Tahukah kamu? Bumi ini sebagian besar terdiri atas air, yaitu 70.80% ( 344 000 000 km3), dan sisanya adalah daratan. Namun ternyata, air tawar yang dalam hal ini merupakan air yang dapat dikonsumsi manusia hanya sekitar 2.8% dari total air yang ada di bumi ini, yaitu 9 632 000 km3. Air tawar tediri atas salju (es) 2.15%, air tanah 0.62%, air sungai 0.01%, dan air yang berada di atmosfer 0.001%.
Dari 2.8% air tawar yang ada, hanya 0.63% yang dapat digunakan langsung untuk kehidupan manusia, yaitu air tanah dan sungai. Bayangkan hanya 0.63% dari total air di bumi ini untuk memenuhi kebutuhan hampir tujuh miliar jiwa penduduk bumi. Kebutuhan itu meliputi minum, makan, mandi, mencuci, dan semua kegiatan yang menggunakan air dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak akan pernah bisa terlepas dari peranan air dalam kehidupan ini.
Permasalahannya adalah kita sering sekali tidak menyadari atau mengabaikan bahwa air itu sangat kita butuhkan di tengah-tengah ketersediaannya yang terbatas. Berapa banyak air yang kita buang-buang saat mandi hari ini? Berapa banyak air minum di gelas yang tidak kita habiskan langsung kita buang?
Ya memang air di bumi ini akan tetap sama jumlahnya, ia mengalami siklus setiap harinya. Namun sekali lagi kesadaran kita akan air ini jarang diimbangi dengan rasa syukur untuk menjaganya. Lihat di penghujung tahun ini banjir merata di Indonesia, terutama di ibu kota kita tercinta, malah banjir menjadi semacam “perayaan” tahunan, selalu terjadi. Hutan-hutan serapan air digundulkan diganti dengan bangunan-bangunan tinggi menjulang. Tempat sampah merata di setiap sudut ada termasuk selokan dan sungai menjadi tempat sampah favorit yang menyebabkan selokan tergenang, drainase tidak berfungsi dan ketika hujan air meluap dan banjir.
Akibatnya, krisis air bersih terjadi, jangankan untuk mandi, minum pun sulit. Di sini masyarakat baru menyadari betapa pentingnya peranan air bersih di tengah-tengah keterbatasannya.
Kesadaran itu dari diri sendiri, sebelum terjadi pada kita sendiri mari berhemat air bersih karena jumlah air yang bisa kita gunakan hanya 0.63% dari total air di bumi serta bersyukur dengan menjaga kebersihan dan keseimbangan alam!
Mari lebih mencintai alam ini!
Sumber: http://id.m.wikipedia.org/wiki/Bumi
Minggu, 30 Desember 2012
Selasa, 11 Desember 2012
Penyakit Hati
Kalau baca tulisan temen di socmed apapun tentang kebaikannya,
misalnya:
"terimakasih ya Alloh telah membangunkanku di sepertiga akhir malam"
"Alhamdulillah sudah baca Al Quran pagi ini setelah dhuha, semoga rejeki jadi berlimpah"
"Baca Al Kahfi pagi ini kayaknya oke nih"
"Buka puasa pake apa ya ntar sore"
rasanya itu pengen bilang "apa-apaan sih lw, pengen dibilang alim sama orang"
apalagi kalo yang posting itu yang baru banget belajar ngerjain kebaikan2 itu, makin sewooooot. Masih mending postingnya buat ngingetin bukan cuma pamer.
Itu tandanya kita punya penyakit hati: berprasangka buruk dengan orang lain, merasa lebih baik dari orang lain, merasa lebih tinggi agamanya dari orang lain, maka segeralah beristighfar, Astaghfirullohaladzim.
Demi Alloh aku pun kadang begitu, dan aku lebih memilih sign out daripada penyakit hati ini kian memuncak.
Memang seharusnya ambil sisi positifnya, kalo seseorang posting tentang kejelekannya kita bilang "kok malah bangga sih" , lantas kenapa ada yang posting kebaikan kita malah sewot bilang dia pamer kebaikan yang dia lakuin.
Terlepas dari dia mau pamer kebaikan atau tidak itu sama sekali bukan urusan kita, sama sekali bukan. Itu urusan dia sama Alloh tentang sholat dhuha nya, tentang sholat tahajudnya, tentang baca Al Qurannya.
Aku pun kadang takut melakukan kebaikan gara-gara takut dibilang pamer atau pencitraan. Pernah, dulu waktu aku sedang pergi bersama teman-temanku, selepas sholat aku biasa membaca Al Quran, tapi hari itu aku sedikit ragu karena takut dibilang pencitraan. Tapi aku berpikir lagi, niatku bukan ingin terlihat baik, aku cuma melakukan apa yang biasa aku lakukan dan peduli apa tentang mereka, ini urusanku sama Tuhanku.
Nah, jadi, coba berpikir positif saja, kalaupun tidak bisa, tinggalkan dulu socmed itu. Jangan sampai orang lain berbuat kebaikan kita malah mendapat dosa karena prasangka buruk kita.
Buat pelajaran juga bagi kita, kalau merasa sholat dhuha, sholat tahajud, baca Al Quran, dan puasa sunnah, atau kebaikan-kebaikan lainnya bukan sesuatu yang perlu dipamerkan ato diposting maka kita ga perlu ngepost kayak gitu juga ya.
misalnya:
"terimakasih ya Alloh telah membangunkanku di sepertiga akhir malam"
"Alhamdulillah sudah baca Al Quran pagi ini setelah dhuha, semoga rejeki jadi berlimpah"
"Baca Al Kahfi pagi ini kayaknya oke nih"
"Buka puasa pake apa ya ntar sore"
rasanya itu pengen bilang "apa-apaan sih lw, pengen dibilang alim sama orang"
apalagi kalo yang posting itu yang baru banget belajar ngerjain kebaikan2 itu, makin sewooooot. Masih mending postingnya buat ngingetin bukan cuma pamer.
Itu tandanya kita punya penyakit hati: berprasangka buruk dengan orang lain, merasa lebih baik dari orang lain, merasa lebih tinggi agamanya dari orang lain, maka segeralah beristighfar, Astaghfirullohaladzim.
Demi Alloh aku pun kadang begitu, dan aku lebih memilih sign out daripada penyakit hati ini kian memuncak.
Memang seharusnya ambil sisi positifnya, kalo seseorang posting tentang kejelekannya kita bilang "kok malah bangga sih" , lantas kenapa ada yang posting kebaikan kita malah sewot bilang dia pamer kebaikan yang dia lakuin.
Terlepas dari dia mau pamer kebaikan atau tidak itu sama sekali bukan urusan kita, sama sekali bukan. Itu urusan dia sama Alloh tentang sholat dhuha nya, tentang sholat tahajudnya, tentang baca Al Qurannya.
Aku pun kadang takut melakukan kebaikan gara-gara takut dibilang pamer atau pencitraan. Pernah, dulu waktu aku sedang pergi bersama teman-temanku, selepas sholat aku biasa membaca Al Quran, tapi hari itu aku sedikit ragu karena takut dibilang pencitraan. Tapi aku berpikir lagi, niatku bukan ingin terlihat baik, aku cuma melakukan apa yang biasa aku lakukan dan peduli apa tentang mereka, ini urusanku sama Tuhanku.
Nah, jadi, coba berpikir positif saja, kalaupun tidak bisa, tinggalkan dulu socmed itu. Jangan sampai orang lain berbuat kebaikan kita malah mendapat dosa karena prasangka buruk kita.
Buat pelajaran juga bagi kita, kalau merasa sholat dhuha, sholat tahajud, baca Al Quran, dan puasa sunnah, atau kebaikan-kebaikan lainnya bukan sesuatu yang perlu dipamerkan ato diposting maka kita ga perlu ngepost kayak gitu juga ya.
Minggu, 09 Desember 2012
Untukmu yang Tidak Pernah Tahu
Untukmu yang tidak pernah tahu,
Jika hidup ini adalah keheranan, maka semua tentang hidupku adalah kamu
Aku heran, ketika semua kata lancar kuucapkan kepada lelaki lain, tapi kenapa mulutku membeku ketika di hadapanku adalah kamu
Aku heran, ketika senyum manis yang telah kepersiapkan sebelum kau membuka pintu, tiba-tiba menjadi merah padam tertunduk ketika wajahmu manis membuka pintu
Aku heran, kenapa begitu ingin bertemumu, tapi begitu takut ketika sudah akan bertemu
Aku sungguh tidak ingin itu, tapi semua diluar kendaliku
Aku terdiam, wajahku pucat padam, dan hatiku ...
Ah, andai bisa dilihat aku yakin dia tengah bersemu merah bertemumu
Sekarang aku terduduk di sudut kota ini, di senja sore di bulan Desember penghujung tahun ini
Gelap tak seperti biasanya, dan aku masih dengan keheranan ini
Yang artinya aku masih memikirkanmu, merindukanmu
Dan mungkinkah di sudut jalan sana kau juga merindu?
(Merindu dia yang bukan aku)
Aku tidak pernah tahu perasaanmu, yang aku tahu perasaanku.
Tulisan-tulisan yang kutulis itu kamu
Berharap kau membacanya, tapi menyamarkan tulisan agar kau tak merasa
Sama seperti aku menyamarkan kecanggunganku setiap kali kau di sekitarku
Aku terlalu takut untuk dunia tahu kalau kau penghuni hati kecil ini
Jangankan dunia, kepadamu pun aku tak pernah berniat untuk memberi tahu
Heran? Aku pun heran dengan perasaan ini
Ketika kau bertanya kenapa belum tidur
Harusnya kujawab karena memikirkanmu
Tapi aku tak pernah bisa jujur kepadamu
Aku memang selalu berpura-pura, tapi bukan untuk berdusta
Aku hanya tidak ingin merusak jalan cerita kita
Aku selalu bingung harus bicara apa agar kau tertawa, agar chat kita terus mengalir
Dan nyatanya aku lebih memilih diam, kaku
Bukan tidak senang tapi aku tak pernah biasa denganmu
Kamu terlalu spesial
Untukmu yang tidak pernah tahu
Yang telah mendiami hati ini sejak empat tahun lalu
Yang tertata rapi di sudut bagian hati
Tidak pernah kupupuk tapi kau tetap hidup hingga hari ini
Tanpa aku sadar, mungkin juga kau tak sadar
kau selalu di sekitarku walau tak pernah jadi pemeran utama,
Kau selalu ada
Untukmu yang tidak pernah tahu,
tidak usah cemas akan rasaku
aku tidak pernah berniat merusak yang telah ada
aku sungguh tak pernah ingin perasaan ini
aku hanya tahu kau spesial,
itu saja
Untukmu yang tidak pernah tahu,
Esok lusa, aku hanya ingin membuktikan
keheranan ini akan menjadi nyata atau tergilas oleh waktu
Esok lusa, ketika misteri hidup kita terjawab
Kita akan tetap seperti ini
Tetap tertawa tanpa harus ada yang berubah
Jika hidup ini adalah keheranan, maka semua tentang hidupku adalah kamu
Aku heran, ketika semua kata lancar kuucapkan kepada lelaki lain, tapi kenapa mulutku membeku ketika di hadapanku adalah kamu
Aku heran, ketika senyum manis yang telah kepersiapkan sebelum kau membuka pintu, tiba-tiba menjadi merah padam tertunduk ketika wajahmu manis membuka pintu
Aku heran, kenapa begitu ingin bertemumu, tapi begitu takut ketika sudah akan bertemu
Aku sungguh tidak ingin itu, tapi semua diluar kendaliku
Aku terdiam, wajahku pucat padam, dan hatiku ...
Ah, andai bisa dilihat aku yakin dia tengah bersemu merah bertemumu
Sekarang aku terduduk di sudut kota ini, di senja sore di bulan Desember penghujung tahun ini
Gelap tak seperti biasanya, dan aku masih dengan keheranan ini
Yang artinya aku masih memikirkanmu, merindukanmu
Dan mungkinkah di sudut jalan sana kau juga merindu?
(Merindu dia yang bukan aku)
Aku tidak pernah tahu perasaanmu, yang aku tahu perasaanku.
Tulisan-tulisan yang kutulis itu kamu
Berharap kau membacanya, tapi menyamarkan tulisan agar kau tak merasa
Sama seperti aku menyamarkan kecanggunganku setiap kali kau di sekitarku
Aku terlalu takut untuk dunia tahu kalau kau penghuni hati kecil ini
Jangankan dunia, kepadamu pun aku tak pernah berniat untuk memberi tahu
Heran? Aku pun heran dengan perasaan ini
Ketika kau bertanya kenapa belum tidur
Harusnya kujawab karena memikirkanmu
Tapi aku tak pernah bisa jujur kepadamu
Aku memang selalu berpura-pura, tapi bukan untuk berdusta
Aku hanya tidak ingin merusak jalan cerita kita
Aku selalu bingung harus bicara apa agar kau tertawa, agar chat kita terus mengalir
Dan nyatanya aku lebih memilih diam, kaku
Bukan tidak senang tapi aku tak pernah biasa denganmu
Kamu terlalu spesial
Untukmu yang tidak pernah tahu
Yang telah mendiami hati ini sejak empat tahun lalu
Yang tertata rapi di sudut bagian hati
Tidak pernah kupupuk tapi kau tetap hidup hingga hari ini
Tanpa aku sadar, mungkin juga kau tak sadar
kau selalu di sekitarku walau tak pernah jadi pemeran utama,
Kau selalu ada
Untukmu yang tidak pernah tahu,
tidak usah cemas akan rasaku
aku tidak pernah berniat merusak yang telah ada
aku sungguh tak pernah ingin perasaan ini
aku hanya tahu kau spesial,
itu saja
Untukmu yang tidak pernah tahu,
Esok lusa, aku hanya ingin membuktikan
keheranan ini akan menjadi nyata atau tergilas oleh waktu
Esok lusa, ketika misteri hidup kita terjawab
Kita akan tetap seperti ini
Tetap tertawa tanpa harus ada yang berubah
Sabtu, 08 Desember 2012
Wanita, Masak, dan Idaman para Suami
Pagi tadi buka Twitter, seorang teman ngetwit "wanita usia 20an yg g bs bedain jahe sama lengkuas itu..plis deh..jgn ke mall aja,tukang sayur noh"
Saya tersenyum, saya sih santai karena saya sangat amat bisa ngebedainnya, tapi bagi gadis 20 tahunan yang ga ngerti bumbu dapur pasti merasa tersindir, dan akan mencari pembelaan :)
Saya mengerti di zaman yang serba praktis ini semuanya pada mau yang instan, semuanya ada, bahkan bumbu untuk tempe goreng pun ada -___-. Tidak seperti di zaman ibu kita masih gadis dulu, bahkan mereka SD pun sudah harus ngerti tentang dapur.
Sekarang, pengen capcay, beli aja ah, pengen soto ayam, tunggu mamangnya lewat komplek, pengen bubur ayam, beli yang instant tinggal seduh aja.
Saya sedikit prihatin, kalo sekarang kita sudah begitu konsumtif apa jadinya 20 tahun mendatang. Lagian makanan serba instant itu apa terjamin kualitas dan kesehatan bagi tubuh?. Kalo masak sendiri kita bisa tentukan sendiri kualitasnya.
Saya pernah baca di buku 7 keajaiban wanita karya Ummu Aulia, tapi saya tidak tepat mengingat kata per katanya, intinya sih salah satu poin menjadi istri yang baik itu adalah bisa masak. Nah, kalo masalah yang ini agaknya semua wanita berharap bisa masak :D.
Saya juga ga jago masak, ga bisa dibandingin dengan chef Marinka yang sering nongol di tivi, jaoooooh levelnya. Tapi saya bisa masak.
Bagi kalian yang beranggapan ga bisa masak, kalian bukan ga bisa masak tapi GA MAU masak!
Masak itu bisa dipelajari, pertama gagal sangat wajar.
Saya dulu, Mama minta ambilin panci saya kasih wajan. Gimana mau bisa masak, alat masak pun ga tau. Mama saya fix menjadi ibu rumah tangga sekitar saya kelas enam SD, jangankan urusan masak, semua urusan rumah tangga dikerjakan sendiri. Ga ada celah bagi saya untuk masak, bangun pagi mau sekolah sarapan udah siap, siang pulang sekolah tinggal makan, sore pun juga begitu.
Saya merantau ke Bogor juga dengan kemampuan masak nol. Setelah masuk kosan, sekitar 4 taun lalu baru lah saya menyadari kalo masak itu begitu menyenangkan.
Kalo zaman ini begitu memudahkan hidup kita, maka teknologi sekarang juga memudahkan saya untuk membuat masakan apa yang ingin saya makan. Ribuan resep gratis tersedia di internet. Silahkan diikuti resepnya, tapi inget jangan percaya 100%,masak itu soal feeling bukan soal resep! Hahahaha
Selamat Memasak wahai wanita idaman para suami idaman! ;-)
Saya tersenyum, saya sih santai karena saya sangat amat bisa ngebedainnya, tapi bagi gadis 20 tahunan yang ga ngerti bumbu dapur pasti merasa tersindir, dan akan mencari pembelaan :)
Saya mengerti di zaman yang serba praktis ini semuanya pada mau yang instan, semuanya ada, bahkan bumbu untuk tempe goreng pun ada -___-. Tidak seperti di zaman ibu kita masih gadis dulu, bahkan mereka SD pun sudah harus ngerti tentang dapur.
Sekarang, pengen capcay, beli aja ah, pengen soto ayam, tunggu mamangnya lewat komplek, pengen bubur ayam, beli yang instant tinggal seduh aja.
Saya sedikit prihatin, kalo sekarang kita sudah begitu konsumtif apa jadinya 20 tahun mendatang. Lagian makanan serba instant itu apa terjamin kualitas dan kesehatan bagi tubuh?. Kalo masak sendiri kita bisa tentukan sendiri kualitasnya.
Saya pernah baca di buku 7 keajaiban wanita karya Ummu Aulia, tapi saya tidak tepat mengingat kata per katanya, intinya sih salah satu poin menjadi istri yang baik itu adalah bisa masak. Nah, kalo masalah yang ini agaknya semua wanita berharap bisa masak :D.
Saya juga ga jago masak, ga bisa dibandingin dengan chef Marinka yang sering nongol di tivi, jaoooooh levelnya. Tapi saya bisa masak.
Bagi kalian yang beranggapan ga bisa masak, kalian bukan ga bisa masak tapi GA MAU masak!
Masak itu bisa dipelajari, pertama gagal sangat wajar.
Saya dulu, Mama minta ambilin panci saya kasih wajan. Gimana mau bisa masak, alat masak pun ga tau. Mama saya fix menjadi ibu rumah tangga sekitar saya kelas enam SD, jangankan urusan masak, semua urusan rumah tangga dikerjakan sendiri. Ga ada celah bagi saya untuk masak, bangun pagi mau sekolah sarapan udah siap, siang pulang sekolah tinggal makan, sore pun juga begitu.
Saya merantau ke Bogor juga dengan kemampuan masak nol. Setelah masuk kosan, sekitar 4 taun lalu baru lah saya menyadari kalo masak itu begitu menyenangkan.
Kalo zaman ini begitu memudahkan hidup kita, maka teknologi sekarang juga memudahkan saya untuk membuat masakan apa yang ingin saya makan. Ribuan resep gratis tersedia di internet. Silahkan diikuti resepnya, tapi inget jangan percaya 100%,masak itu soal feeling bukan soal resep! Hahahaha
Selamat Memasak wahai wanita idaman para suami idaman! ;-)
Kamis, 29 November 2012
Kehangatan Sumatra Lewat Kopi Andalannya
Pernah nonton The Bucket List yang disutradarai Rob Reiner?, ada yang membuat spesial bagi saya di film ini, yaitu Kopi Luwak Sumatra yang terlihat di beberapa scene dan juga dibahas dalam beberapa dialog antara pemeran utama. Nah, ketahuan kan ya kalau kopi asal Sumatra ini sudah terkenal sampai luar negeri. Bangga saya terlahir di pulau ini. Lewat jejak petualang Daihatsu Terios 7-Wonders ayo kita kenali kopi andalan dari Pulau Suwarnadwipa ini.
Ada lima provinsi di pulau Sumatra sebagai penghasil kopi terbesar, yaitu: Lampung, Sumatra Selatan, Bengkulu, Sumatra Utara, dan Nanggroe Aceh Darussalam. Produk kopi di Sumatra beragam, dari kopi hitam biasa sampai kopi luwak. Mulai dari ujung Sumatra, Lampung merupakan provinsi pertama yang akan kita injak. Liwa yang merupakan daerah Lampung Barat merupakan salah satu sentra penghasil kopi di Sumatra yang terkenal dengan Kopi Liwa-nya. Di daerah ini telah di produksi kopi Luwak dan juga mulai dikembangkan kopi beraroma gingseng dan pinang.
Setelah Lampung, Sumatra Selatan merupakan daerah terbesar penghasil kopi. Kopi di sini dikenal dengan nama kawo atau kawe. Ada tiga daerah di Sumatra Selatan sebagai sentra penghasil kopi, yaitu: Lahat, Pagar Alam, dan Empat Lawang. Tempat ini spesial bagi saya, Pagar Alam dan Empat Lawang, di sana orang-orang terbaik di hidup saya dilahirkan, di sana juga Kakek Nenek saya menghidupi orang tua saya lewat kebun kopinya. Hal ternyaman di sana adalah ketika saya bangun pagi menghirup wanginya bunga kopi yang mulai mekar ditemani secangkir kopi panas di tengah dinginnya udara pagi. Sederhana, tapi indah. Lahat, Pagar Alam, dan Empat Lawang merupakan tiga kabupaten yang saling bersebelahan, tidak heran jika kopi yang dihasilkan di sana sama, yaitu kopi hitam asli. Yang spesial dari kopi Sumatra Selatan ini adalah hasil percampuran arabica dan robusta yang membuat para pencinta kopi tahu kekhas-annya.
Mulai ke tengah Sumatra, kita singgahi Curup yang berada di Bengkulu. Kota yang terkenal dengan sebutan Kota Raflesia ini terkenal dengan produksi kopi robusta, di provinsi ini juga di produksi Kopi Luwak Bengkulu yang sudah terkenal. Menuju ke Pangkal Sumatra, ada Mandailing Natal di Provinsi Sumatra Utara sebagai penghasil kopi. Di daerah ini pertama kali kopi arabica ditanam di Indonesia oleh Belanda pada 1699 sehingga menjadi pusat kopi arabica pada waktu itu.
Daerah penghasil kopi terakhir terletak di Nanggroe Aceh Darussalam yang berpusat di Takengon. Siapa yang tak kenal Kopi Gayo asal Takengon ini sih? Kopi arabica dengan harga yang mencapai ratusan ribu ini sudah terkenal mendunia dan sangat digemari oleh para pecinta kopi.
Nah sudah lebih mengenal kan kekayaan kopi Sumatra?, terimakasih buat mobil sahabat petualang yang sudah mengajak kami mengenal lebih dalam coffee paradise di tanah Sumatra. Dan untuk berpetualang sudah terbukti Terios menjadi sahabat kita untuk menjelajahi tiap sudut keindahan alam ini. Mari jelajahi dan rasakan kehangatan Sumatra lewat kopi andalannya!

Senin, 29 Oktober 2012
Pagi ini
Pagi ini, pukul tiga pagi saya pulang ke kosan setelah mengantar kakak saya ke Pool Bus Damri. Memberhentikan angkot 03 (Trayek Baranang Siang - Bubulak) di bawah Tugu Kujang, di dalamnya terdapat tiga penumpang. Sedikit lega, karena ga cuma berdua doang sama supirnya. Tapi di tengah perjalanan, tepatnya di Jembatan Merah tinggal saya sama supirnya. "Mau kemana Neng?" | "Laladon" | "Darimana mana emang jam segini?" | "Antar kakak ke Damri tadi" | "Sendirian aja?" | "Iya" | "Ga takut di bawa orang?" | "Insyaalloh dijaga sama Alloh" ||
Heeeeeu..., Jangan pikir aku ga takut ya, sepanjang jalan aku siaga terus dengan sekitar. Gimana ga takut, cewek, sendirian, 23 tahun, masih perawan.
Orangtuaku pun ga bakalan membiarkan anaknya ini keluar di pagi buta sendirian. Tapi aku tidak hidup di bawah ketiak orangtuaku lagi, nasib anak rantau yang harus bisa melakukan apa-apa sendirian :).
Tapi, rasa takut itu terlalu kecil di hati aku. Entahlah, aku begitu percaya bahwa banyak orang baik di dunia ini, di tengah maraknya berita Patroli Indosiar yang selalu berubah tiap harinya. Bagiku, aku punya keperluan dan mereka pun juga begitu, jadi tak perlu saling mengganggu, dan semoga Alloh selalu melindungi dalam setiap perjalanan sendirian ini. :)
Minggu, 21 Oktober 2012
Jogja itu romantis
Minggu malam dari Parang Teritis menuju Ambarukmo Plaza, dengan bokong pegel banget seharian nyupir motor muter muter Jogja, satu sudut pandang membuat aku lupa tentang capek nya badan ini, di dekat Pasar Seni Gabusan aku melewati dua orang yang kuduga suami istri, boncengan sepeda. Sederhana tapi romantis {}. Jogja itu romantis :)
Selasa, 16 Oktober 2012
Enak ya jadi lelaki
Hari ini,
30 Dzulkaidah 1433 H artinya besok 01 Dzulhijjah 1433 H.
Yeay.
______“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan DzulHijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” - HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim
______“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …” - HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
Di hari yang lalu saya sudah niatkan puasa 9 hari di awal bulan Dzulhijjah, ladang pahala nih.
Hari ini, semua niat tinggal niat, kemarin tamu bulanan dateng tanpa persetujuan saya.
Ya, beginilah nasib kami para wanita, ibadah kami kadang tergantung jadwal bulanan kami.
Tidak hanya puasa bulan ini, di Syawal lalu saya harus kejar-kejaran dengan waktu antara puasa bayar hutang 9 hari, puasa sunnah syawal 6 hari, belom lagi dengan jadwal haid di bulan itu juga sekitar satu minggu, ditotal itu jumlah waktunya 22 hari sedangkan disediakan hari dibulan syawal untuk puasa 29 hari, dan kalian tahulah godaan gede banget di awal2 idul fitri buat puasa, hehehe.
Beda ya dengan lelaki, mereka tidak pernah diharamkan puasa kecuali memang hari itu hari yang diharamkan untuk puasa, waktu mereka banyak banget buat mencangkul di ladang pahala setiap waktunya. Enak ya jadi lelaki.
selain itu nih ya, gara2 haid ini hati kami yang lagi kuat2nya dekat dengan Alloh: sholat tepat waktu, baca Al Quran setelah sholat, sholat dhuha, qiyamul lail, puasa senin kamis yang sudah terjadwal dengan baik, harus diperjuangkan dari awal lagi gara2 dikasih kenikmatan satu minggu di waktu haid tanpa melkukan ibadah apapun.
Sejujurnya haid ini, cobaan bagi kami -___-
"Yang penting niat", ada yang bilang begitu. Tapi mana ada kenikmatan ibadah yang didapat kalo cuma niat tanpa bisa melaksanakannya. Es jeruk tetep ga terasa nikmat kan kalo kita cuma niat beli tanpa melaksanakan dan meminumnya :D
Judul dan isi tulisan ini, tidak bermaksud mengeluh kepada takdir dan semoga saya dijauhkan dari sifat mengeluh (astaghfirulloh aladzim), tapi lebih supaya kita bisa bersyukur dan mewujudkan rasa syukur itu dalam tindakan. Para lelaki yang mampu dan wanita yang tidak berhalangan semoga tergerak untuk beramal sebanyak-banyaknya disepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, termasuk puasa sunnah di sembilan hari pertamanya.
Dan 9 hari lagi semoga saya bisa ikut puasa Arofah-nya (amin)
______“Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” - HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qotadah.
Minggu, 30 September 2012
Kehilangan....
Kehilangan....
Sebenarnya kehidupan ini tentang bagaimana kita mampu mengendalikan perasaan di hati, dan menerima bagaimana ketentuan Alloh berjalan seharusnya.
Seperti kehilangan, suatu rasa yang membuat kehidupan di depan serasa tak akan utuh lagi.
Aku pernah merasa kehilangan, dan mungkin kehilangan yang pernah kalian alami jauh lebih menyayat dari apa yang aku rasakan.
Kehilangan benda yang kita miliki, orang yang kita sayangi, atau impian yang sudah kita rencanakan.
Sejatinya, kehilangan ini adalah tentang harapan dimasa depan yang terputus karena sesuatu yang telah pergi saat ini. Dan semakin besar harapan akan masa depan itu, semakin nelangsa hati menerima kehilangan.
Bandingkan, kehilangan uang seribu rupiah mungkin tidak akan kita permasalahkan atau mungkin tidak kita ketahui kalo uang itu hilang, lain halnya kalo yang hilang uang satu juta rupiah. Sama sama uang, tapi harapan kita tentang uang itu berbeda. Apalah seribu rupiah, dapat tahu pedas satu biji di sudut jalan sana, sedanghkan satu juta rupiah bisa kau gunakan untuk menyicil kredit motor, membeli beberapa helai pakaian, atau untukku membeli setumpuk buku di Gramedia sana yang sudah kuincar.
Kehilangan yang menyakitkan itu, kehilangan sesuatu dengan harapan massa depan yang ingin kita gapai begitu besar, begitu bahagia, dan begitu menjanjikan.
Bagaimana seorang anak terharu disaat wisuda tanpa orang tua yang lengkap, bagaimana seorang anak menangis ketika menikah tanpa wali di hadapannya, bagaimana seorang kekasih merana ketika lelakinya pergi, bagaimana seorang ibu merintih ketika bayi dalam kandungannya pergi sebelum melihat dunia.
Semua kesedihan itu karena harapan begitu besar di masa lalu tentang masa depan yang begitu indah terencana, biasanya diiringi dengan penyesalan.
Dan benarlah, kalo para leluhur berkata: selalu ada hikmah dari setiap kejadian (termasuk kehilangan)
.
Aku tidak pernah tahu apa itu penerimaan sampai aku merasakan apa itu kehilangan.
Bagiku semua itu omong kosong, terlalu gampang untuk mengatakan dan begitu menyesakkan untuk menjalaninya.
Namun, kita tidak akan mati karena kehilangan, waktu tetap 24 jam, pagi tetap akan berganti malam, dan kita manusia bisa apa selain menerima.
Dan diantara waktu yang terus berputar, aku selalu terus berusaha meyakinkan diri bahwa kehilangan mengajarkan kekuatan
Rabu, 02 Mei 2012
Bapak
Walaupun Bapak pemarah, semua semua harus perfect, suka lupa Janji,
tapi mana pernah dia biarin anaknya sedih, Bapaklah yang bilang ke aku "dunia ga selebar daun kelor, dek" waktu aku patah hati :D
Selalu ngirim uang walau anaknya satu ini borosnya amit2 :D
Bapak ga pernah lemah lembut kalo bertemu secara langsung, tapi kalo anaknya jauh aduuuh denger suaranya sayang banget rasanya.
Bapaklah manusia yang mengajarkan kami, anak-anaknya arti merdeka.
Kalian pernah ditanya mau masuk SD ga?
aku iya.
Sejak kecil kami selalu ditanya setiap mau ngelanjut ke sekolah yang lebih tinggi "Mau sekolah ato ga?", untungnya semua anak2nya mau sekolah semua, hahahaha
Ga peduli berapapun biaya, asal anaknya mau pasti akan diusahakan ditengah kesederhanaan keluarga kami.
Sekarang tiga anaknya: Sepriansyah, ST; Titi Marantika, ST; Tri Yulni, STP, ya kami telah menyelesaikan studi sarjana kami.
Bangga, iya tentu beliau bangga, di hapenya diam2 aku liat ada draft yg bertuliskan tiga nama anaknya yang sudah bergelar semua, satu impiannya terwujud: Pendidikan anak2nya harus lebih tinggi daripada beliau.
Setelah kami lulus, Bapakpun masih cemas dengan kami, Bapak masih menawarkan kakak2ku untuk jadi PNS, nyatanya ditolak dengan dua orang kakakku, dan ga masalah bagi Bapakku karena kami Merdeka.
Seperti sebulan lalu di ruang tivi bapak bilang ke aku "Bukannya apa2 dek, kalo adek ga kerja ntar kalo udah nikah terjadi apa2 dengan suami gimana, liat mama Novi hidupnya sekarang susah banget setelah ditinggal suami, Mama kalo seandainya Bapak ninggal duluan masih punya pensiunan Bapak jadi masih bisa makan. Sekarang kalo mau usaha ya sudah gapapa, tapi harus bener2 ditekuni jangan jadi tempat coba2. Kalo usahanya masih di Bogor, ya sekalian ngelanjut S2 aja, kalo udah bosen usahanya ya bisa jadi dosen ntar"
Saya tidak menjawab apapun saat itu, tidak mengiyakan tidak juga mentidakkan.
Heeee, memang diantara tiga anaknya akulah yang memilih jadi wirausaha.
Kalian tahu kenapa? aku hanya mau punya waktu dan uang.
Punya waktu penuh buat keluarga aku nanti, suami dan juga anak, jadi ibu rumah tangga seutuhnya, tapi juga punya usaha untuk hidup berkecukupan.
Tapi S2, aku sudah malas berurusan dengan diktat dan buku kuliah lainnya. Sisi lain hati aku juga ingin membahagiakan orang tuaku.
Bapak, kalo sudah jalannya, adek pasti bakal ngelanjut S2.
Kita liat Agustus nanti ya :))
Love you :*
Langganan:
Komentar (Atom)
