Selalu ada pertanyaan dalam diri aku tentang satu sifat makhluk
bernama laki-laki. Terkadang aku selalu menyamaratakan lelaki atas sifat
dari beberapa orang yang pernah ku tahu atau dengar. Dan ya, aku tahu beberapa itu tidak layak untuk dijadikan pendugaan parameter untuk mengatakan bahwa semua lelaki memiliki sifat sama.
Tapi menggelitik bagi aku ketika seseorang berkata "kalo ga sama dia, nikahnya sama lw ya? :d".
Atau
yang dialami temanku yang bertemu orang di massa lalunya yang juga
sudah memiliki pasangan namun menyelipkan harapan untuk hidup bersama
dengan temanku.
Ini konyol, ketika ada seorang di sana yang mereka
akui sebagai pasangan tetapi mengharapkan wanita lain untuk
mendampinginya. Ada apa dengan kata setia? lalu untuk apa
menjalin hubungan dengan orang lain yang diakui sebagai pasangan di
hadapan semua orang tetapi tidak benar-benar cinta?.
Tidak semua begitu tapi, masih ada lelaki yang memilih diam atas rasa
yang berkecamuk. Mereka bukan tidak setia mereka terjebak atas rasa
yang telah ada. Kisah orang terdekatku, seseorang yang menjauh dari
temannya hanya karena tidak memiliki pilihan lain agar tak menyakiti
siapapun. Disatu sisi pertemanan yang dekat itu menimbulkan kenyamanan,
di sisi lain seorang wanita baik hati telah mendampinginya. Dan, tidak
ada yang salah atas rasa yang ada, dia memilih untuk setia.
Hmmmm.... aku memahami satu hal, mungkin dibalik wanita yang diakui
sebagai pasangan bagi lelaki, akan ada satu wanita lain sebagai
"cadangan".
Buat si para "cadangan" harus pandai-pandai nih menjaga rasa agar tak salah langkah.
Dan buat para wanita yang telah dipilih, jangan takut "mungkin memang bukan yang terbaik, bukan yang terhebat, tapi kamu yang paling tepat" karena mereka telah memilihmu!
Selasa, 26 Februari 2013
Selasa, 19 Februari 2013
Senja
Senja ini jingga
Memberi harapan berbeda di tengah biru yang membosankan lama
Senja ini beda
Datang memberi kepuasaan saat Surya mengucapkan selamat tinggal
Senja ini indah
Dan sayangnya,
semua ini sementara!
Memberi harapan berbeda di tengah biru yang membosankan lama
Senja ini beda
Datang memberi kepuasaan saat Surya mengucapkan selamat tinggal
Senja ini indah
Dan sayangnya,
semua ini sementara!
Sabtu, 02 Februari 2013
Gunung Kapur
Selalu ada yang menarik dari alam, bagiku alam itu menenangkan.
Seperti malam ini, 30 Januari 2013 akhirnya jadi juga naik gunung Kapur Ciampea bersama Asa, Eno, Ihsan, Kinan, Ricky, Roman, Saleh, danWaqif yang sebagian besar adalah teman Petualangan Sembilanku.
Ada apa di sana? Tidak ada apa-apa. Sama sekali tidak spesial, bahkan sebagian orang akan menganggap ini hanya buang-buang waktu. Capek-capek ke atas yang jalannya cukup terjal, cuma untuk bermalam di sana.
Tapi bagiku, ini menyenangkan. Menikmati malamnya Bogor dari atas, menyapa bulan lebih dekat, menyaksikan terbitnya matahari, hijaunya Bogor pagi hari dengan pemandangan gunung Salak dan Pangrango.
Tapi perjalanan ke atas untuk cewek macam aku memang ga bisa dibilang gampang. Ini nih satu hal yang bikin aku rada malas kalo jalan cuma cewek sendiri, fisikku disamain dengan mereka, dibilang lemah, dibilang rempong, bawel pada ah. Padahal kalo dibandingin dengan naik gunung Batok di Petualangan Sembilan aku lebih banyak berhentinya loh.
Untungnya, kali ini ga diPHPin sama Eno, waktu ditanya masih jauh ga, Eno jawab lumayan, dan ternyata udah deket, jadi ga kerasa :D.
Ini perjalananku kedua ke gunung Kapur, sekarang sih ga terlalu berat naik kapur kalo dibandingin yang pertama dulu, dulu selalu takut ngeliat ke atas soalnya ada daerah yang harus dilewati hampir 90 derajat kemiringannya.
Sebisa mungkin untuk ga tidur, pengen menikmati alam, tapi ga bisa, matanya perih, harusnya tidur dulu sebelum berangkat ini.
Enak nih tempat buat merenung. Semoga akan ke sana lagi secepatnya, murah dan deket :D
Seperti malam ini, 30 Januari 2013 akhirnya jadi juga naik gunung Kapur Ciampea bersama Asa, Eno, Ihsan, Kinan, Ricky, Roman, Saleh, danWaqif yang sebagian besar adalah teman Petualangan Sembilanku.
Ada apa di sana? Tidak ada apa-apa. Sama sekali tidak spesial, bahkan sebagian orang akan menganggap ini hanya buang-buang waktu. Capek-capek ke atas yang jalannya cukup terjal, cuma untuk bermalam di sana.
Tapi bagiku, ini menyenangkan. Menikmati malamnya Bogor dari atas, menyapa bulan lebih dekat, menyaksikan terbitnya matahari, hijaunya Bogor pagi hari dengan pemandangan gunung Salak dan Pangrango.
Tapi perjalanan ke atas untuk cewek macam aku memang ga bisa dibilang gampang. Ini nih satu hal yang bikin aku rada malas kalo jalan cuma cewek sendiri, fisikku disamain dengan mereka, dibilang lemah, dibilang rempong, bawel pada ah. Padahal kalo dibandingin dengan naik gunung Batok di Petualangan Sembilan aku lebih banyak berhentinya loh.
Untungnya, kali ini ga diPHPin sama Eno, waktu ditanya masih jauh ga, Eno jawab lumayan, dan ternyata udah deket, jadi ga kerasa :D.
Ini perjalananku kedua ke gunung Kapur, sekarang sih ga terlalu berat naik kapur kalo dibandingin yang pertama dulu, dulu selalu takut ngeliat ke atas soalnya ada daerah yang harus dilewati hampir 90 derajat kemiringannya.
Sebisa mungkin untuk ga tidur, pengen menikmati alam, tapi ga bisa, matanya perih, harusnya tidur dulu sebelum berangkat ini.
Enak nih tempat buat merenung. Semoga akan ke sana lagi secepatnya, murah dan deket :D
Langganan:
Komentar (Atom)


