Kamis, 29 November 2012

Kehangatan Sumatra Lewat Kopi Andalannya


Pernah nonton The Bucket List yang disutradarai Rob Reiner?, ada yang membuat spesial bagi saya di film ini, yaitu Kopi Luwak Sumatra yang terlihat di beberapa scene dan juga dibahas dalam beberapa dialog antara pemeran utama. Nah, ketahuan kan ya kalau kopi asal Sumatra ini sudah terkenal sampai luar negeri. Bangga saya terlahir di pulau ini. Lewat jejak petualang Daihatsu Terios 7-Wonders ayo kita kenali kopi andalan dari Pulau Suwarnadwipa ini.
Ada lima provinsi di pulau Sumatra sebagai penghasil kopi terbesar, yaitu: Lampung, Sumatra Selatan, Bengkulu, Sumatra Utara, dan Nanggroe Aceh Darussalam. Produk kopi di Sumatra beragam, dari kopi hitam biasa sampai kopi luwak. Mulai dari ujung Sumatra, Lampung merupakan provinsi pertama yang akan kita injak. Liwa yang merupakan daerah Lampung Barat merupakan salah satu sentra penghasil kopi di Sumatra yang terkenal dengan Kopi Liwa-nya. Di daerah ini telah di produksi kopi Luwak dan juga mulai dikembangkan kopi beraroma gingseng dan pinang.
Setelah Lampung, Sumatra Selatan merupakan daerah terbesar penghasil kopi. Kopi di sini dikenal dengan nama kawo atau kawe. Ada tiga daerah di Sumatra Selatan sebagai sentra penghasil kopi, yaitu: Lahat, Pagar Alam, dan Empat Lawang. Tempat ini spesial bagi saya, Pagar Alam dan Empat Lawang, di sana orang-orang terbaik di hidup saya dilahirkan, di sana juga Kakek Nenek saya menghidupi orang tua saya lewat kebun kopinya. Hal ternyaman di sana adalah ketika saya bangun pagi menghirup wanginya bunga kopi yang mulai mekar ditemani secangkir kopi panas di tengah dinginnya udara pagi. Sederhana, tapi indah. Lahat, Pagar Alam, dan Empat Lawang merupakan tiga kabupaten yang saling bersebelahan, tidak heran jika kopi yang dihasilkan di sana sama, yaitu kopi hitam asli. Yang spesial dari kopi Sumatra Selatan ini adalah hasil percampuran arabica dan robusta yang membuat para pencinta kopi tahu kekhas-annya.
Mulai ke tengah Sumatra, kita singgahi Curup yang berada di Bengkulu. Kota yang terkenal dengan sebutan Kota Raflesia ini terkenal dengan produksi kopi robusta, di provinsi ini juga di produksi Kopi Luwak Bengkulu yang sudah terkenal. Menuju ke Pangkal Sumatra, ada Mandailing Natal di Provinsi Sumatra Utara sebagai penghasil kopi. Di daerah ini pertama kali kopi arabica ditanam di Indonesia oleh Belanda pada 1699 sehingga menjadi pusat kopi arabica pada waktu itu.
Daerah penghasil kopi terakhir terletak di Nanggroe Aceh Darussalam yang berpusat di Takengon. Siapa yang tak kenal Kopi Gayo asal Takengon ini sih? Kopi arabica dengan harga yang mencapai ratusan ribu ini sudah terkenal mendunia dan sangat digemari oleh para pecinta kopi.
Nah sudah lebih mengenal kan kekayaan kopi Sumatra?, terimakasih buat mobil sahabat petualang yang sudah mengajak kami mengenal lebih dalam coffee paradise di tanah Sumatra. Dan untuk berpetualang sudah terbukti Terios menjadi sahabat kita untuk menjelajahi tiap sudut keindahan alam ini. Mari jelajahi dan rasakan kehangatan Sumatra lewat kopi andalannya!