Kamis, 18 April 2013

Yogyakarta (memang) berhati nyaman !

04 April 2013, aku merencanakan perjalanan menuju Yogyakarta.
Yeay, Yogya lagi, dalam setengah tahun, ini perjalanan ketigaku menuju kota berhati nyaman itu.
Tujuan utamaku kali ini untuk menghadiri wisuda temen dari kecilku, dan perjalananku kali ini sengaja serba dadakan. Aku berangkat menuju Stasiun Pasar Senen dari Bogor pukul 19.10, waktu  yang sangat mepet sekali untuk mengejar kereta Progo yang berangkat pukul 22.00, apalagi tanpa tiket yang belum di tangan.
Aku benci hal serba mendadak tanpa persiapan (ga gue banget sebagai orang dengan tipe darah A) tapi kali ini aku menantang diri, hahahaha mencari tantangan.

Pukul 21.45 aku sampai di Pasar Senen dengan harap-harap cemas, kereta Progo memang belom berangkat tapi sialnya tiketnya abis -_-"
Akhirnya aku memilih membeli tiket kereta Gajahwong yang berangkat pukul 06.10 besok pagi, setelah sebelumnya aku hampir membeli tiket kereta tujuan Semarang. Dan apa, tiket Gajahwong nya seharga Rp.190.000. Ini kan perjalanan hemat, kenapa malah beli tiket mahal banget Yung -_-, awalnya berekspektasi membeli tiket harga Rp. 35.000 ini malah dapet tiket lebih dari lima kali lipat mahalnya.

Akhirnya menunggu pagi di Stasiun Pasar Senen selama 8 jam karena terlalu takut untuk balik lagi ke Bogor walau memang nginep di stasiun sama aja mengerikannya.

05 April 2013, pagi dateng juga dan perjalanan menuju Yogyakarta dimulai yang kuhabiskan hampir semua waktu dengan tidur setelah semaleman melek demi keamanan diri.

Setengah tiga sore, Apa kabar Yogya, kita bertemu lagi dan kau menyambutku dengan hujan derasmu.

Kota ini kecil, beberapa hari juga terjelajahi, tapi aku tidak pernah bosan berada di sini.
Aku memang tidak tertarik lagi mengunjungi Alkid, Kraton, Taman Pelangi, atau Taman Sari. Tapi Yogya memang selalu berhati nyaman selalu ada alasan untuk menjelajahinya.

Dan bagian paling kusuka adalah mengejar sunset, menjelajahi pantainya Yogya. Pantai pertama adalah Pantai Gua Cemara yang terletak di Desa Wonorejo, Bantul. Aku mengunjungi pantai ini bukan terencana, ini karena aku sedang ikut temanku mengunjungi keluarganya di desa ini.
Untuk sampai ke pantai ini kita harus melewati pepohonan cemara, karenanya pantai ini disebut Pantai Gua Cemara. Ketika kami sampai, pantai ini sepi, berpasir hitam, dan kotor oleh sampah-sampah.





Di desa Wonorejo ini masih begitu asri, masih desa banget, dan sawah terhampar luas di sini, menenangkan :)





11 April 2013, setelah menyusuri pasar Beringharjo, kami memutuskan mengejar sunset ke Pantai Depok. Matahari sore ini cerah sekali. Dan ini moment yang sangat kusuka, duduk di pantai menikmati jingga sang senja, dengan debur ombak berkejar-kejaran, menenangkan, dan aku kembali merindukannya.




12 April 2013, Pantai berikutnya adalah jejeran pantai di Gunung Kidul Kabupaten Wonosari. Pagi sekitar pukul 10.00 aku berangkat bersama Umi dengan mengendarai motor, perjalanan kami tempuh sekitar dua jam. Lumayan pegal, tapi demi menyaksikan indahnya pantai pasir putih Yogyakarta tidak jadi masalah.

Masuk area pantai ini kita dikenakan biaya Rp.4000/ motor lalu membayar parkir di setiap pantai yang kita kunjungi, biasanya dikenakan biaya Rp.2000. Pantai pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Kukup, pantainya bersih, pasir putih, dan sepi (mungkin juga dikarenakan kami ke sananya bukan hari libur).






Lanjut ke Pantai Berikutnya, Pantai Drini. Berasa pantai pribadi, ga ada orang sama sekali di sini. Aku menghabiskan waktu duduk cukup lama di sini.




Pantai Krakal:



Pantai Sadranan, banyak karang, cantikkkkk!





Pantai Pok Tunggal, pantai ini yang butuh perjuangan untuk melihatnya. Jalan masuk menuju pantai ini berbatu tajam dan lagi hujan waktu kami sampai di sana, jalanan jadi licin. Semua diperparah gara-gara Beat yang kami gunakan ban belakangnya aus jadi slip nya gede banget. Aku akhirnya memutuskan turun dan jalan kaki demi keselamatan (keselamatan motornya, aku belom sanggup ngeganti motornya kalo nyungsep, huhu), dan akhirnya, yeeeaaay...., sampai :D





Pantai Indrayanti, pantai ini yang lebih dikenal di antara pantai yang lain. Pengunjung di sini lebih banyak dari pantai yang lain, mungkin dikarenakan letaknya yang berada tepat di sebelah jalan utama sehingga memudahkan wisatawan untuk mengunjunginya, terutama wisatawan yang menggunakan bus.



Okeh, selesai menikmati sunset di Indrayanti, selesai juga perjalanan kali ini. Walau masih beberapa pantai belum terjamah, nantikan aku selanjutnya ya... Dan hari ini puaaaaas!!! I love this way!
  
13 April 2013, Pulang ke kotamu, dan say to good bye, Yogyakarta berhati nyaman! Sampai ketemu lagi ...

Selasa, 16 April 2013

Di PHP-in! masak iya sih?

Pemberi harapan palsu ato yang lebih dikenal dengan PHP benar-benar lagi marak sekarang, bukan orangnya tapi maksudnya marak adalah kata-kata ini sering digunakan, terutama di kalangan anak muda dalam urusan cinta.

Aku, kamu, dia, kalian, mungkin merasa diberi harapan oleh orang lain, namun ternyata kenyataannya tidak sesuai dengan harapan kita.
Itulah masalahnya, kita merasa, hanya merasa, dan biasanya yang merasa menjadi korban PHP ini adalah cewek karena terlalu banyak merasa.

Coba lihat dari sisi lain, apa bener kita di PHP-in? ato jangan-jangan kita doang yang membuat diri kita menjadi korban PHP. Seandainya ada orang yang baik, perhatian, peduli dengan kita lantas kita merasa memiliki ekspektasi yang besar, lalu menduga-menduga bahwa dia menyukai kita, dan parahnya kita langsung menyimpulkan bahwa orang itu pasti menyukai kita, lalu kegeer-an dan berbunga-bunga setiap kali dia terlihat care dengan kita. Lantas kenyataannya lelaki itu jalan dengan wanita lain. Akhirnya kenyataan itu membuat kita merasa telah di PHP-in selama ini.
Salah siapa? dia yang peduli dan baik dengan kita atau kita yang dengan pemikiran sendiri merasa diberi harapan?
Sebenarnya kalo dia menjanjikan sesuatu lalu mengingkarinya, yaaa itu benar disebut PHP, tapi kalo cuma dia perhatian lebih, peduli dengan kita, itu ya kita sendiri yang menganggap dijanjikan sesuatu.

Wahai manusia yang sejenis denganku, kita harus kuat yaa, memiliki hati yang begitu sensitif itu terkadang memang menyusahkan. Dan kita harus paham, layaknya kita yang menanti dan akan memilih yang terbaik, begitu juga lelaki mencari sebelum memutuskan yang terbaik baginya.
Mungkin kita akan menjadi bagian dari proses pencariannya itu, dan di sini kita harus mempertinggi tembok hati supaya ga gampang kegeer-an :).
Lagian, selama proses yang menurut kita adalah pem-PHP-an itu, dia pasti selalu memperlakukan kita baik kan? lantas kenapa harus marah ketika ternyata harapan kita sendirilah yang menjadikan kita seolah di PHP-in.

Dan selalu ingat terasa indah itu bukan tanda ikatan apapun! :)

Senin, 15 April 2013

Dan kita akan lihat bagaimana cinta ini bermuara

04 April 2013, Kamis pagi aku keluar seperti biasa untuk berangkat kerja. Ibu warung sebelah kos yang telah kukenal memanggil
"Yung, lagi buru-buru ya?"
"Iya, bu" jawabku
"Ntar sore waktu balik mampir ya ke ibu bentar"
"Iya, bu"
Sebenarnya aku ingin berhenti dan bertanya ada apa, tapi aku takut ditinggal temanku yang sudah berjalan di depanku, jadi kutahan rasa penasaran ini sampai sore.
 Dan ternyata, selama jam kerja aku kepikiran terus, ada apa ya...

Sore setelah pulang kerja, aku langsung ke kosan untuk mandi dan keluar pergi melanjutkan perjalanan ke Jogja. Aku sempatkan mampir ke ibu warung di sebelah kos.
Dan jengjengjeng, ternyata ....
Si ibu mau jodohin aku dengan keluarganya.
Dengan agak ga enak si ibu bertanya "Ayung udah ada calon belom?, ibu mau ngenalin Ayung dengan keluarga ibu.... bla bla bla"
"Kalo calon sih saya belom ada bu, tapi maaf kalo untuk nikah secepatnya saya belom bisa, takutnya kalo nunggu saya terlalu lama bu, saya juga masih punya kakak yang belom nikah dan mau lanjut S2 juga"

Singkat cerita aku pamit karena memang lagi buru-buru, dari sini aku sadar satu hal, ternyata aku belom siap. Semua alasan yang kulontarkan ke si Ibu juga hanya alasan yang kubuat, mungkin alasan yang benar tapi ga sepenuhnya benar. Awalnya kalo ditanya siap nikah, aku selalu jawab siap tapi waktu disodorin calon ternyata aku melempem.  Padahal, baru kmaren mendengar cerita seorang teman yang menikah dengan orang yang baru dikenal melalui pamannya dan aku menanggapinya "Huaaaaa, gampang ya jodohnya, enak banget"
Eng-ing-eng, dan nyatanya ketika aku dihadapkan pada hal yang hampir sama, aku ga siap.

Aku ternyata masih dalam konsep siap menikah dengan orang yang kukenal. Yaaa, lelaki sempurna dalam kacamataku: Sholeh lagi berkenan di hati. Ntahlah, padahal aku tahu betul bahwa jodoh itu rahasia Alloh. Dari kejadian ini aku takut, aku pernah mendengar "Ada dua alasan kenapa orang tak kunjung menikah: karena jodohnya memang belom datang atau memang kita sendiri yang menghambat sendiri jodohnya datang", aku takut kalo aku menolak ini aku menghambat jodohku, tapi juga ga siap mendapatkan jodoh dengan cara begini.
Menyerahkan diri sepenuhnya sampai akhir hayat,  mengabdikan untuk seseorang dengan setulusnya, ahhh rasanya memang berat, ga bisa main-main, harus benar-benar yakin, dan aku akui menikah itu memang berat.
Dan kita akan lihat bagaimana cinta ini bermuara ...