Senin, 18 Maret 2013

Kawah Ratu

16 Maret 2013, Yeay hari ini aku akan kembali ke alam lagi, kangen rasa capek jalan kaki :D, sebenernya kangen menikmati tenangnya alam. Tujuannya adalah Kawah Ratu yang ada di kaki Gunung Salak, Bogor.

Janjian sama temen-temenku ini, ga usah tanya kepastiannya deh, ga usah terlalu banyak berharap, yang dateng adalah yang berangkat. Hahaha
Dan ga usah marah kalo janji berangkat 07.00 kenyataannya berangkat 08.00, udah biasaaa :)
Okeh, kami fix berangkat enam orang: aku,  Waqif, Eno, Ricky, Saleh, dan temen mereka (Aris). Kita berangkat jadinya naik motor, perjalanan sekitar satu jam dari kampus IPB Dramaga, kita sampai di Pintu Taman Nasional Gunung Salak, di sini satu motor dikenakan biaya masuk Rp. 10000. Perjalanan kita lanjutkan dengan jalan kaki, dan ga lupa bayar lagi, Rp.5000/ orang untuk menuju ke Kawah Ratu. Baru jalan 3 menit-an, kok udah ngos-ngosan ya. *Apaaaah????? lemah ini, perjalanan masih dua jam lagi, Yung -_-*. Ternyata perlu untuk menyesuaikan diri dulu, dan Saleh berbaik hati tukeran tas karena tas aku lebih berat *Ih, bawa apa sih kamu, Yung! -_-*

Petualangan kali ini beda, mereka sudah ga busuk lagi, sudah menampakkan sifat aselinya, ga peduli lagi deh aku mau jatoh atau jalannya agak susah, ga ada lagi yang nanya "bisa ga, Yung?". Aku berharap untuk hari ini saja mereka jadi busuk lagi, hahahaha.

Di tengah perjalanan kita kepisah jadi dua: aku, Waqif, dan Ricky kepisah dari tiga yang lain, berhubung guide nya Eno berarti kamilah yang kesasar -_-. Ga panik, malah becanda-becanda dan memang ternyata banyak jalan menuju Kawah Ratu :d, akhirnya sekitar 5 menitan ketemu lagi sama mereka. Sepanjang perjalanan ini airnya jernih banget, dingin, segeeerrr, dan  kita menyempatkan diri berenti di salah satu aliran air yang agak gede, untuk istirahat dan juga maen aer.


Lanjut lagi perjalanan, kita sampai di kawah mati, nah di sini mulai kecium bau belerangnya. Disebut Kawah Mati kayaknya karena pohon-pohonnya pada mati kali ya gara-gara belerangnya.


Dan kita sampai di Kawah Ratu, Yeay, dua jamnya udah lewat, I love this time: menyapa alam, bercerita dalam diam, dan menenangkan diri dari rutinitas yang monoton. "Hei alam, ada yang harus kau tahu tentang ceritaku"!




Kita makan di sini, menunya adalah: Pepes ikan, martabak mie, dan nasi lima porsi untuk enam orang, *Waqif, lain kali masak nasinya banyakan ya!*



16:00, waktunya pulang, dan sampai jumpa Kawah Ratu. Sampai jumpa lagi alam, secepatnya!




Di tengah perjalanan pulang kita nemuin Nanas hutan, ternyata beneran ada nanas hutan yang pohonnya (pohon? apa tanaman ya) jauh banget gedenya dari nanas biasa. Aku aja ga percaya kalo itu pohon nanas kalo ga liat buahnya langsung.
Nah, diperjalanan ini juga aku baru tahu kalo rotan itu ada durinya.




Aku mau menikah!

Ok, kali ini kembali lagi tentang cinta, tentang hubungan, tentang nikah.
Duduk-duduk dengan teman-temanku sekedar becanda larinya ke nikah, masuk kosan temen kosan lagi curhat tentang keinginannya menikah, di kantor juga terdengar kata nikah, oh God, harus lari kebelahan dunia mana supaya tidak terdengar kata itu.

Wanita dengan usia segini rentan sekali nampaknya dengan urusan menikah. Untungnya udah ga ada lagi iklan alat kontrasepsi yang menyinggung "kapan nikah?", kalo masih aku pasti bakal bilang "itu iklan nanya ke gue?" -__-

Hahaha, siapa sih yang ga pengen nikah? Menggenapkan separuh agama boooo, ada yang bisa diberi perhatian tanpa malu-malu, ada teman berbagi, ada teman yang menguatkan, ada yang selalu akan menenangkan.
Kalo ditanya mau nikah, aku ya mau, tapi hidup ini terlalu singkat untuk memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Selagi menunggu sang Mr. Right yang entah ada di sudut belahan mana aku ingin menghabiskan waktu menikmati hidup ini. Ya itu salah satu cara mengalihkan perhatian juga tentunya, siapa sih yang ga penasaran dengan Mr. Right nya di tengah milyaran lelaki yang ada di bumi ini, sambil aku meyakinkan diri kalo cinta akan menemukan jalannya sendiri. Ada banyak tempat yang belum aku kunjungi, ada banyak tempat tersembunyi yang begitu menenangkan, ada banyak tempat yang begitu melelahkan mencapainya tapi begitu puas menaklukkannya. Selagi sendiri, selagi bebas, mari menikmati hidup bersama teman-teman, mengunjungi tempat sebanyak-banyaknya sebelum Mr. Right itu keburu dateng, ada di depan mata dan aku sepenuhnya milik dia.

Minggu, 03 Maret 2013

Menikmati Kegalauan

Memilih sore ini dengan berjalan di sekitar kosan, aku bertemu seorang ibu berkisar 50an tahun. Dalam benakku, aku akan menua, seperti ibu itu.
Layaknya dulu dia muda seperti aku. Jatuh hati, galau tentang jodoh, menikah, memiliki anak, mengurus keluarga, memiliki cucu, lalu menjalani masa tuanya.
Semua akan terlalui dan akan jadi biasa-biasa saja, tidak akan ada yang istimewa kecuali kenangan yang layak untuk tidak dilupakan.
Sama seperti hal-hal yang telah kita alami, aku alami di waktu-waktu sebelumnya. Seperti bagaimana indahnya jatuh hati, berbunga-bunga masa-masa pendekatan, sampai tahu rasanya patah hati. Semua yang begitu indah atau begitu menyakitkan itu tidak akan menjadi spesial lagi setelah terlewati, setelah hati merasakan netral lagi, semua biasa saja!
Sama seperti ketika dulu begitu menggebu-gebu ketemu orang yang kita suka, tak berani menatap matanya,  atau  berusaha mengendalikan kecanggungan di depan si dia. Semua indah, tapi dulu, sekarang ketika semua sudah biasa saja apa iya masih ada rasa yang bergejolak di dalam dada itu? tidak tentu J.
Masa-masa ini, masa-masa galau tentang pasangan hidup. Wanita, hampir 24 tahun,single, apa sih yang dipikirkan tentang masa depan? Ya, salah satunya adalah teman hidup. Merasakan jatuh hati, memikirkan “who is Mr. Right?”, bertanya kapan hari indah itu datang, dan semua misteri tentang jodoh. Ah, semua itu menggalaukan, menyita waktu, menyita kesenangan, dan membuat hilang mood ketika seorang yang mungkin calon jodoh membuat bete.
Berapa banyak status galau nan romantis?, galau nan menyedihkan?,  puisi-puisi indah bertebaran tentang cinta atau patah hati. Semua adalah ekspresi perasaan tentang kegalauan pasangan hidup.
Tapi kapan lagi coba harus galau tentang pasangan hidup ini kalau bukan sekarang? Kita sampai di waktunya, maka nikmati saja. Ketika kita telah menua seperti ibu yang kutemui itu kita tidak akan bisa lagi menggalau seperti hari ini, jangankan galau, sempat memikirkan kegalaupun mungkin tidak.
Secangkir hot green tea latte dan biskuit di sore hari, kenapa tidak kita coba menikmatinya :’) 



Jumat, 01 Maret 2013

Pendidikan VS Jodoh

Percakapan antara teman dan aku tentang pendidikan dan jodoh. Hal ini terjadi ketika dia mengetahui niat aku untuk melanjutkan kuliah S2. Dia bilang "ntar suami kamu minder loh kalo kamu S2, berarti kamu harus cari suami yang jadi pengusaha, atau S2 juga, atau polisi, atau tentara, dokter, atau ,,,,, kalo ga nanti dapet sisa, mau?"
Hihihihi, ini menggelitik bagi aku, setelah pendidikan yang selalu dikaitkan dengan pekerjaan sekarang pendidikan juga dikaitkan dengan jodoh, atau mungkin memang paradigma ini sudah lama ada di masyarakat aku pun ga tau ya. Lucu sih, ketika tingkat pendidikan itu ternyata berpengaruh terhadap profesi calon suami. Lucunya lagi ketika lelaki yang berpendidikan tinggi malah dianggap gampang untuk mendapatkan pasangan, namun berkebalikan dengan wanita yang berpendidikan, cenderung ini tidak adil untuk mereka, wanita yang berpendidikan. Mungkin ini berkaitan dengan egonya lelaki yang tak mau "direndahkan" :D.

Lantas apa aku harus mengurungkan niat untuk melanjutkan S2 demi peluang mendapatkan jodoh lebih besar? Hahahaha, tentu tidak. Bagiku hanya lelaki picik yang nantinya tidak jadi menikahi wanita yang dia cintai hanya karena perbedaan tingkat pendidikan. Aku berasal dari keluarga sederhana yang tidak pernah membedakan orang dari tingkat kekayaan ato pendidikan. Bapakku hanya bilang "asal Islam bapak terima" sederhana sekali kan syarat orangtuaku.

Ada banyak pertimbangan bagiku untuk melanjut S2, tapi jelas bukan ingin pamer gelar apalagi cari kekayaan. Salah satunya, seperti kata aktris Dian Sastro Wardoyo "Entah berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas". Dan tentunya anakku nanti harus lebih cerdas dari aku :)


Selasa, 26 Februari 2013

Mereka telah memilihmu!

Selalu ada pertanyaan dalam diri aku tentang satu sifat makhluk bernama laki-laki. Terkadang aku selalu menyamaratakan lelaki atas sifat dari beberapa orang yang pernah ku tahu atau dengar. Dan ya, aku tahu beberapa itu tidak layak untuk dijadikan pendugaan parameter untuk mengatakan bahwa semua lelaki memiliki sifat sama.
Tapi menggelitik bagi aku ketika seseorang berkata "kalo ga sama dia, nikahnya sama lw ya? :d".
Atau yang dialami temanku yang bertemu orang di massa lalunya yang juga sudah memiliki pasangan namun menyelipkan harapan untuk hidup bersama dengan temanku.
Ini konyol, ketika ada seorang di sana yang mereka akui sebagai pasangan tetapi mengharapkan wanita lain untuk mendampinginya. Ada apa dengan kata setia? lalu untuk apa menjalin hubungan dengan orang lain yang diakui sebagai pasangan di hadapan semua orang tetapi tidak benar-benar cinta?.
Tidak semua begitu tapi, masih ada lelaki yang memilih diam atas rasa yang berkecamuk. Mereka bukan tidak setia mereka terjebak atas rasa yang telah ada. Kisah orang terdekatku, seseorang yang menjauh dari temannya hanya karena tidak memiliki pilihan lain agar tak menyakiti siapapun. Disatu sisi pertemanan yang dekat itu menimbulkan kenyamanan, di sisi lain seorang wanita baik hati telah mendampinginya. Dan, tidak ada yang salah atas rasa yang ada, dia memilih untuk setia.

Hmmmm.... aku memahami satu hal, mungkin dibalik wanita yang diakui sebagai pasangan bagi lelaki, akan ada satu wanita lain sebagai "cadangan".
Buat si para "cadangan" harus pandai-pandai nih menjaga rasa agar tak salah langkah.
Dan buat para wanita yang telah dipilih, jangan takut "mungkin memang bukan yang terbaik, bukan yang terhebat, tapi kamu yang paling tepat" karena mereka telah memilihmu!

Selasa, 19 Februari 2013

Senja

Senja ini jingga
Memberi harapan berbeda di tengah biru yang membosankan lama
Senja ini beda
Datang memberi kepuasaan saat Surya mengucapkan selamat tinggal
Senja ini indah
Dan sayangnya,
semua ini sementara!

Sabtu, 02 Februari 2013

Gunung Kapur

Selalu ada yang menarik dari alam, bagiku alam itu menenangkan.
Seperti malam ini, 30 Januari 2013 akhirnya jadi juga naik gunung Kapur Ciampea bersama Asa, Eno, Ihsan, Kinan,  Ricky, Roman, Saleh, danWaqif yang sebagian besar adalah teman Petualangan Sembilanku.

Ada apa di sana? Tidak ada apa-apa. Sama sekali tidak spesial, bahkan sebagian orang akan menganggap ini hanya buang-buang waktu. Capek-capek ke atas yang jalannya cukup terjal, cuma untuk bermalam di sana.
Tapi bagiku, ini menyenangkan. Menikmati malamnya Bogor dari atas, menyapa bulan lebih dekat, menyaksikan terbitnya matahari, hijaunya Bogor pagi hari dengan pemandangan gunung Salak dan Pangrango.

Tapi perjalanan ke atas untuk cewek macam aku memang ga bisa dibilang gampang. Ini nih satu hal yang bikin aku rada malas kalo jalan cuma cewek sendiri, fisikku disamain dengan mereka, dibilang lemah, dibilang rempong, bawel pada ah. Padahal kalo dibandingin dengan naik gunung Batok di Petualangan Sembilan aku lebih banyak berhentinya loh.
Untungnya, kali ini ga diPHPin sama Eno, waktu ditanya masih jauh ga, Eno jawab lumayan, dan ternyata udah deket, jadi ga kerasa :D.

Ini perjalananku kedua ke gunung Kapur, sekarang sih ga terlalu berat naik kapur kalo dibandingin yang pertama dulu, dulu selalu takut ngeliat ke atas soalnya ada daerah yang harus dilewati hampir 90 derajat kemiringannya.

Sebisa mungkin untuk ga tidur, pengen menikmati alam, tapi ga bisa, matanya perih, harusnya tidur dulu sebelum berangkat ini.

Enak nih tempat buat merenung. Semoga akan ke sana lagi secepatnya, murah dan deket  :D