Senin, 25 November 2013

Menikah, milik wanita Hebat



Ehem, akhir-akhir ini banyak sekali dapat undangan pernikahan. 
Umur yang sudah beranjak ke 25 ini memang lazimnya sudah berumah tangga. 
Tidak, saya tidak akan bahas tentang rasa takut karena belum menikah atau rasa ingin cepat-cepat menikah, ya karena memang menikah bukanlah perlombaan untuk cepat-cepatan. 
Tapi meski bukan perlombaan saya juga ingin menikah. 
Entah kapan dan dengan siapa semoga saya tetap sabar menunggu jawaban sampai tiba waktu yang sempurna dari Alloh. 

Satu per satu mulai membangun rumah tangga, bulan depan saja sudah ada tiga undangan datang. 
Saya tidak mempertanyakan kenapa mereka cepat bertemu jodohnya. 
Ada sesuatu yang membuat saya terkesima dengan yang namanya pernikahan. 
Bagi saya wanita yang memutuskan menikah itu, HEBAT!. 
Di ujung bulan lalu ketika menghadiri akad nikah teman kuliah, saya terdiam, terharu, dan takut untuk menikah. 
Hahaha, iya. Beberapa teman berpikir saya sudah siap menikah, dan lihat saya sendiri tidak pernah yakin akan hal itu. 
Butuh keberanian dan terutama keikhlasan menyerahkan hidup untuk satu orang selamanya. 
Kalian, para wanita yang telah memiliki keberanian dan keikhlasan itu membuat saya terkagum, lelaki yang kalian pilih tentu hebat karena mampu meyakinkan kalian, tapi kalian lebih hebat karena memiliki rasa berani dan ikhlas itu.   
Saya ingin menikah dan rahasia Alloh yang saya nantikan adalah siapa dia yang dengannya saya bisa menjadi HEBAT. 


Selamat menempuh hidup baru wahai wanita-wanita hebat, dan semoga berkah ditiap perjalanannya :)


Kamis, 24 Oktober 2013

Normal, kadang bikin kita ga bersyukur

Kamis, ini waktunya aku kuliah mata kuliah abu-abu tapi wajib diikuti milik tetangga fakultas, Hama dan Penyakit dalam Teknologi Pascapanen.
Setelah menunggu sekitar 30 menit kita baru bisa masuk ruangan karena ruangannya masih dipake oleh mahasiswa lain. Aku duduk di sebelah Wendi, sibuk dengan tugas yang belom aku kerjakan, tetiba Wendi bilang "liat itu, Yung. Aku pikir dia tadi mau mungut apa gitu, ga taunya dia cacat".

Kamu tahu? Nyeees rasanya, dia yang dengan kondisi tidak normal, kakinya tidak tumbuh sempurna sehingga dia berjalan seperti merangkak dengan tangan, masih semangat kuliah. Aku yang normal, bolos-bolosan, tugas terbengkalai, belajar cuma kalo di kelas atau ga waktu ada PR. Aku tanpa beban fisik, dilahirkan normal, yang terkadang ga pedean, yang terkadang ga bersyukur dengan kondisi yang ada, yang terkadang mengeluh kalo capek, ah dia!!!
Dia harus berjuang melawan diri sendiri, melawan pandangan orang tentang cacatnya, melawan susahnya mobilitas, membuang pikiran kalo dia berbeda. Dan di sini, dia adalah mahasiswa, berapa kali berarti dia telah sukses melawan "perbedaan" yang ada untuk sampai di jenjang ini.
Maka semoga kita yang normal bisa mengambil pelajaran, yang "males-malesan" lulus melawan malesnya diri sendiri jadi semangat buat buru-buru dapet gelar, yang males-malesan kuliah (kayak aku) jadi lebih menghargai waktu.

Hidup ini memang udah begini, tapi perjalanannya kita yang tentukan kebahagiannya.
Dan buat mas yang aku temuin tadi, semoga lancar pendidikannya untuk dapat gelar di IPB ini. Aaamiiin

Kamis, 17 Oktober 2013

Cikuray, ayooo jalan lagi



Gunung Cikuray, Perjalananku kembali berlanjut dan berhenti di sini. Tidak lebih dari seminggu aku dan teman-temanku merencanakan pergi ke gunung yang berada di Garut ini. Awalnya di Sabtu malam ketika kami hendak naik Gunung Kapur di deket kosan untuk sekedar menghabiskan malam, tapi semuanya batal karena hujan gede. Cuma pengen naik tapi ga tau kemana dan lagi ga punya uang, tercetus Cikuray dari Eno, tapi ya cuma sekedar obrolan biasa.
Seninnya dari chat sama Eno kami fix memutuskan berangkat ke Gunung Cikuray berempat (sisa-sisa dari petualangan Sembilan :D), aku, Eno, Ricky, dan Waqif. Tapi kali ini ditambah Eni, temen deketku yang deket banget sampe lagi BAB pun kita saling ngasi kabar -_-
Berlima, 12 Oktober 2013, Ready to gooo...

 Kita menuju Garut dari Bogor menuju Kampung Rambutan untuk dapet bus yang nganterin kita ke Terminal Guntur, Garut. Salah pilih bus ini kayaknya, masuk bus kayak masuk shauna. Ngakunya sih bus AC tapi aku yg kebagian duduk di paling belakang ga ngerasa AC sama sekali, malah kepanggang karena ga ada ventilasi sama sekali.
Sekitar jam 4 kita sampe di Terminal Guntur, Selamat datang di Garut, ini pertama kalinya menginjakkan kaki di Kabupaten ini, Alhamdulillah.


Perjalanan dilanjutkan naek angkot Jurusan Cilawu, kita sampe di pintu masuk PTPN VIII Dayeuhmanggung, sedikit salah start, harusnya lebih gampang lewat patrol, perbandingan jarak tempuhnya  12 banding 8 km, lumayan cuuy empat kilo -_-.
Jam tujuh malam kita mulai jalan menuju pos pemancar ditemani gerimis, sampe pos pemancar kita memutuskan untuk bermalam di sini dulu, dan ternyata juga banyak yang nge-camp di pos pemancar ini. Menurut petugasnya, ada 550 pendaki yang sudah mulai naik ke atas, huwaw ternyata banyak.
Minggu pagi, selamat pagi Cikuray...

kita memutuskan untuk naik ke puncak dan langsung turun jadi aku sama Eni ga perlu bawa carrier ke atas, yeay.
Nah ini gunung yang bakal di daki, kok kayaknya pendek ya :D


Mau bawa carrier atau ga, ternyata tetep lemah dan ngos-ngosan. Tetep kalem, dan alangkah senengnya waktu Eno nyuruh aku jalan di depan dan dia nyusul di belakang, jadi kalo capek aku bisa langsung berenti :D.
Banyak banget yang daki juga turun, aku berasa lagi nyambut tamu ketika berpapasan dengan yang turun, senyum dan ngomong “silahkan” hehehehe..
Sensasi naik gunung itu adalah ketika mendaki terlalu lelah untuk diteruskan, tapi juga udah ga mungkin lagi turun, nikmatin aja :D




Beberapa bertanya “Pake rok mbak?” ato ga “ga ribet mbak pake rok?” aku Cuma bilang “pilihan” :D
Dikit dikit, akhirnya here we go, Puncak Gunung Cikuray 2821 mdpl.
Apapun itu, aku seneng udah nginjekin kaki di Puncak gunung tertinggi ke empat di Jawa Barat ini.


Ini kita lagi masak dan makan di puncak setelah perjalanan sekitar tujuh jam. Nah Eno yang mengaku chef ini lagi menyantap makanan hasil masakannya: roti bakar selai stroberi telor setengah mateng. Rasanya? tanyakanlah padanya, aku sih ogah nyicip nya -_-


 Sekitar satu jam di puncak, kita turun jam lima sore. Turunnya lebih santai cuma gelap jadi agak susah jalannya. Ada sedikit cerita lucu sih tentang Eni waktu turun, tapi SEDIKIT, jadi ga usah diceritain lah ya En :p
Jam 11 malam kita sampai di pos pemancar, bebersih diri dan tidurrr untuk besok balik keperadaban.


Sekarang aku di sini, sedang menikmati pegelnya paha dan  membengkaknya kaki dan betis.
Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya.. dimana langkah kakiki berhenti nanti
Dan tetap “if travel teaches us how to see, how come every time I see is you” eaaaa

Jumat, 06 September 2013

Kehilangan

Dan kehilangan itu terjadi lagi...
Dua hari lalu aku kehilangan kunci kosan karena kantong yang bolong.
Kemarin aku kehilangan hape, di angkot ketika mau pulang ke kosan.
Ntah kenapa ini berturut-turut terjadi, apa karena teguran Alloh atas sholat duha yang makin minimalis raka'atnya karena kesibukan pagi hari.
Atau mungkin juga awal dikabulkan doa minta punya hape baru.
Semoga ini pelajaran untuk lebih hati-hati, aku berbaik sangka padaMu ya Alloh, semoga kehilangan ini diganti dengan yang lebih bagus, Iphone gitu ya Alloh :D

Rabu, 21 Agustus 2013

Dan merdeka itu, tertawa!



17 Agustus, tapi ini bukan cerita tentang tahun 45. Ini cerita kecilku dari sudut negeri yang telah merdeka 68 tahun yang lalu. Aku di sini, di tempat aku dibesarkan, namanya Tegal Sari RT 14 RW 04 Kelurahan Sungai Benteng. Yaaa, tepat di depan rumahku, hari ini semua bahagia semua tertawa.
Di tengah orang-orang yang sibuk mendefinisikan arti merdeka, warga di desa ku berdatangan, mereka bergotong royong untuk mengadakan panjat pinang.  Mereka tidak dibayar, mereka tidak dimintai tolong, halaman rumahku pun tidak disewa, kami di sini berkumpul hanya untuk kebahagian, berbagi tawa bersama.
Satu per satu datang, dan bagiku yang lebih banyak merantau daripada ada di rumah ini berguna untuk kembali mengingat anak-anak masa kecil dikehidupanku, pun juga mengenal mereka yang baru di desaku. 





Semua tertawa, tidak peduli tadi yang ada masalah, atau mungkin tidak punya uang. Kami bahagia, tua, muda, anak-anak. Dan merdeka itu, tertawa!



Selasa, 09 Juli 2013

Selamat Ramadhan

Yeaaah, suasana ini benar-benar spesial: kurma, kolang-kaling, sirup, timun suri yang bertebaran di pasar-pasar, pinggir jalan, dan mini market seolah-olah memberi pengumuman kalo Ramadhan telah mendekat.
Yaaaa, besok seluruh umat Islam mulai berpuasa, memasuki bulan suci, dan kali ini aku masih di sini, di sudut kota Bogor untuk kesekian kalinya berpuasa di tempat ini. Enam tahun berlalu, dan aku masih ditakdirkan menikmati Ramadhan di sini. Ntah senang ntah sedih tapi aku menikmatinya.
Rindu berburu makanan buka puasa di Bara, lapak-lapak es buah yang mendadak menjamur, pun juga dengan lapak gorengan.

Katanya "Belajar dari ahli puasa, ada dua kebahagiaan baginya: saat berbuka dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala", Selamat berbuka, eh... Selamat berpuasa, Selamat Tarawih, Selamat Sahur, Selamat berburu pahala...

Maafin kesalahanku yaaaa :)

Senin, 08 Juli 2013

Ngambek

Oke, kali ini kita bahas topik terhangat yang sering dibicarakan akhir-akhir ini: Ngambek. Oke, iya, terhangat di lingkungan kehidupan saya maksudnya.

Ditakdirkan dengan watak ngambekan luar biasa, kalian pikir saya mau? Hah?
Kalian pikir saya tidak mencoba menghilangkannya?

Oke, maaf maaf, nada emosinya terlalu tinggi. Baiklah, saya turunkan.

Saya anak bungsu, yang malas sekali dengar kata mengalah, yang selalu ingin diperhatikan, ga mau diabaikan. Saya sadar sepenuhnya itu.

Tapi bukan karena saya mendadak diam lantas ngambek, bukan karena saya mengabaikan kalian lantas saya ngambek. Ada saat dimana emosi saya sedang bermain sendiri. Saya butuh diam. Jangan malah ngomelin saya, lantas ngata2in saya ambekan, bocah, kayak si A B C, bla bla bla ...
Pernah belajar Sosiologi tentang pemberian label oleh masyarakat? Saya mengingatnya, pelajaran SMA kelas 1 "seorang yang dicap pencuri oleh orang lain akan menjadi pencuri benar2 karena sudah terlanjur di cap begitu oleh masyarakat".

Mungkin saya juga begitu sekarang, terlanjur dibilang ngambek ya udah ngambek aja sekalian, toh ketika dibilang ga ngambek juga ga ada yg percaya.

Sebenarnya, jika saya ngambek itu tandanya saya menganggap kalian adalah orang yg dekat dengan saya karena dari kecil saya tahunya ngambek itu ke keluarga.

Abaikan saja kalo saya ngambek, biarkan saya melakukan apa yang membuat saya tenang, jangan malah ditanya ini itu, diomelin ini itu, dijudge ini itu. Semua itu cuma bikin saya dapet cara melampiaskan "ngambek" saya dengan semakin menjadi2, ntah itu jadi marah2 ato mungkin nangis.

Saya berusaha mengurangi sifat2 negatif itu, saya juga kasihan dengan kalian yang harus bingung menghadapi sikap saya, padahal keluarga pun juga bukan.
Tapi please, saya tidak akan bisa menguranginya kalo setiap kali saya berusaha, kalian tetap saja selalu melabeli saya dengan kata yang sama, don't judge me more ...




Dan maapin saya ya ...


Oke, fine .... :D

Sampai jumpa lagi diambekan saya berikutnya (itupun kalo masih ada kesempatan)