Minggu, 27 Januari 2013

Petualangan Sembilan

Kisah ini berawal dari film 5 cm. Ya, kami adalah korban dari film tersebut, apapun yang kalian katakan tentang alasan kami mendaki Semeru, bagaimanapun kontroversinya film itu di mata sebagian orang, yang kami tahu, kami mendapat suntikan semangat untuk menyaksikan sendiri keindahan Semeru.
Aku menamai perjalanan ini dengan Petualangan Sembilan. Awalnya lima dari sembilan ini yang memang telah kenal selama 4.5 tahun karena berasal dari program studi yang sama (Teknik Pertanian) memutuskan mendaki Semeru 09 Januari 2013. Lima itu adalah Aku, Waqif, Ricky, Iqbal, dan Eno.
Di tengah persiapan H-3, Ihsan (teman satu kos Ricky) dengan SKSDnya memutuskan untuk ikut. SKSD San, SKSD :p. Besoknya, bertambah lagi Roman, Saleh, dan Aden yang entah darimana mereka mendapatkan makhluk-makhluk ini.
Ihsan, setidaknya aku pernah liat beberapa kali. Roman dan Saleh  selama 5 tahun aku di IPB ga pernah tau kalo mereka ada, tapi okelah masih anak IPB, dan Aden yang awalnya kami kira adeknya Waqif yang mau ikut adalah ternyata temannya Roman dan bukan anak IPB (UPI), ga ada yang kenal kecuali Roman. OK perjalanan ini lengkaplah sudah, mempersatukan kami dengan teman temannya teman. Tidak masalah, yang penting rame.
Persiapan yang tidak bisa dibilang sempurna, tapi tidak juga mengurungkan niat kami untuk tetap pergi. 08 Januari 2013 kabar dari Surya Online membuat aku kecewa sangat, Pendakian Semeru ditutup. Cari info saat itu juga, dan ternyata Semeru masih normal dibuka yang membuat kami kembali bersemangat.

09 Januari 2013,
Petualangan dimulai dengan segala kendala kecil yang bikin cemas tapi seru. Hujan dari pagi, Ricky si lelaki tanpa persiapan yang selalu bikin orang nungguin dia: baru mau beli carrier pas sekalian berangkat, waktu yang sedikit mepet, dan aku: manusia paling cemas-an yang paling ga suka dengan hal yang terburu-buru.


10 Januari 2013,
18 Jam menuju Malang, ga terasa walau naik kereta Ekonomi, ditemani lontong pecel dan nasi pecel kami sampai di stasiun Malang.


Selamat pagi Malang, hangat Mataharimu ternyata ga sehangat kabar yang kami dapat pagi ini: Semeru fix ditutup kemarin malam, 09 Januari 2013.
Ini Malang, kami sudah terlalu jauh dari Bogor. Dengan tambahan dua orang pendaki yang kami kenal di Stasiun Malang, kami memutuskan menuju Pasar Tumpang.

Dan akhirnya beristirahat di rumah Pak Ruseno, Agen yang menyediakan transportasi menuju Semeru. Keluarga ini benar-benar hangat, sederhana, ramah, benar-benar keluarga idaman.
Kami menyempatkan berkeliling sekitar pasar Tumpang, ada Candi Jago di dekat rumah pak Ruseno.

Di sini akhirnya aku menemukan tahu tek-tek, tahu yang sudah masuk daftar belanja untuk masuk dapurku, tapi belum sempat dibuat karena belum dapat petis udangnya. Rasanya, ternyata not so good di lidahku, tapi masih layaklah buat dimakan (y).
Sore hari dengan begitu banyak alternatif pilihan, tersebut gunung Arjuna, gunung Bromo, gunung Lawu, Pulau Sempu, gunung Merapi, gunung Argapura. Kami memutuskan memilih Bromo agar kami tetap berformasi sembilan dan berpisah dengan dua pendaki lain yang memilih ke Lawu.


Sepanjang jalan dengan menggunakan Jeep karena sudah kesorean, hujan, dan berkabut aku cuma bisa dzikir ngeliat jalan terbentang, kiri jurang tanpa pembatas, kanan tebing, dan pandangan ke depan sangat-sangat terbatas. Dan untuk pertama kalinya aku suka dengan panasnya mesin mobil, jadi hangat di tengah dinginnya suhu menuju gunung Bromo dan delapan temanku tentu pasti  kedinginan di bak belakang :D

Cemoro Lawang, Malam hari. Langsung mencari tempat datar untuk mendirikan tenda, sementara aku, Waqif, dan Roman membeli air untuk masak karena tidak ada persediaan air di sekitar. Bukan hanya membeli air, kami bertiga memesan makan juga (egois ya :D) gule kambing dan soto ayam. Di tengah makan mereka nelpon katanya pindah karena angin terlalu kencang untuk mendirikan tenda.
Akhirnya kami bermalam di pinggir Mushola, aseeeem adem tenan rek. 

Jam setengah dua pagi bangunin mereka ga ada yang bangun -_-, ya udah aku tidur lagi juga. Jam dua bangunin Waqif dan ngerapihin peralatan masak tadi malam. Jam tiga udah melek semua kecuali Ricky dan Eno, alesannya badai dan ga mungkin berangkat untuk liat sunrise di pananjakan. Akhirnya kami berangkat selepas subuh dengan syarat ga ada yang boleh ngeluh. Dan kalian tahu siapa yang paling lama ngerapihin barang-barang? Yup, Ricky.

11 Januari 2013,
Kami memutuskan menuju Bromo karena kondisi kabut ga memungkinkan ngeliat sunrise dari pananjakan. Orang lain ya pake Jeep sampe kaki gunung Bromo, kami jalan kaki dengan carrier di punggung. Itu lumayan loh turun dari Cemoro Lawang ke kaki  Gunung Bromo, dari lumayan jadi lumanyun. Tapi inget, ga boleh NGELUH!

Hujan pun ga mau ngelewati moment bersama kami. Kami melewati Pura Luhur Poten bertemu dengan umat Hindu yang akan beribadah pagi itu. Mereka tidak hanya dari Malang, ada yang dari Lumajang, Probolinggo dan kabupaten sekitar.

Dari kaki Gunung Bromo ada dua pilihan untuk sampai ke puncak Bromo: jalan kaki atau sewa kuda, tapi tetap aja ke puncaknya harus jalan kaki, kuda hanya mengantar sampai batas tangga menuju puncak. Di tengah perjalanan ada tenda kecil yang menjual makanan dan minuman, isi perut dan ternyata boleh titip barang. Yeay, beban terasa hilang seketika :D.

Semakin tinggi, semakin indah panoramanya. Masyaalloh ciptaanMu, ya Alloh. Sampai puncak, langsung batuk-batuk, belerang dimana-mana. Nah, di puncak Bromo pada ketinggian 2392 mdpl ini kami dapat melihat kawah Bromo yang masih aktif dan juga hamparan kaldera (lautan pasir) seluas 10 km persegi. Akhirnya menyentuhkan kaki juga ke tempat syuting Tendangan dari Langit.

Turun dari Bromo kami tergoda menyaksikan keindahan Bromo dari sisi lain, gunung Batok dengan ketinggian 2440 mdpl yang berada di sebelah gunung Bromo. Masih dengan carrier yang ditinggal, kami mendaki gunung Batok saat itu juga. Maaaaaak, hampir mirip gunung Kapur (Ciampea), ga jauh pendakiannya tapi terjal, tapi di sini ga ada pohon untuk pegangan, cuma ngandalin rumput.
Sampai tertatih coba buat sampai puncak, capek berhenti, capek minta minum (dengan persediaan air minim dan lupa juga bawa minuman ber-ion :(). Special thanks to Eno, Ricky, dan Ihsan yang bergantian ngekorin aku buat sampai puncak.
Masyaalloh, indahnya kebangetan ini tempat, capek mendaki tadi kemana? Udah lupa tuh. Bener kata bapak penjual makanan tadi, bisa maen bola di puncak ini. Puncak gunung Batok ini datar dan berpasir, di tengah gunung Batok ini terdapat tempat menaruh sajen suku Tengger. 


Kita sempatkan bikin minum, dan ga masak makanan karena persediaan air yang sangat sedikit. Lalu mengelilingi puncaknya untuk berfoto dan kembali turun.

Wait...., itu beneran jalan yang harus aku lewati? curam sekali, kalo tadi mendaki liat ke atas bisa pegangan apapun, kalo turun liat ke bawah serasa aja bakal jatoh, tanpa ada pegangan, tergelincir langsung guling-guling ini. Akhirnya aku memilih untuk main perosotan selama turun gunung sampai ketemu jalan yang sedikit landai. Dan Roman dengan santainya loncat loncatan kayak kelinci selama perjalanan, ini orang ga takut tergelincir apa ya?.
Setengah perjalanan terlewati, dan engsel kaki ini serasa mau copot. Kalo boleh milih berharap sisa perjalanan ini tanjakan aja, bukan turunan. Pelan, pelan, sampai juga di bawah, yeay, Batok Mountain, Completed!
Abis kotor-kotoran waktunya mandi, di dekat parkiran kaki Bromo ada kamar mandi (toilet) umum. Kata bapaknya airnya agak hangat tapi tiba-tiba Ihsan teriak dengan lantang, dikira ya ada apa, ternyata kedinginan. Sumpah aseli, airnya macam air es.
Selamat tinggal Bromo, ah rasanya ga mau ninggalin Bromo, bukan karena keindahannya, tapi ngeliat jalan terbentang di atas yang sangat tinggi dan jauh. Ya Alloh, apa iya sanggup sampai ke Cemoro Lawang dengan kondisi kaki abis naik-turun dua gunung tadi. Kalo boleh egois aku mau ngojek aja gapapa bayar Rp.30000, tapi rasanya udah bareng-bareng sejak awal, jadi ga boleh sendiri-sendiri, lagian GA BOLEH NGELUH!. Perlahan dan capek, ternyata sampai juga (ah, aku ga selemah itu ternyata :D).
Petualangan Sembilan berlanjut ke Probolinggo, bermalam di rumah kakak Waqif untuk selanjutnya menuju Pantai Papuma di Jember. Terlalu dini untuk pulang, terlalu jauh untuk sekedar menyentuh Bromo, dan bersembilan sepakat untuk menyusuri indahnya timur Jawa.
Kota Probolinggo, Malam hari. Huwaw, perubahan suhu yang sangat signifikan dari dinginnya Bromo ke panasnya Probolinggo, geraaaaah. Di sini awal dari lagu perjalanan kami, lagi duduk santai di depan rumah ada pengamen lewat dan nyanyiin lagu sandiwara cinta dari Repvblik.

12 Januari 2013,
Setengah lima pagi setelah sholat subuh, aku langsung mandi biar ga rebutan sama mereka. Eh ternyata, mereka ngerencanain berangkat jam 09.00, keburu gerah lagi urang mah.
Alhamdulillah bangetnya, udah dikasih tumpangan gratis dikasih makan juga :D, ini sepanjang jalan kayaknya dimudahin sama Alloh.
Di tengah persiapan melanjutkan petualangan, lewat obrolan dengan Masnya Waqif sebagian mulai tertarik pindah haluan dari Pantai Papuma, Jember menuju Bali. Dengan isi dompet pas-pasan aku mengiyakan asal cost bisa ditekan seminim-minimnya.
Jam 10 lewat kita berangkat menuju Terminal Probolinggo setelah membereskan semua barang bawaan. Siapa yang paling lama beberes? Ya, kalian benar lagi: Ricky!. Nah buat para traveller, jangan mau dicalo-in ya, cari dulu tiket langsung tanpa perantara, bedanya jauh, sampai dua kali lipat harga normal.
Akhirnya kita berangkat menuju Ketapang dengan bus ekonomi tujuan Banyuwangi, perjalanan kita tempuh sekitar empat jam dengan ditemani pemandangan gunung dan laut, serta yang ga ketinggalan Sandiwara Cinta di Terminal Situbondo oleh musisi jalanan, et dah, nih lagu lagi hits apa ya.
Sampai Pelabuhan Ketapang lari-larian ngejar kapal Ferry yang diem, ini salah satu bagian yang seru, kaki yang engselnya serasa mau copot ini makin berat karena di mobil kakinya ga digunain dan carrier di punggung yang setia ga mau copot dengan badan ini -_-.
Yeay setelah pakai kaki, mobil, bus, kereta, dan sekarang kapal sebagai transportasinya. Perjalanannya ga terasa, ditemani suara Roman yang nyanyi lagu Ku Tak Bisa di stage
Huwaw, Serasa mimpi, ini Bali, pulau Bali. Aku ga pernah bayangin ke Bali dengan cara kayak gini. Rencana ke Bali pertama kali sama Kakakku Maret ini, kenyataannya aku ke Bali dengan delapan temanku yang dipersatukan dalam Petualangan Sembilan ini. Amazing...!!!
Welcome Gilimanuk, sedikit tersendat waktu pemeriksaan KTP, gara-gara KTP Eno ga ditandatangani dan KTP Roman yang sudah expired. Melanjutkan perjalanan, dengan mobil colt menuju Ubung, Denpasar. Di tengah perjalanan (Negare) Ihsan dan Saleh turun untuk menjemput teman Saleh, Bang Andi yang selanjutnya akan menjadi orang yang mempermudah perjalanan ini.

13 Januari 2013,
Terminal Ubung – Denpasar.
Kami baru sadar kalo waktu yang kami gunakan bukan WIB lagi, tapi WITA :D.
Aku jalan menuju WC, ada lelaki yang duduk di depan WC ngajak ngobrol, dan aku sambut baik tapi aku ga tau dia ngomong apa, lalu aku berlalu masuk WC (wait, aku baru inget berhutang ke Roman untuk bayar WC).
Aku balik lagi ke rombongan, lah ada lagi lelaki depan WC tadi, tapi kok serem sekarang, minta-minta dan maksa, what? ternyata dia penderita ayan, untung dia ga macem-macem di WC tadi. Aku langsung mendekat ke yang laen, dasar Waqif sial bukannya jagain aku ya malah pergi waktu penderita ayannya mendekat dan untuk yang satu ini thanks to Ihsan yang mendekat waktu lelaki itu datang.
Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Sanur, rencana awal untuk ke pantai yang bisa untuk ngecamp dibatalkan karena terlalu jauh dan sudah terlalu malam.
Di pinggir Pantai Sanur, sholat Isya jamak Taqhir Maghrib, ada yang beda di sini. Aku merasa minoritas di tanah Bali ini (tanpa bermaksud SARA), sedikit takut untuk sholat di pinggir pantai tanpa Mushola apalagi umat Hindu sedang melaksanakan Saraswati di pantai ini. Ini pertama kalinya aku berada di daerah dengan Islam minoritas, ga ngebayangin waktu kejadian Bom Bali pasti ketegangan antaragama sangat terasa.
Bertiga dengan Ricky dan Eno menanti pagi dengan bercengkrama di sebelah mereka yang tertidur pulas (baru nyadar ternyata kostum kita bertiga sewarna: hitam).

 Sebenernya pengen tidur juga tapi sleeping bagku sudah jadi hak milik bersama, ya sudah akhirnya dengerin  Ricky dengan Eno ribut tentang power bank, sekarang udah nemu fakta yang bener tentang power bank nya kawan?
Semakin pagi semakin banyak masyarakat Bali yang berdatangan melakukan Saraswati, mandi di pantai dan aku menikmati keramaian ini. 


Aku selalu suka pantai, ada ketenangan tersendiri saat duduk menikmati hamparan laut terbentang, nyaman apalagi kalo beruntung ngeliat sunset.
Setelah mereka puas mandi di pantai, kami lanjut makan, ternyata makan di pantai Sanur murah, dan serba ikan laut, nasi + pepes ikan + goreng ikan kecil + sayur Rp. 7000.

Kita lanjut perjalanan menuju pantai Nusa Dua, Petualang  Sembilan terbagi menjadi dua kelompok, mengingat Avanza bang Andi cuma muat diisi lima orang + carrier kami, jadi sisanya harus naik Trans Sarbagita. Kami yang nebeng mobil Bang Andi (Aku, Ihsan, Roman, dan Saleh) sampai duluan di pantai Nusa Dua. Subhanalloh, aurat dimana-mana ya Alloh, saingan masuk neraka semakin ketat -_-. Aku malu, bukan karena penampilan aku yang beda sendiri (tertutup dari kepala sampai kaki) di tengah lautan wanita yang berbikini ria. Malu karena sebagai wanita aku merasa direndahkan oleh wanita sendiri, mereka seolah-olah menelanjangi aku, menunjukkan bagaimana tubuhku lewat tubuh mereka.
Pantai Nusa Dua ini indah, ya memang bagi aku bule-bule mengurangi keindahannya, tapi panasnya ga nyangka bikin gosong pake belang.

Ok, perjalanan dilanjutkan menuju Tanah Lot. Berkat kebaikan bang Andi kami dapat pinjaman satu mobil + sopir yang baik, mbak Putri dan suami, yihaaaa... kami cuma perlu membayar uang bensin :D. Sampai di Tanah Lot, disambut hujan deras tapi untungnya cuma sebentar. Keliling-keliling, foto-foto, lalu bergegas pindah ke Kuta untuk liat sunset.


Tapi di tengah jalan ternyata mampir dulu ke Khrisna, pusat oleh-oleh Bali. Ga punya duit mau beli oleh-oleh, tapi tetep aja aku belanja, naluri emang yaaa.


Capcus Pantai Kuta ngelewati Legian yang sering muncul di FTV-FTV itu, dan ternyata ga keburu liat sunsetnya. Bermalam di pantai Kuta, ditemani air laut yang semakin malam semakin pasang kami menghabiskan malam dengan bermain kartu dengan hukuman dipoles bedak di muka, kecuali Ricky dan Saleh yang tertidur beberapa meter dari kami. Aku? sibuk dengan pasir yang ga pernah berbentuk, dan tiba-tiba Ihsan teriak air tanpa do something, jadilah pasang pantai menyapu tempat kami berkumpul, semua basah, termasuk hape aku yang sampai sekarang efeknya masih berbekas: lemot, lampunya kedap-kedip mulu, suara jadi gember -_-.
Air semakin malam semakin pasang, kejahilan pun ikut-ikutan pasang, kami berniat ngerjain Ricky dan Saleh biar kaget terkena air pasang. Beruntungnya mereka berdua ini ya tidur di tempat yang agak tinggi jadi air pasangnya susah banget nyentuh mereka. Hampir aja mereka dibangunin ibu-ibu yang lagi menikmati pantai Kuta juga. Saleh ternyata kebangun, tinggallah Ricky yang masih pulas dininabobokan angin pantai. Ga sabaran, jadi kaki Ricky disiram Eno dengan air, terus teriak “Ky, ombak Ky, Ombak”. Ricky yang kaget langsung buru-buru lari, dan ya “mission, completed” hahaha..

Lalu aku, Waqif, Aden, dan Iqbal ke toilet untuk wudhu, aku paksain mandi sih walau udah malem karena udah dua hari ga mandi, maaf ya nunggu lama teman-teman. Balik ke rombongan, kok ga nemu-nemu ya, bolak balik ternyata  mereka udah tenang tidur mentok sampai ke tembok dekat jalan, entah Alloh sepertinya selalu berbaik hati dalam perjalanan ini, semua dimudahkan, termasuk malam ini, kami tidur di pinggir pantai beratap langit tanpa hujan. Paginya Roman marah-marah, kesel ga dibangunin jam 12 malam sama Ricky, rencananya mereka mau jalan ke Legian. Padahal aku belum tidur jam segitu, tapi aku ga tau kalo dia minta bangunin. Emang ga diijinin kayaknya sama Alloh, soalnya kata temenku malamnya Legian itu “mengerikan”.

14 Januari 2013,
Selamat pagi Kuta, aku memutuskan berjalan di pinggir pantai menghabiskan pagi. Beberapa orang mandi, beberapa berselancar, beberapa lari pagi, beberapa jalan pagi kayak aku, bedanya dia sama suaminya, romantis.
Jalan berbalik arah, ga kerasa nyampe lagi dirombongan dan ternyata bang Andi udah balik.  Sebelum berpisah dengan Kuta mereka bermain dengan air lagi, menyewa dua papan selancar (katanya hemat?). Ihsan dan Eno pertama kali mencoba berselancar, bukan bukan,  bukan berselancar tapi berenang memeluk papan selancar (y). Kami sebagai penonton di pantai sangat menikmati mentertawakan mereka (padahal sama tidak bisanya :D).Setelah ga berhasil untuk menaklukkan papan selancar, gantian Roman dan Saleh yang mencoba. Ricky bilang “Roman nih bisa, jago dia”. Akhirnya ada juga diantara kami yang bisa berselancar kayak Bli-bli Bali di pantai sana yang keren bisa naklukin ombak dengan papan selancarnya. Sibuk mentertawakan mereka, tiba-tiba Roman melambaikan tangan, ternyata eh ternyata dia kecapekan dan sudah cukup jauh dari pantai. Panik, jujur takut tapi bukan aku kalo keliatan panik tetep stay cool duduk di tempat tapi ga pake ketawa lagi. Waqif sama Ihsan yang sibuk minta bantuan, ketakutanku sedikit mereda gara-gara liat Saleh yang masih asik berenang, jadi mikir “oh, ini bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan ternyata”. Roman sampai ke tepi pantai dengan bantuan mas-mas pemilik papan selancar. Utuh 100%, dengan dada dan perut memerah akibat bergesekan dengan papan selancar.  Dan kami, apalagi selain mentertawakannya. Hahahaha...

Time to say good bye to Bali, Kami berjalan dari Kuta menuju Legian sekitar 11.30 WITA. Panas ya ternyatah dan jauh, di tengah Legian istirahat sebentar, ngeliat tempat sholat. Mampir dulu untuk sholat, benar-benar harus disebut tempat sholat, bukan mushola atopun masjid, hanya tempat datar bagian dari tangga bangunan pertokoan. Dan harus memaklumi, ini Bali bukan Bogor, yang penting bisa sholat.
Lanjut naik Taxi menuju terminal Ubung, di sini kami tinggal berdelapan, Saleh harus naik pesawat menuju Jakarta karena sudah terlalu lama meliburkan diri dari pekerjaannya. Sampai di terminal, beuh, akhirnya merasakan juga jadi artis, dikerubungi banyak orang, bedanya ini kita dikerubungi calo, sumpah ini terminal termenakutkan yang pernah aku datengin. Apalagi kami datang rame-rame dan bawa tas gede-gede, dikira mau perjalanan jauh. Untungnya semua barang udah benar-benar dikemas rapih dan dipegang masing-masing jadi ga berceceran dan ga bisa seenaknya ditarik-tarik calo. Tetep aja Waqif yang terlalu protektif sampai-sampai rebutan tas, eh ternyata rebutannya dengan Ihsan :D. Dan sebelum berangkat kami melihat lagi lelaki penderita ayan yang kami temui beberapa hari lalu, saat itu yang ada di otak aku “oh, orang itu ada di sini juga, ngikut bus kali ya biar sampai di sini”, dan ternyata ini terminal yang sama waktu aku ketemu dia pertama kali -_- (baru tahu)
Buat yang mau berpergian via Terminal Ubung ini harus benar-benar hati-hati ya, pastikan bus apa yang mau dinaiki dan ga usah berbicara apapun, langsung naik bus yang dituju biar terhindar dari calo ini. Kami aja yang udah naik bus masih dipaksa untuk membayar tiket Rp.5000 lebih mahal dari seharusnya. Untung ada tujuh ganteng ini kalo ga pasti sudah kurelakan dengan cepat nasib di tangan calo :nyengir.
Pelabuhan Gilimanuk, malam hari menuju pulau Jawa. Bali serasa mimpi ini berakhir  hari ini. Rada kesel dengan tas yang basah semua, kehujanan di atas bus tanpa pelindung. Baru ganti rok terus ganti lagi, tau gitu ga usah ganti, errggggh...
Welcome Java, tidur di stasiun malam ini, Stasiun Banyuwangi Baru. 


15 Januari 2013
Bangun pagi-pagi beli tiket menuju Yogya, ga berniat jalan-jalan ke Yogya sih, cuma berhubung tiket Surabaya – Jakarta habis, jadi kita milih ke Yogya dengan harapan kalopun ga dapat tiket kereta menuju Jakarta setidaknya kita lebih dekat dengan Jakarta daripada kalo kita di Surabaya. Dan huwaw, ternyata perjalanannya cukup panjang 13.5 jam, tapi dengan mereka perjalanan bisa dinikmati. Ini manusia bilangnya ga punya uang, tapi apa-apa yang lewat dibeli: keripik pisang, kerupuk kentang, salak, nangka, nasi pecel, nasi kuning, pisang, kacang, kedawung, untung ga punya duit buat beli yang jualnya juga -_-
Surabaya, kami berpisah dengan Waqif di sini, dia turun untuk melanjutkan perjalanan menuju kampung halamannya, Lamongan.
Selamat malam Yogya berhati nyaman. Alloh mempertemukan kita kali ini tanpa rencana sedikitpun dariku. Ini tahun ketiga kita bertemu di Januari, dan Januari kali ini benar-benar spesial dalam Petualangan Sembilan, unpredictable journey. Ada Yogya, selalu ada sahabat, tetangga, juga teman dari SD satu ini, Umi Sholihah. Numpang mandi juga menjarah bajunya karena aku kehabisan harta benda jiwa raga, #halah.
Malam ini kami habiskan sedikit mengelilingi Yogya sebelum melanjutkan perjalanan besok hari. Tugu Yogya, Kopi Jos, 0 km Yogya, dan Alun-alun Kidul (selatan) kami singgahi.
Tugu Yogya yang merupakan Tugu di tengah-tengah jalan raya ini dikira Ihsan tempat nongkrong biasa, dan dia kaget waktu diklakson mobil, untung ga ditabrak -_-.
Jalan menuju kopi Joss untuk ngisi perut, satu yang selalu ga ketinggalan kalo ke angkringan: susu jahe :9. Ini makan termahal selama perjalanan kayaknya, hampir Rp.20000 abisnya, biasanya kan ga nyampe Rp.10000.
Ngelewati Malioboro yang sepi, beberapa kedai yang buka di pinggir jalan, dan sampai ke 0 km Yogya. Ini tempat adalah tempat yang ga pernah tidur, selalu ramai, terutama saat malam mulai menyapa,  anak-anak muda selalu menjadikan tempat ini tongkrongan, sekedar ngobrol sampai hunting poto.
Lanjut ke Alkid, nah di sini mereka menjajal untuk melewati beringin kembar yang konon KATANYA kalo bisa ngelewati doanya bakal terkabul. Aku sih malas, udah pernah gagal soalnya -_-, becek pula di tengah beringinnya.
“Ah lebar gitu kok”, celetuk Eno dan Ihsan, talk less do more ya ganteng. Waktu nyoba, Eno dan Ihsan gagal, nyoba lagi gagal lagi, nyoba lagi gagal lagi, cuma Aden yang lurus-lurus aja ngelewatinya. Tapi ya tapi, Ihsan Ricky nyoba berdua yang awalnya Ihsan ke kanan, Ricky ke kiri bersatu jadi bisa ngelewati beringin kembar itu, kok bisa ya? :bingung, so sweet ngets. 

Sudah terlalu larut dan serius itu di motor nahan kantuk banget, untung ga jatoh. Bermalam di basecamp Biolaska UIN Yogya.
16 Januari 2013,
Akhirnya jadi juga ke Jakarta dengan Kereta Jam 16.10 dianterin anak-anak Biolaska UIN Yogya.


calonya kebangetan, harga Rp.35000 jadi Rp.100000. Mbook ya jangan kebangetan kalo ambil untung, masak lebih dari 100% untungnya, kebangetan lagi sebenarnya yang mau beli tiketnya sih ya -_-. Duduknya mencar lagi, tapi kita tetap ngumpul dan akhirnya bisa duduk satu tempat, minta tukeran dengan penumpang lain. Kami tinggal berenam sekarang, Aden berangkat sejam setelah kami dengan kereta tujuan Bandung.
Sudah tenang-tenang duduk, ngeliat Ihsan ngeluarin tiket dan KTP jadi mikir KTPku tadi ditaroh dimana abis pemeriksaan. Belom pegang dompet, ga ngerasa masukin apapun juga ke tas, panik (tapi tetep berusaha tenang) nyari keluar kereta siapa tau ketinggalan ato jatoh, sampe Ihsan balik ke meja pemeriksaan, ibu-ibu penjual nasi pun ikut-ikut kepo. Balik lagi ke kursi dan ternyata KTPku di Ricky. Dasar siaaaal!!!!!
Karena malam, perjalanan ini lebih banyak diabisin buat tidur, dan ini serius demi apapun terlalu sempit. Eno Ricky ngalah buat tidur di bawah kursi, jadilah kaki bisa selonjoran :D. Tapi ternyata Ricky ga betah dan digantiin Iqbal. 


17 Januari 2013,
Pasar Senen , Dini hari. Sempat selisih pendapat dengan Ricky gara-gara dia mau langsung naik minibus dan angkot untuk ke Bogor, sedangkan kita lebih milih untuk nunggu kereta menuju Bogor jam 06 pagi ini. Tapi tiba-tiba hujan deras, dan Ricky kembali ke rombongan. Kereta baru datang sekitar setengah tujuh, sampe Kemayoran, balik lagi ke Pasar Senen, dan dianterin ke Jatinegara. Ealah, bukannya makin deket malah makin jauh ini. Hari ini, ternyata banjir besar-besaran terjadi di Jakarta, jadilah kami harus terjebak di stasiun berjam-jam. Baru mau jajan, ternyata di jalur sebrang ada kereta menuju Manggarai. Okeh, jajan batal, kita lanjut perjalanan. Manggarai lanjut Depok, Depok lanjut Bogor, dan kita sampai Bogor jam satu siang, perjalanan yang lama ternyata -_-. Sewa angkot menuju kosan, terpaksa harus mampir ke Bandhitos dulu gara-gara kunci kosan ada di sana. Sambutan dari mereka: kami “putihan”.
Ini adalah akhir dari petualangan yang unpredictable ini, tapi aku harap bukan perjalanan terakhir kami bersembilan, apalagi perjalanan terakhir untuk melihat indahnya kehidupan dari sisi lain. Dua hari aku habiskan untuk istirahat total, pegal sekali. 
Ada yang berubah dari aku setelah pulang dari perjalanan ini,
Ok, list negatifnya:
1.    Males mandi, sehari satu hari.
2.    Makan jadi un-controlled, apa aja diembat, biasanya ga pernah ngemil lagi sekarang masak pernah sehari ngabisin 200g keripik pisang (aaaaaahhhhh, parah ini), asupan nasi bertambah 2 kali lipat setiap makan, biasanya sehari makan pake nasi sekali cukup sekarang harus 3 kali, tiap hari tiada hari tanpa gorengan -_-. Rasanya itu kayak orang nguli semingguan dan sekarang balas dendam makannya, padahal selama perjalanan makanan berkecukupan dan terkontrol.
3.    Ibadah keganggu: sholat yang biasa tepat waktu jadi agak males-malesan gara2 keseringan dijamak. Baca Al Quran juga gitu: sudah bisa tiap sholat lagi tapi porsinya jadi berkurang, target kali ini ga akan tercapai ini :’(. Shaum senin kamis pun sudah terlewatkan tiga kali. Harus berjuang kembali ini!!!
4.    Siklus menstruasi pun ikut-ikutan bermasalah, baru tanggal delapan sebelum berangkat selese, ini udah dapet lagi. Ini pertama kalinya selama hidup sebulan dua kali menstruasi, benar-benar kecapekan kayaknya. Sebelum otw Tangerang sih ngerasa perut rada mules-mules halangan, tapi dengan pede bilang ga mungkin, ternyata memang benar kalimat klasik ini ”Ga ada yang ga mungkin kalau Alloh bilang iya”.
Positif dan yang bisa kudapat:
1.    Jadi hemat baju, biasa sehari dua kali  ganti baju, sekarang jadi lebih menghargai baju bersih, asal ga bau tetep aja dipakai. Ini bibi cuci pasti cinta sama aku, kata Eno “baju kering itu, layak pakai”
2.    New spirit for my life, berasa masalah yang ada sebelum berangkat itu jadi bukan apa-apa. Ada perasaan baru dihidup yang buat hidup jadi lebih santai.
3.    Hal yang direncanakan, sesempurna apapun tetap Alloh yang kuasa memutuskannya. Jangan ngeluh, terima aja pasti akan ada gantinya. Lihat betapa kecewa waktu ga jadi liat Ranu Kumbolo yang indahnya kebangetan dan puncak tertinggi Mahameru yang rasa-rasa ada kebanggaan tersendiri sampai di sana. Semua ternyata toh digantikan dengan perjalanan menyenangkan yang unpredictable ini. Mungkin akan ada hal yang mengerikan didepan sana kalau kami jadi mendaki Semeru, sampai-sampai harus Semeru ditutup kurang dari 24 jam sebelum kami mendaki. Kata Ihsan ‘jangan menantang alam, nikmati perjalanan dengan tadabbur”.
4.    Jangan nilai orang kalo kamu ga kenal sama sekali. Bener kata temenku, perjalanan bareng itu membuat kamu tahu siapa teman kamu. Bertahun-tahun kenal, kalo bertemu sehari cuma beberapa jam ga bikin kamu tahu siapa dia, tapi kalo bareng-bareng 24 jam, kamu akan tahu personality dari teman kamu dari hal sepele sampai detil.
5.    Takdir Alloh, sedetik dari sekarang ga akan ada yang tahu, aku mana tahu kalo 12 Januari 2013 hari pertamaku menginjakkan Bali, aku mana tahu ke Bali bersama delapan temanku ini dalam moment ini, aku mana tahu kalo Januari ini melihat Yogya lagi. Tapi Alloh pasti tahu, dan rencananya pasti yang terbaik dan terindah.
6.    Kalo bersama itu semua jadi menyenangkan: perjalanan serasa sebentar, tidur dimana aja ok, makan apa aja juga ok, dan hemat ;-)
7.    Jadilah backpacker, dan temukan sisi lain dari dunia yang menyenangkan ini.
8.    Jiwa ngebolang aku bangkit lagi, pernah naik bus sendirian dari Bogor sampai Jambi biar ngerasain mandiri tanpa orang dikenal, pernah juga ngelilingi Bandung waktu benar-benar buta Bandung karena belum pernah sama sekali ke sana: cuma ngandelin angkot, sudah sampai di terminal akhir – turun naik lagi angkot jurusan sama, hal hasil nyasar di Cibaduyut, angkotnya ga balik lagi, untung selamat sampai tujuan :D. Sekarang jadi tertarik ngebolang ke seluruh Indonesia.
9.    Nah berhubung sudah banyak positif dari negatifnya, berarti perjalanan ini berdampak positif (+)
Kurangnya dari perjalanan ini, ga ngerasain tidur di tenda, ga ngerasain minimnya ada makanan: lapar langsung beli, padahal udah bawa beras dari Pasar Tumpang, gas udah bawa lima tabung yang kepake cuma dua dan itupun ga abis (kurang prihatin memang) jadi ketahanmalangannya ga terlalu dapet :D

Petualangan ini selesai. Sedih? Bukan semacam sedih sih, tapi ada sesuatu yang hilang, kebayang kan mau makan ngeliat muka mereka, mau BAB ngeliat muka mereka, mau tidur ngeliat muka mereka, mau sholat ngeliat muka mereka, sehari 24 jam bareng mereka semingguan ini, dan sekarang apa, kalian menghilang, 0 x 24 jam bersama kalian. Ketemu satu-satupun ga bakal kerasa lengkap. Kangen kata-kata yang menemani perjalanan kita: “sumpah ya, mulut lu bau banget!”, “Enak ya? Mau nambah?”, "Selepet", "Egois, ya". Satu lagi don’t call me Missrem!! Aku ga rempong kok, serius -_-.
Sekarang aku terduduk di sini, menyelesaikan tulisan ini, tidak bagus mungkin cara penulisannya, aku cuma mau flashback kenangan bersama delapan teman hebatku ini. Ya, actually aku kangen kalian, merindukan kebersamaan yang lalu, sampe kebawa mimpi malah. Kalo boleh memilih aku ingin tetap berada dalam perjalanan petualangan sembilan ini, tapi hidup ini kenyataan yang penuh tanggung jawab. Mari kembali ke dunia nyata, kanjutkan hidup kawan. 
Buat Ihsan, Eno, Waqif selamat mencari kerja, semoga dipertemukan dengan yang terbaik!. Oh ya, Waqif kan mau S2 ya.
Buat Ricky, Iqbal semangat buat penelitiannya, cepet selese! Aku bantuin kalo butuh bantuan.
Buat Saleh selamat bekerja!
Buat Roman selamat revisi, cepat kelar, jangan sampe ngulang sidang!
Buat Aden (eh, aku ga tau dia sekarang ngapain) sukses dah!
Maaf ya Waqif, Ihsan, Ricky, Saleh, Iqbal yang selalu aku titip-titipin kepala sapi, peralatan mandi, dompet, kacamata, sepatu, sandal. Lain kali bakal dikompres deh bawaannya biar muat satu carrier.
Terimakasih atas perjalanan yang unpredictable ini, petualangan sembilan: sembilan hati, sembilan hari, start ditanggal sembilan. You will be in my heart ({}). Dari dinginnya gunung yang bikin bibir perih ke panasnya pantai yang bikin muka gosong, dari tempat 2440 mdpl ke 0 mdpl.
Bromo, Backpacker, Bali, Malang, Yogya, Gunung, Pantai, seperti keywords dalam skripsi yang akan selalu memunculkan nama kalian diingatan.