Selasa, 09 Juli 2013

Selamat Ramadhan

Yeaaah, suasana ini benar-benar spesial: kurma, kolang-kaling, sirup, timun suri yang bertebaran di pasar-pasar, pinggir jalan, dan mini market seolah-olah memberi pengumuman kalo Ramadhan telah mendekat.
Yaaaa, besok seluruh umat Islam mulai berpuasa, memasuki bulan suci, dan kali ini aku masih di sini, di sudut kota Bogor untuk kesekian kalinya berpuasa di tempat ini. Enam tahun berlalu, dan aku masih ditakdirkan menikmati Ramadhan di sini. Ntah senang ntah sedih tapi aku menikmatinya.
Rindu berburu makanan buka puasa di Bara, lapak-lapak es buah yang mendadak menjamur, pun juga dengan lapak gorengan.

Katanya "Belajar dari ahli puasa, ada dua kebahagiaan baginya: saat berbuka dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala", Selamat berbuka, eh... Selamat berpuasa, Selamat Tarawih, Selamat Sahur, Selamat berburu pahala...

Maafin kesalahanku yaaaa :)

Senin, 08 Juli 2013

Ngambek

Oke, kali ini kita bahas topik terhangat yang sering dibicarakan akhir-akhir ini: Ngambek. Oke, iya, terhangat di lingkungan kehidupan saya maksudnya.

Ditakdirkan dengan watak ngambekan luar biasa, kalian pikir saya mau? Hah?
Kalian pikir saya tidak mencoba menghilangkannya?

Oke, maaf maaf, nada emosinya terlalu tinggi. Baiklah, saya turunkan.

Saya anak bungsu, yang malas sekali dengar kata mengalah, yang selalu ingin diperhatikan, ga mau diabaikan. Saya sadar sepenuhnya itu.

Tapi bukan karena saya mendadak diam lantas ngambek, bukan karena saya mengabaikan kalian lantas saya ngambek. Ada saat dimana emosi saya sedang bermain sendiri. Saya butuh diam. Jangan malah ngomelin saya, lantas ngata2in saya ambekan, bocah, kayak si A B C, bla bla bla ...
Pernah belajar Sosiologi tentang pemberian label oleh masyarakat? Saya mengingatnya, pelajaran SMA kelas 1 "seorang yang dicap pencuri oleh orang lain akan menjadi pencuri benar2 karena sudah terlanjur di cap begitu oleh masyarakat".

Mungkin saya juga begitu sekarang, terlanjur dibilang ngambek ya udah ngambek aja sekalian, toh ketika dibilang ga ngambek juga ga ada yg percaya.

Sebenarnya, jika saya ngambek itu tandanya saya menganggap kalian adalah orang yg dekat dengan saya karena dari kecil saya tahunya ngambek itu ke keluarga.

Abaikan saja kalo saya ngambek, biarkan saya melakukan apa yang membuat saya tenang, jangan malah ditanya ini itu, diomelin ini itu, dijudge ini itu. Semua itu cuma bikin saya dapet cara melampiaskan "ngambek" saya dengan semakin menjadi2, ntah itu jadi marah2 ato mungkin nangis.

Saya berusaha mengurangi sifat2 negatif itu, saya juga kasihan dengan kalian yang harus bingung menghadapi sikap saya, padahal keluarga pun juga bukan.
Tapi please, saya tidak akan bisa menguranginya kalo setiap kali saya berusaha, kalian tetap saja selalu melabeli saya dengan kata yang sama, don't judge me more ...




Dan maapin saya ya ...


Oke, fine .... :D

Sampai jumpa lagi diambekan saya berikutnya (itupun kalo masih ada kesempatan)

Minggu, 02 Juni 2013

Salah

Sore itu sehabis belanja di Bara aku memberhentikan angkot di pinggir jalan, aku naik dan tetiba "bruuuk", dari belakang ada motor yang menabrak angkot yang aku tumpangi.

Sopir angkot turun, dan melihat kerusakan yang cukup berbekas dia meminta ganti rugi dengan pengendara motor itu. Memang tanpa marah-marah atau berniat mengambil untung dari kerusakan itu, dia hanya minta angkotnya dibawa ke bengkel untuk diperbaiki. Mereka sepakat membicarakan masalah ini di pangkalan angkot (tempat aku akan turun).

Dan aku..., aku di dalam angkot dengan menundukkan kepala, tidak ada yang menyalahkan aku, karena memang di sini amat ladzim memberhentikan angkot di mana saja sepanjang jalan.
Tapi aku merasa bersalah, salah karena memberhentikan angkot ga pada tempatnya (karena memang ga ada tempat pemberhentiannya), merasa salah gimana kalo mas-masnya ga ada uang buat ngeganti kerusakan, sopir angkotnya juga salah karena berhenti tiba-tiba, pengendara motornya pun salah karena ga menjaga jarak aman dengan kendaraan di depannya.

Dan atas semua ini semoga mas-masnya diberi rejeki lebih atas uang yang dikeluarkan untuk menggan ti kerusakan

Kamis, 30 Mei 2013

Baduy, langkahku berhenti selanjutnya ...


18 Mei 2013, menambah jumlah langkah kaki sebelum mati kembali berlanjut, kali ini giliran kampung Baduy, Desa Cibeo adalah tujuannya.
Pagi-pagi setengah 5 sudah diawali dengan bete karena janjian yang ga jelas. Heeee, pasti semua kena semprot. Sekarang bukan lagi petualangan sembilan, kali ini aku bertujuh dengan empat adalah bagian dari petualangan sembilan. Tujuh itu: Aku, Eno, Ricky, Waqif, Docik, Zhimi, dan Tobing. Yaa, mereka semua adalah teman seperjuangan selama kuliah di Teknik Pertanian IPB.
Perjalanan kali ini sedikit berbeda, kami memutuskan bergabung dengan Java Adventure (kalo ga salah :D). Pesertanya lumayan banyak, 57 orang yang tersebar dari beberapa komunitas, kami cukup membayar uang seratus ribu dan membawa beberapa perlengkapan dengan meeting point di Stasiun Tanah Abang. Dari Stasiun Tanah Abang kami naik kereta menuju Stasiun Rangkas Bitung, Banten. Perjalanan ditempuh sekitar dua jam. Dari sana, dengan menggunakan Elf kami diantar menuju Desa Ciboleger yang merupakan pintu gerbang menuju kampung Baduy. 


Baiklah, mulai melangkahkan kaki untuk perjalanan kali ini, denger-denger perjalanan ini akan ditempuh dalam empat sampai lima jam. Kami mulai berangkat dari Desa Ciboleger sekitar  pukul 12.30 dengan didampingi oleh suku Baduy Dalam. Seperti biasa awalnya semangat 45 dengan tas yang lumayan berat (kata Docik aku bawa tabung gas 3 kg) dan memang bukan tas buat tracking jadi agak gak pewe, aku mantap menikmati perjalanan ini.
Awalnya biasa aja, lama lama banyak bukit yang harus dilewati dan itu benar-benar menguras tenaga, macam lagunya Ninja Hatori, “mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera bersama teman bertualang” #plaaaak, cukup!



Oke lanjut ke perjalanan ini, dalam perjalanan ini kita akan melewati jembatan gantung yang terbuat dari bambu.


Satu jam bisa tahan, masuk jam kedua di tebing deket rumah Baduy dalam menyerah untuk bawa tas. Nah, untungnya, diperjalanan ini tersedia porter yang akan bersedia membawakan tas kita sampai tujuan tapi dengan catatan bayaaaaar -_-. Paling ga prinsip mendakinya ga ternodai “Jangan sampai ketidakmampuanku menghambat perjalanan orang lain”.
Perjalanan lanjut, terasa lebih ringan, tapi untuk sesaat ternyata. Di depan udah menunggu tebing yang panjang seolah tak berujung. Kalian tahu rasanya berada di posisi kayak gini, jangan bilang aku ga nyelipin pikiran seperti kebanyakan orang “ngapain capek-capek naik, kalo di kos sekarang harusnya lagi tidur-tiduran enak”. Haha, benar sekaliiiii, ditambah lagi perjalanan ini dengan kebanyakan orang yang tak dikenal, mereka ga akan terlalu peduli dengan aku yang mereka tahu tujuan masing-masing, akupun udah mencar-mencar dengn teman-temanku sendiri.
Tapi, ada hal yang selalu bikin kaki tetap terus melangkah walau perlahan: ada tujuan di depan sana dan aku harus sampai. Setiap kali tebing itu serasa tak pernah habis selalu bilang “tebing ini pasti akan ada ujungnya, berhenti melangkah ga akan bikin tebing ini terlewati”. Dan aku, selalu berusaha ga liat ke atas karena selalu tingginya tebing itu bikin semangat turun drastis. Perlahan tapi pasti, dan tebing ini berakhir, yeaaaay .... tinggal jalan biasa aja yang harus dilewati.

Sekitar pukul empat aku sampai di Desa Cibeo, Kampung Baduy Dalam yang terdiri atas rumah-rumah panggung yang terbuat dari anyaman bambu. Di desa ini, kita tidak boleh menggunakan peralatan elektronik apapun, ga boleh mandi pake sabun, pasta gigi, dan apapun yang mengandung zat kimia yang bisa mencemari air sungai, penerangan di sini menggunakan obor dengan bahan bakar minyak kelapa.

Setelah menaroh tas aku menuju sungai untuk berendam, menghilangkan pegel di kaki, dan ini bener kesegaran aernya menolong. Aku dan tiga cewe lain (Sari, Ayu, Dewi) yang kebetulan anak IPB juga angkatan 49 (masuk tahun 2012) memilih berlama-lama berendam dan baru menyudahinya sebelum maghrib datang.

Makan malam datang, kita cukup menyediakan beras dan lauk untuk nantinya dimasakin oleh pemilik rumah. Aku ga terlalu suka nasi buatan mereka, nasinya dimasak dengan cara di aron atatu di kukus, jadi hasilnya keras, secara aku penggemar nasi pulen :D.

Aku tidur sekitar jam 10 setelah hampir sebagian temen se rumah udah tidur. Awalnya udaranya biasa aja, masuk tengah malem ternyata udara lumayan dingin, oke pasang amunisi: jaket, kaos kaki, kain.

Pagi menjelang dan waktunya melanjutkan perjalanan pulang. Kita pulang melewati jalur yag berbeda dengan bekal minum, aer mentah yang diambil dari desa Cibeo, segerrrr.

Subhanalloh perjalanan ini langsung dimulai dengan bukit yang tinggi lalu lembah, bukit. lembah, bukit, berulang-ulang. 




Dan diperjalanan ini aku ngefans banget dengan cowo di bawah ini

Masih bocah tapi tenaganya super duper woow!

And finally, perjalanan ini selesai...


Kembali ke Bogor, keseluruhan perjalanan ini memang tidak terlalu indah, alamnya biasa layaknya bukit pada umumnya, tapi capek ini bikin puassss...

Sampai jumpa diperjalanan menambah jumlah langkah kaki sebelum mati berikutnya ;-)


Kamis, 18 April 2013

Yogyakarta (memang) berhati nyaman !

04 April 2013, aku merencanakan perjalanan menuju Yogyakarta.
Yeay, Yogya lagi, dalam setengah tahun, ini perjalanan ketigaku menuju kota berhati nyaman itu.
Tujuan utamaku kali ini untuk menghadiri wisuda temen dari kecilku, dan perjalananku kali ini sengaja serba dadakan. Aku berangkat menuju Stasiun Pasar Senen dari Bogor pukul 19.10, waktu  yang sangat mepet sekali untuk mengejar kereta Progo yang berangkat pukul 22.00, apalagi tanpa tiket yang belum di tangan.
Aku benci hal serba mendadak tanpa persiapan (ga gue banget sebagai orang dengan tipe darah A) tapi kali ini aku menantang diri, hahahaha mencari tantangan.

Pukul 21.45 aku sampai di Pasar Senen dengan harap-harap cemas, kereta Progo memang belom berangkat tapi sialnya tiketnya abis -_-"
Akhirnya aku memilih membeli tiket kereta Gajahwong yang berangkat pukul 06.10 besok pagi, setelah sebelumnya aku hampir membeli tiket kereta tujuan Semarang. Dan apa, tiket Gajahwong nya seharga Rp.190.000. Ini kan perjalanan hemat, kenapa malah beli tiket mahal banget Yung -_-, awalnya berekspektasi membeli tiket harga Rp. 35.000 ini malah dapet tiket lebih dari lima kali lipat mahalnya.

Akhirnya menunggu pagi di Stasiun Pasar Senen selama 8 jam karena terlalu takut untuk balik lagi ke Bogor walau memang nginep di stasiun sama aja mengerikannya.

05 April 2013, pagi dateng juga dan perjalanan menuju Yogyakarta dimulai yang kuhabiskan hampir semua waktu dengan tidur setelah semaleman melek demi keamanan diri.

Setengah tiga sore, Apa kabar Yogya, kita bertemu lagi dan kau menyambutku dengan hujan derasmu.

Kota ini kecil, beberapa hari juga terjelajahi, tapi aku tidak pernah bosan berada di sini.
Aku memang tidak tertarik lagi mengunjungi Alkid, Kraton, Taman Pelangi, atau Taman Sari. Tapi Yogya memang selalu berhati nyaman selalu ada alasan untuk menjelajahinya.

Dan bagian paling kusuka adalah mengejar sunset, menjelajahi pantainya Yogya. Pantai pertama adalah Pantai Gua Cemara yang terletak di Desa Wonorejo, Bantul. Aku mengunjungi pantai ini bukan terencana, ini karena aku sedang ikut temanku mengunjungi keluarganya di desa ini.
Untuk sampai ke pantai ini kita harus melewati pepohonan cemara, karenanya pantai ini disebut Pantai Gua Cemara. Ketika kami sampai, pantai ini sepi, berpasir hitam, dan kotor oleh sampah-sampah.





Di desa Wonorejo ini masih begitu asri, masih desa banget, dan sawah terhampar luas di sini, menenangkan :)





11 April 2013, setelah menyusuri pasar Beringharjo, kami memutuskan mengejar sunset ke Pantai Depok. Matahari sore ini cerah sekali. Dan ini moment yang sangat kusuka, duduk di pantai menikmati jingga sang senja, dengan debur ombak berkejar-kejaran, menenangkan, dan aku kembali merindukannya.




12 April 2013, Pantai berikutnya adalah jejeran pantai di Gunung Kidul Kabupaten Wonosari. Pagi sekitar pukul 10.00 aku berangkat bersama Umi dengan mengendarai motor, perjalanan kami tempuh sekitar dua jam. Lumayan pegal, tapi demi menyaksikan indahnya pantai pasir putih Yogyakarta tidak jadi masalah.

Masuk area pantai ini kita dikenakan biaya Rp.4000/ motor lalu membayar parkir di setiap pantai yang kita kunjungi, biasanya dikenakan biaya Rp.2000. Pantai pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Kukup, pantainya bersih, pasir putih, dan sepi (mungkin juga dikarenakan kami ke sananya bukan hari libur).






Lanjut ke Pantai Berikutnya, Pantai Drini. Berasa pantai pribadi, ga ada orang sama sekali di sini. Aku menghabiskan waktu duduk cukup lama di sini.




Pantai Krakal:



Pantai Sadranan, banyak karang, cantikkkkk!





Pantai Pok Tunggal, pantai ini yang butuh perjuangan untuk melihatnya. Jalan masuk menuju pantai ini berbatu tajam dan lagi hujan waktu kami sampai di sana, jalanan jadi licin. Semua diperparah gara-gara Beat yang kami gunakan ban belakangnya aus jadi slip nya gede banget. Aku akhirnya memutuskan turun dan jalan kaki demi keselamatan (keselamatan motornya, aku belom sanggup ngeganti motornya kalo nyungsep, huhu), dan akhirnya, yeeeaaay...., sampai :D





Pantai Indrayanti, pantai ini yang lebih dikenal di antara pantai yang lain. Pengunjung di sini lebih banyak dari pantai yang lain, mungkin dikarenakan letaknya yang berada tepat di sebelah jalan utama sehingga memudahkan wisatawan untuk mengunjunginya, terutama wisatawan yang menggunakan bus.



Okeh, selesai menikmati sunset di Indrayanti, selesai juga perjalanan kali ini. Walau masih beberapa pantai belum terjamah, nantikan aku selanjutnya ya... Dan hari ini puaaaaas!!! I love this way!
  
13 April 2013, Pulang ke kotamu, dan say to good bye, Yogyakarta berhati nyaman! Sampai ketemu lagi ...

Selasa, 16 April 2013

Di PHP-in! masak iya sih?

Pemberi harapan palsu ato yang lebih dikenal dengan PHP benar-benar lagi marak sekarang, bukan orangnya tapi maksudnya marak adalah kata-kata ini sering digunakan, terutama di kalangan anak muda dalam urusan cinta.

Aku, kamu, dia, kalian, mungkin merasa diberi harapan oleh orang lain, namun ternyata kenyataannya tidak sesuai dengan harapan kita.
Itulah masalahnya, kita merasa, hanya merasa, dan biasanya yang merasa menjadi korban PHP ini adalah cewek karena terlalu banyak merasa.

Coba lihat dari sisi lain, apa bener kita di PHP-in? ato jangan-jangan kita doang yang membuat diri kita menjadi korban PHP. Seandainya ada orang yang baik, perhatian, peduli dengan kita lantas kita merasa memiliki ekspektasi yang besar, lalu menduga-menduga bahwa dia menyukai kita, dan parahnya kita langsung menyimpulkan bahwa orang itu pasti menyukai kita, lalu kegeer-an dan berbunga-bunga setiap kali dia terlihat care dengan kita. Lantas kenyataannya lelaki itu jalan dengan wanita lain. Akhirnya kenyataan itu membuat kita merasa telah di PHP-in selama ini.
Salah siapa? dia yang peduli dan baik dengan kita atau kita yang dengan pemikiran sendiri merasa diberi harapan?
Sebenarnya kalo dia menjanjikan sesuatu lalu mengingkarinya, yaaa itu benar disebut PHP, tapi kalo cuma dia perhatian lebih, peduli dengan kita, itu ya kita sendiri yang menganggap dijanjikan sesuatu.

Wahai manusia yang sejenis denganku, kita harus kuat yaa, memiliki hati yang begitu sensitif itu terkadang memang menyusahkan. Dan kita harus paham, layaknya kita yang menanti dan akan memilih yang terbaik, begitu juga lelaki mencari sebelum memutuskan yang terbaik baginya.
Mungkin kita akan menjadi bagian dari proses pencariannya itu, dan di sini kita harus mempertinggi tembok hati supaya ga gampang kegeer-an :).
Lagian, selama proses yang menurut kita adalah pem-PHP-an itu, dia pasti selalu memperlakukan kita baik kan? lantas kenapa harus marah ketika ternyata harapan kita sendirilah yang menjadikan kita seolah di PHP-in.

Dan selalu ingat terasa indah itu bukan tanda ikatan apapun! :)

Senin, 15 April 2013

Dan kita akan lihat bagaimana cinta ini bermuara

04 April 2013, Kamis pagi aku keluar seperti biasa untuk berangkat kerja. Ibu warung sebelah kos yang telah kukenal memanggil
"Yung, lagi buru-buru ya?"
"Iya, bu" jawabku
"Ntar sore waktu balik mampir ya ke ibu bentar"
"Iya, bu"
Sebenarnya aku ingin berhenti dan bertanya ada apa, tapi aku takut ditinggal temanku yang sudah berjalan di depanku, jadi kutahan rasa penasaran ini sampai sore.
 Dan ternyata, selama jam kerja aku kepikiran terus, ada apa ya...

Sore setelah pulang kerja, aku langsung ke kosan untuk mandi dan keluar pergi melanjutkan perjalanan ke Jogja. Aku sempatkan mampir ke ibu warung di sebelah kos.
Dan jengjengjeng, ternyata ....
Si ibu mau jodohin aku dengan keluarganya.
Dengan agak ga enak si ibu bertanya "Ayung udah ada calon belom?, ibu mau ngenalin Ayung dengan keluarga ibu.... bla bla bla"
"Kalo calon sih saya belom ada bu, tapi maaf kalo untuk nikah secepatnya saya belom bisa, takutnya kalo nunggu saya terlalu lama bu, saya juga masih punya kakak yang belom nikah dan mau lanjut S2 juga"

Singkat cerita aku pamit karena memang lagi buru-buru, dari sini aku sadar satu hal, ternyata aku belom siap. Semua alasan yang kulontarkan ke si Ibu juga hanya alasan yang kubuat, mungkin alasan yang benar tapi ga sepenuhnya benar. Awalnya kalo ditanya siap nikah, aku selalu jawab siap tapi waktu disodorin calon ternyata aku melempem.  Padahal, baru kmaren mendengar cerita seorang teman yang menikah dengan orang yang baru dikenal melalui pamannya dan aku menanggapinya "Huaaaaa, gampang ya jodohnya, enak banget"
Eng-ing-eng, dan nyatanya ketika aku dihadapkan pada hal yang hampir sama, aku ga siap.

Aku ternyata masih dalam konsep siap menikah dengan orang yang kukenal. Yaaa, lelaki sempurna dalam kacamataku: Sholeh lagi berkenan di hati. Ntahlah, padahal aku tahu betul bahwa jodoh itu rahasia Alloh. Dari kejadian ini aku takut, aku pernah mendengar "Ada dua alasan kenapa orang tak kunjung menikah: karena jodohnya memang belom datang atau memang kita sendiri yang menghambat sendiri jodohnya datang", aku takut kalo aku menolak ini aku menghambat jodohku, tapi juga ga siap mendapatkan jodoh dengan cara begini.
Menyerahkan diri sepenuhnya sampai akhir hayat,  mengabdikan untuk seseorang dengan setulusnya, ahhh rasanya memang berat, ga bisa main-main, harus benar-benar yakin, dan aku akui menikah itu memang berat.
Dan kita akan lihat bagaimana cinta ini bermuara ...