Mendaki gunung itu salah satu hobi ekstrim, apalagi untuk
kami yang terlahir sebagai perempuan.
Ga gampang loh merayu mama untuk ngijinin anak ceweknya buat
naik gunung, beragam pikiran muncul dari seorang mama yang ga tau alam gunung itu
kayak apa, terutama pikiran negatif.
Di satu kesempatan mudik, ketika guling-guling di kamar Mama
aku bercerita tentang perjalanan ke Merbabu.
Aku: Ma, waktu naik gunung ado kawan adek tibo-tibo
kedinginan …
Mama: Sudahlah naik gunung terus. Potong Mama
Aku: Haaa, Mama… seru tau naik gunung.
Mama: Masih banyak tempat lain untuk jalan-jalan
Aku: Mama sih dak tau rasonyo naik gunung
Di kesempatan lain, aku pun memancing cerita lagi.
...
Aku: Kan aku baru naik gunung kemaren, Ma
Mama: naik gunung lagi?
Aku: Hehehe, mumpung tiketnyo murah
Mama: Kagek kalo longsor cakmano?
Aku: Idaklah, naik gunung itu sudah ado jalannyo tinggal
diikuti bae.
Mamaku tidak melarang aku naik gunung, walau sejujurnya
begitu berat melepas anaknya ke alam.
Jadi tolong, jangan tambah memberatkan mama kami untuk
mengijinkan kami mendaki dengan berita-berita kecelakaan di gunung, jangan
tambah lagi jumlah kecelakaan akibat melanggar larangan yang sudah dibuat.
Kami masih ingin menjumpai edelweiss si langka itu setelah
berpeluh-peluh, masih ingin menikmati jingga yang terasa sangat dekat, masih
ingin duduk santai nunggu mie mateng ketika di puncak.
Mendakilah dengan damai!

Semoga mama mertua nanti ngijinin menantunya naik gunung ya Yung :-)
BalasHapus