Aku masih berkutat dengan jurnal yang tidak sampai 30 menit bisa diunduh 30 lebih jurnal ilmiah, tapi butuh waktu yang lama buat memahaminya, terlebih lagi bahasa inggirs. Dari balik kamar aku mendengar suara lantang dari pengeras suara, ya hal ini mulai terbiasa terdengar belakangan ini di kampus kami. Kali ini beda, bukan soal demo kenaikan BBM atau menuntut presiden mundur, konsep green campus yang mulai diterapkan di IPB menuai protes, baik dari mahasiswa maupun warga sekitar. Konsep green campus ini mengharuskan pengguna sepeda motor memarkirkan kendaraanya di parkir terpusat dengan membayar Rp.500 (sebelumnya gratis dan berada di sekitaran gedung yang ingin kita tuju) untuk kemudian dapat berjalan kaki, naik sepeda (sewa Rp. 1), menggunakan jasa bus Rp.1000 (yang dulunya gratis), atau moli (mobil listrik) Rp. 2000 agar sampai ke tempat tujuan, sepeda motor dilarang berkeliaran di sekitar kampus pada jam operasional.
Mahasiswa
keberatan dengan biaya parkir, bus, moli, dan paling memberatkan adalah
perlakuan yang tidak setara antara pengguna mobil dan sepeda motor, dimana
mobil bisa berlalu lalang bebas di kampus serta bisa parkir dimanapun (termasuk
di pinggir jalan). Sedangkan, warga berdemo karena ojeg yang merupakan sumber
pencaharian warga sekarang dilarang beroperasi di dalam kampus. Pihak IPB telah
mengarahkan warga yang berprofesi sebagai ojeg akan direkrut sebagai sopir bus
atau moli, namun dengan syarat memiliki ijazah setara SMP. Syarat tersebut
memberatkan sebagian warga yang tidak memiliki ijazah. Selain itu demo warga juga dipicu dengan dilarangnya warga masuk ke dalam kampus IPB dengan dipasangnya portal di jalan IPB serta penutupan beberapa pintu akses masuk IPB.
Aku
sendiri secara subjektif tidak keberatan dengan konsep green campus, asal:
- Bebaskan biaya parkir layaknya seperti dulu, apa salah mereka yang mampu memiliki sepeda motor?, jangan jadikan kami yang tidak memiliki sepeda motor sebagai alasan kesetaraan, siapa tahu mereka yang bawa motor karena memang rumahnya jauh.
- Parkirkan mobil di sebelah parkir motor. Memang dirasa tidak adil kalau mobil masih bergerak bebas, sedangkan pengguna sepeda motor sudah dibatasi. Hal ini tidak akan bisa diterima mahasiswa jika green campus adalah tujuannya.
- Stop paksa kami membeli Tap Cash. Semua fasilitas kampus harus bertransaksi dengan kartu oranye ini. Aku yang sudah punya dua kartu uang elektronik dari bank lain dibuat kesusahan karena tidak punya kartu ini. Terpaksa membeli jika harus menggunakan fasilitas yang ada, juga kesusahan ketika isi ulang karena tidak punya kartu ATM BNI (kami generasi dengan KTM berlogo Bank Mandiri).
Aku
tidak terlalu paham terhadap keinginan kampus dalam menerapkan konsep green campus ini, tapi aku paham kalau
kampus menginginkan yang terbaik. Semoga status IPB yang sekarang MENUJU green campus 2020, di tahun tersebut
semua keluhan kami memiliki solusi dan IPB menjadi green campus tanpa berat sebagian.
