak pernah tahu perasaanmu, yang aku tahu perasaanku.
Tulisan-tulisan yang kutulis itu kamu
Berharap kau membacanya, tapi menyamarkan tulisan agar kau tak merasa
Sama seperti aku menyamarkan kecanggunganku setiap kali kau di sekitarku
Aku terlalu takut untuk dunia tahu kalau kau penghuni hati kecil ini
Jangankan dunia, kepadamu pun aku tak pernah berniat untuk memberi tahu
Heran? Aku pun heran dengan perasaan ini
Ketika kau bertanya kenapa belum tidur
Harusnya kujawab karena memikirkanmu
Tapi aku tak pernah bisa jujur kepadamu
Aku memang selalu berpura-pura, tapi bukan untuk berdusta
Aku hanya tidak ingin merusak jalan cerita kita
Aku selalu bingung harus bicara apa agar kau tertawa, agar chat kita terus mengalir
Dan nyatanya aku lebih memilih diam, kaku
Bukan tidak senang tapi aku tak pernah biasa denganmu
Kamu terlalu spesial
Untukmu yang tidak pernah tahu
Yang telah mendiami hati ini sejak empat tahun lalu
Yang tertata rapi di sudut bagian hati
Tidak pernah kupupuk tapi kau tetap hidup hingga hari ini
Tanpa aku sadar, mungkin juga kau tak sadar
kau selalu di sekitarku walau tak pernah jadi pemeran utama,
Kau selalu ada
Untukmu yang tidak pernah tahu,
tidak usah cemas akan rasaku
aku tidak pernah berniat merusak yang telah ada
aku sungguh tak pernah ingin perasaan ini
aku hanya tahu kau spesial,
itu saja
Untukmu yang tidak pernah tahu,
Esok lusa, aku hanya ingin membuktikan
keheranan ini akan menjadi nyata atau tergilas oleh waktu
Esok lusa, ketika misteri hidup kita terjawab
Kita akan tetap seperti ini
Tetap tertawa tanpa harus ada yang berubah
Sabtu, 08 Desember 2012
Wanita, Masak, dan Idaman para Suami
Pagi tadi buka Twitter, seorang teman ngetwit "wanita usia 20an yg g bs bedain jahe sama lengkuas itu..plis deh..jgn ke mall aja,tukang sayur noh"
Saya tersenyum, saya sih santai karena saya sangat amat bisa ngebedainnya, tapi bagi gadis 20 tahunan yang ga ngerti bumbu dapur pasti merasa tersindir, dan akan mencari pembelaan :)
Saya mengerti di zaman yang serba praktis ini semuanya pada mau yang instan, semuanya ada, bahkan bumbu untuk tempe goreng pun ada -___-. Tidak seperti di zaman ibu kita masih gadis dulu, bahkan mereka SD pun sudah harus ngerti tentang dapur.
Sekarang, pengen capcay, beli aja ah, pengen soto ayam, tunggu mamangnya lewat komplek, pengen bubur ayam, beli yang instant tinggal seduh aja.
Saya sedikit prihatin, kalo sekarang kita sudah begitu konsumtif apa jadinya 20 tahun mendatang. Lagian makanan serba instant itu apa terjamin kualitas dan kesehatan bagi tubuh?. Kalo masak sendiri kita bisa tentukan sendiri kualitasnya.
Saya pernah baca di buku 7 keajaiban wanita karya Ummu Aulia, tapi saya tidak tepat mengingat kata per katanya, intinya sih salah satu poin menjadi istri yang baik itu adalah bisa masak. Nah, kalo masalah yang ini agaknya semua wanita berharap bisa masak :D.
Saya juga ga jago masak, ga bisa dibandingin dengan chef Marinka yang sering nongol di tivi, jaoooooh levelnya. Tapi saya bisa masak.
Bagi kalian yang beranggapan ga bisa masak, kalian bukan ga bisa masak tapi GA MAU masak!
Masak itu bisa dipelajari, pertama gagal sangat wajar.
Saya dulu, Mama minta ambilin panci saya kasih wajan. Gimana mau bisa masak, alat masak pun ga tau. Mama saya fix menjadi ibu rumah tangga sekitar saya kelas enam SD, jangankan urusan masak, semua urusan rumah tangga dikerjakan sendiri. Ga ada celah bagi saya untuk masak, bangun pagi mau sekolah sarapan udah siap, siang pulang sekolah tinggal makan, sore pun juga begitu.
Saya merantau ke Bogor juga dengan kemampuan masak nol. Setelah masuk kosan, sekitar 4 taun lalu baru lah saya menyadari kalo masak itu begitu menyenangkan.
Kalo zaman ini begitu memudahkan hidup kita, maka teknologi sekarang juga memudahkan saya untuk membuat masakan apa yang ingin saya makan. Ribuan resep gratis tersedia di internet. Silahkan diikuti resepnya, tapi inget jangan percaya 100%,masak itu soal feeling bukan soal resep! Hahahaha
Selamat Memasak wahai wanita idaman para suami idaman! ;-)
Saya tersenyum, saya sih santai karena saya sangat amat bisa ngebedainnya, tapi bagi gadis 20 tahunan yang ga ngerti bumbu dapur pasti merasa tersindir, dan akan mencari pembelaan :)
Saya mengerti di zaman yang serba praktis ini semuanya pada mau yang instan, semuanya ada, bahkan bumbu untuk tempe goreng pun ada -___-. Tidak seperti di zaman ibu kita masih gadis dulu, bahkan mereka SD pun sudah harus ngerti tentang dapur.
Sekarang, pengen capcay, beli aja ah, pengen soto ayam, tunggu mamangnya lewat komplek, pengen bubur ayam, beli yang instant tinggal seduh aja.
Saya sedikit prihatin, kalo sekarang kita sudah begitu konsumtif apa jadinya 20 tahun mendatang. Lagian makanan serba instant itu apa terjamin kualitas dan kesehatan bagi tubuh?. Kalo masak sendiri kita bisa tentukan sendiri kualitasnya.
Saya pernah baca di buku 7 keajaiban wanita karya Ummu Aulia, tapi saya tidak tepat mengingat kata per katanya, intinya sih salah satu poin menjadi istri yang baik itu adalah bisa masak. Nah, kalo masalah yang ini agaknya semua wanita berharap bisa masak :D.
Saya juga ga jago masak, ga bisa dibandingin dengan chef Marinka yang sering nongol di tivi, jaoooooh levelnya. Tapi saya bisa masak.
Bagi kalian yang beranggapan ga bisa masak, kalian bukan ga bisa masak tapi GA MAU masak!
Masak itu bisa dipelajari, pertama gagal sangat wajar.
Saya dulu, Mama minta ambilin panci saya kasih wajan. Gimana mau bisa masak, alat masak pun ga tau. Mama saya fix menjadi ibu rumah tangga sekitar saya kelas enam SD, jangankan urusan masak, semua urusan rumah tangga dikerjakan sendiri. Ga ada celah bagi saya untuk masak, bangun pagi mau sekolah sarapan udah siap, siang pulang sekolah tinggal makan, sore pun juga begitu.
Saya merantau ke Bogor juga dengan kemampuan masak nol. Setelah masuk kosan, sekitar 4 taun lalu baru lah saya menyadari kalo masak itu begitu menyenangkan.
Kalo zaman ini begitu memudahkan hidup kita, maka teknologi sekarang juga memudahkan saya untuk membuat masakan apa yang ingin saya makan. Ribuan resep gratis tersedia di internet. Silahkan diikuti resepnya, tapi inget jangan percaya 100%,masak itu soal feeling bukan soal resep! Hahahaha
Selamat Memasak wahai wanita idaman para suami idaman! ;-)
Langganan:
Komentar (Atom)
